***
Stasiun terakhir untuk hari ini, Belogorsk. Matahari baru saja terbenam dan tersisa setidaknya 7.900 kilometer lagi untuk sampai di Moscow. Makan, tidur, duduk hanya itu yang mereka lakukan sampai matahari terbenam. Sampai ketika matahari terbenam dan kereta berhenti Lisa melompat turun dari ranjangnya. Ia berdiri di antara ranjang Sungkyung dan Jiwon, berjinjit untuk membangunkan Mino di ranjangnya— yang tidur di atas Sungkyung.
"Aku heran mereka semua mengaku insomnia tapi lihat sudah berapa jam mereka tidur? Kalau semua rekamannya ditayangkan, acaranya akan didominasi suara dengkuran," kata Lisa, kepada kamera di sebelah kepala Mino. "Oppa bangun, ini stasiun terakhir kita hari ini. Sampai besok pagi kita tidak akan berhenti lagi," susulnya, menggoyang-goyangkan lengan Mino.
Gagal dengan Mino, ia membangunkan Jiyong. Namun baru disentuh sedikit saja, pria itu sudah membuka matanya. "Apa?" tanya Jiyong dengan suara serak khas seorang baru saja tidur nyenyak.
"Waktunya turun, ini stasiun terakhir hari ini," katanya memberi informasi.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam delapan."
"Bukannya aku tidur jam delapan tadi?"
"Jamnya sudah berubah lagi. Ayo turun dan hirup udara segar," ajak Lisa dan Jiyong menganggukan kepalanya.
Ada sebelas zona waktu di Rusia dan selama perjalanan mereka akan melewati tujuh zona waktu. Zona waktu yang membuat mereka selalu bingung. Sebab rasanya, mereka selalu diberi tambahan waktu untuk hidup. Seperti sekarang, jam delapan malam terulang dua kali.
Jiwon yang terakhir Lisa bangunkan. Pria itu yang paling sulit dibangunkan, jadi Lisa butuh bantuan yang lainnya untuk membangunkan Jiwon. Bisikan seram Sungkyung yang biasanya berhasil— "Oppa, bangun... Malaikat maut sudah menunggumu," bisiknya dengan suara samar yang hampir tidak terdengar. Gelitik suara yang hampir transparan itu membuat Jiwon selalu bergidik, bulu kuduknya meremang, seolah benar-benar ada hantu atau justru malaikat maut di sana.
Kereta hanya berhenti selama dua puluh menit. Sebagian penumpangnya turun, namun ada penumpang-penumpang lain yang naik. Lisa dan Sungkyung meregangkan otot-otot mereka, sedang Jiyong dan Mino merokok di tempat yang jauh dari keramaian, bersama para perokok lainnya.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Jiyong, mengomentari gerak tubuh dua wanita yang berlibur bersamanya. Lisa dan Sungkyung sedang berpegangan tangan di peron, di sebelah gerbong mereka. Keduanya berpegangan tangan dengan kedua tangan mereka, lalu berjongkok bersama. Berjongkok kemudian berdiri lagi, berjongkok lagi dan berdiri lagi. "Kenapa mereka berolahraga di sana?" susulnya, heran karena kedua wanita itu tidak terlihat malu meski di tonton beberapa anak kecil. Sebagian dari anak-anak kecil itu bahkan mengikuti mereka, seolah di sana ada sebuah peragaan olahraga gratis, di depan umum.
"Ada yang lebih aneh dari mereka," komentar Mino, yang kemudian menunjuk Jiwon dengan ujung jarinya.
Tidak jauh dari peron ada sebuah stan penjual camilan dan Jiwon berdiri di depannya. Pria itu berdiri jauh dari kerumunan pelanggan stan camilan itu, memperhatikan orang-orang yang mengantri dan sesekali memeriksa isi tasnya. Ada uang mereka di dalam tasnya.
Jiwon ingin sekaleng kopi dingin. Ingin sekali namun merasa kalau mereka harus berhemat. Ia tidak tahu sebanyak apa uang yang harus mereka keluarkan saat tiba di Moscow nanti, ia harus berhemat sebanyak yang ia bisa. Sedang Jiwon bimbang sendirian di depan stan makanan dan dua pria lainnya sibuk membicarakan kebimbangannya, Lisa bersama Sungkyung justru sibuk bertaruh.
"Kau boleh menamparku kalau Jiwon oppa tidak jadi belanja, aku yakin dia akan membeli sesuatu di sana," Sungkyung berucap, begitu yakin dengan tebakannya sedang Lisa justru sebaliknya. Lisa tidak yakin kalau Jiwon akan berbelanja— dia terlalu lama berfikir. Pria itu akan berdiri di sana sampai keretanya harus berangkat nanti— yakin Lisa.
Lama berdiri di depan stan camilan itu, Jiwon akhirnya mundur. Ia hampiri Lisa dan Sungkyung yang sekarang saling memunggungi, bergantian mengangkat satu sama lain untuk meregangkan otot punggung mereka. "Kalian mau kopi?" tanya Jiwon begitu datang.
"Kita punya kopi," jawab Sungkyung. "Biji kopi premium, sangat mahal dan sudah digiling sempurna milik G Dragon," susulnya, seolah sedang mengiklankan segelas kopi kemasan.
"Maksudku kopi dingin. Kalian tidak rindu kopi dingin?"
"Tidak terlalu merindukannya. Aku lebih rindu yang lainnya," geleng Lisa, tanpa berhenti mengangkat Sungkyung di punggungnya. Entah berapa set olahraga yang mereka lakukan, tidak seorang pun menghitungnya.
"Seungyoon?" balas Jiwon, membuat Sungkyung yang harusnya mengangkat Lisa langsung membulatkan matanya.
"Kenapa dia merindukan Seungyoon? Kenapa kau merindukan Seungyoon?" tanya Sungkyung, dengan wajah jahil siap menggoda, siap mengejek. Lisa mendesah sebal, membuat Jiwon terkekeh kemudian meninggalkan dua gadis itu. Ini adalah serangan balasan untuk kata-kata Lisa di restoran kereta siang tadi.
Mengabaikan keluhan Lisa, juga ejekan Sungkyung pada gadis itu, Jiwon menghampiri Jiyong dan Mino. Ia mengajukan pertanyaan yang sama— kalian mau kopi dingin?— dan jawaban yang ia dapatkan pun tetap sama. Tidak seorang pun merindukan kopi dingin. Tidak seorang pun ingin kopi dingin.
"Beli saja hyung," yakin Jiyong. "Harga kopi dingin tidak akan terlalu mahal, beli saja," susulnya, meyakinkan Jiwon untuk segera mengakhiri rasa bimbangnya.
Jiwon akhirnya membeli kopi itu. Ia mendapatkan kopinya tepat setelah kondektur kereta menyuruh mereka semua untuk kembali masuk ke dalam gerbong. Lisa dan Sungkyung sudah lebih dulu duduk di kursi, di bawah ranjang Lisa. Jiyong duduk di ranjang Sungkyung dan Mino sudah naik ke ranjangnya sendiri.
"Waktunya tidur," senang Mino yang sudah tidur sepanjang siang tadi.
"Sebelum berangkat dia merencanakan banyak hal. Ingin bermain ini dan itu di kereta, tapi lihat dia sekarang, dia berbaring begitu kena ranjangnya," komentar Jiyong, setengah berbaring sembari bersandar ke dinding.
"Kemarin, telingaku sampai berdarah mendengarkan semua game yang ingin Mino oppa mainkan di kereta," balas Lisa, menatap iba pada Mino yang tulang punggungnya sekarang tidak bisa bertahan untuk duduk sedikit lebih lama.
"Lihat penumpang lainnya, tidak realistis kalau kita terlalu banyak bermain. Kita akan menganggu penumpang lain yang sedang beristirahat," Mino membela dirinya sendiri, sembari berbaring miring mengintip lawan bicaranya di bawah. "Tapi, kenapa Jiwon hyung lama sekali membeli kopinya? Dia bisa di tinggal kereta," tanyanya, meski tahu kalau Jiwon tidak akan ketinggalan kereta. Konduktor yang tadi berdiri di depan gerbong pasti akan menyeret Jiwon masuk sebelum keretanya mulai bergerak.
"Oh! Jiwon oppa datang!" seru Lisa, memperhatikan tangan Jiwon yang membawa sekaleng kopi. "Yah... Aku kalah," katanya, yang kalah bertaruh dan harus menerima hukumannya. Sungkyung tersenyum senang saat menyadari dirinya berhasil memenangkan taruhan kecil itu.
Lisa ditampar Sungkyung. Hanya sebuah tamparan pelan yang tidak begitu menarik, sebab wajah Jiwon yang baru datang lah yang lebih menarik. Pria itu tidak terlihat senang, cenderung kecewa padahal sudah mendapatkan sekaleng kopi yang diinginkannya. Ia datang dan duduk di ranjangnya sembari menghela nafasnya, menyesap sedikit kopinya kemudian menghela lagi nafasnya.
"Aku salah membeli kopi, ini kopi hangat dan tidak ada waktu untuk menukarnya," rengek Jiwon, setelah Jiyong bertanya apa yang terjadi. Dan tentu saja, ia ditertawakan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Trans Siberian Pathfinders (YG's Version)
Hayran KurguK-Ocean Pathfinder YG's Version Season 2.
