Song recommendation:
♬ Victon - Mayday
***
Semuanya berjalan lancar, pemilu ini terlaksana pertama kalinya di Red District dengan suasana kondusif. Tidak ada keributan, warga yang meninggali tempat ini nampak patuh. Alex memperhatikan setiap inci kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga di siang hari, tepat di mana mereka mulai menghitung suara. Rimu juga sudah memberikan hak suaranya namun memilih untuk pergi dan menyerahkan segalanya pada Alex. Sebenarnya Alex cukup jengah, namun untuk memancing amarah Rimu tentu saja Alex enggan. Tidak mungkin kan mereka semua akan melihat betapa membabi buta Rimu saat sedang mengamuk?
Lexa dan Bobby juga berada tak jauh darinya. Gadis itu bahkan tidak berani mendekat pada Rimu tadi, karena melihat suasana hatinya yang buruk. Tidak biasanya Lexa menjadi gadis penakut, dan bukan menjadi Lexa yang liar seperti biasanya. Bobby sendiri sampai heran di buatnya.
Para petugas itu mulai mengangkat lima kotak suara dan membawanya ke sisi yang lain. Petugas lainnya sudah mengeluarkan kunci, kemudian membuka gembok yang mengunci kotak ini hingga kertas suara yang ada di dalamnya mulai menyembul keluar. Alex memperhatikan dengan seksama, begitu juga Lexa dan Bobby.
Penghitungannya masih manual, menggunakan papan board dan spidol. Petugas lainnya mengeluarkan satu buah kertas yang di ambilnya acak, lalu membukanya.
"Nomor urut satu, Pramudya Alatas."
Petugas lainnya mendokumentasikan hal ini dan petugas yang lainnya lagi mencatat di papan board.
"Nomor urut satu, Pramudya Alatas."
Alex nampak puas melihatnya, sejauh ini belum ada satu kesalahan apapun yang tercipta. Semua sudah di berikan arahan sejak semalam. Karena kemenangan Pramudya Alatas di atas segalanya sekarang.
"Nomor urut satu, Pramudya Alatas."
Lagi-lagi petugas menyebutkan nama itu berulang kali hingga hampir separuh papan sudah mencatatkan kemenangan pria tua itu. Sampai manik Alex memandang curiga saat petugas memicing aneh melihat kertas suara dalam genggamannya.
"Nomor urut dua, Feriansyah Nugroho."
Manik Alex membulat, diikuti juga dengan Lexa dan Bobby serta anggota Redline lainnya. Mau tidak mau Alex jadi maju ke tempat si petugas, dan mengambil paksa kertas suara itu dari tangannya. Maniknya benar-benar di buat membulat sekali lagi saat melihat kertas itu, benar-benar di coblos di nomor urut dua.
Wah, siapa yang mencoba membuat kemarahan Rimu mengudara?
Alex mulai mencari-cari sesuatu sampai menemukan di ujung kertas suara, terdapat nama yang sengaja di tulis di sana, Kinara. Dahinya berkerut samar karena merasa nama ini sangatlah tidak asing.
"Boleh saya melanjutkan pekerjaan saya, Mas?"
Pertanyaan si petugas di sampingnya membuyarkan segala spekulasinya. Alex mengangguk. "Silahkan," katanya, lalu menyingkir sambil membawa kertas itu di tangannya. Lexa dan Bobby terlihat resah.
"Kok bisa?" tanya Bobby dengan suara pelan. "Siapa yang berani kayak gini ke kita?"
Alex diam sebentar, mencoba mencari kalimat yang tepat sekalipun kata itu sama sekali tak ingin keluar dari benaknya. Alex sekarang menatap Bobby dan Lexa bergantian.
"Nyokapnya Rimu."
Jawaban singkatnya membuat manik Lexa dan Bobby membulat dan saling berpandangan heran.
KAMU SEDANG MEMBACA
- REDLINE - [END]
Fiksi RemajaBagi Riana si mahasiswi yang terpaksa mengulang satu mata kuliah, hidup itu sederhana. Bisa makan makanan kesukaan, tidur dengan nyenyak, mendengarkan musik sepanjang hari dan berkeliling kota menaiki KRL sampai stasiun pemberhentian terakhir. Nam...
![- REDLINE - [END]](https://img.wattpad.com/cover/279932451-64-k611639.jpg)