13 Misunderstanding - PB

147 28 8
                                        

PEMBUKAAN

Halo semuanya! Ini postingan pertama di tahun 2022

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Halo semuanya!
Ini postingan pertama di tahun 2022.

Wish nya yang baik-baik semoga cepat terkabul ya...
Tetap semangat untuk menjalani hari berikutnya walau mungkin berat.

Semoga cerita Pacar Bayaran ini bisa sedikit menghibur hari kalian.

~ Happy reading and enjoy ~

••

Entah kapan Feana terbangun, Navara tampak kaget begitu membuka mata, ternyata yang ia peluk adalah Takanael. Dan yang lebih menyebalkan lagi, Takanael juga ikut memeluknya. Bahkan, satu tangan Takanael lainnya seakan menjadi bantal karena berada di bawah leher gadis itu.

Navara ingin menjauh, namun tangan Takanael terlalu berat untuk dipindahkan. Membuat Navara akhirnya menahan hidung Takanael cukup lama, sampai Takanael kesulitan bernafas dan akhirnya bangun.

“Sayang, kamu apa-apaan sih?!” amuk Takanael yang membuat Navara heran.

Baru bangun kok bisa langsung akting jadi pacar?

“Kamu yang apa-apaan? Kenapa kita jadi pelukan gini sih? Kamu bangunin Feana terus suruh dia pindah ke kamar lain kan?” balas Navara kesal. Ia lantas mencubit tangan Takanael dan akhirnya terbebas dari lilitan tangan laki-laki itu.

“Dih, kok nuduh begitu? Kamu duluan kali yang tadi meluk aku pas tidur. Aku aja gak tahu kapan Feana bangun. Kemana lagi tuh anak sekarang?” Takanael mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan. Matanya dipaksa terbuka untuk mencari keberadaan Feana.

Navara duduk di pinggiran kasur. Mengucek matanya beberapa kali, sambil menunggu beberapa waktu sampai tubuhnya siap untuk berdiri. Navara tidak mau kejadian buruk seperti dulu terjadi. Navara pernah baru bangun tidur dan langsung berdiri karena kesiangan. Baru ingin mengambil langkah pertama, tubuhnya malah limbung dan membuat Navara pingsan di tempat.

“Va...” panggil Takanael dengan suara serak.

“Apaan?” Navara menyahut pelan dengan mata yang belum ingin terbuka sepenuhnya.

“Tidur lagi aja kenapa sih, Va. Mama juga belum turun. Mau peluk lagiiii.” Takanael hendak menarik tangan Navara namun ditepis cepat. Bukannya mendapat peluk, Takanael malah dihadiahi pukulan di tangannya.

“Gak usah modus mulu kenapa sih. Lagi lo kenapa gak tidur di kamar sendiri coba?!” omel Navara, kemudian beranjak dari tempat tidur. Sementara Takanael masih gumam-gumam tidak jelas, lalu duduk memperhatikan Navara yang sedang menyisir rambutnya.

“Masih cantik elah. Gak usah sisiran segala,” celetuk Takanael.

“Ah udah diem. Gue gak suka ya, lo modus-modus meluk gitu pas gue tidur. Gue lagi gak sadar, Taka. Harusnya lo juga tahu.” Navara masih sangat kesal. Ia hanya takut ketidaksadarannya itu bisa menjadi kesempatan yang mungkin saja diambil oleh Takanael.

Pacar BayaranCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang