28 Can't hold the tears - PB

138 23 32
                                        

Haiii!

Terima kasih untuk yang menunggu cerita ini update dan selamat datang untuk yang baru menemukan cerita ini.

Maaf kalau aku belum bisa konsisten update nya.

Di sini udah mulai masuk konflik, jadi agak nyut nyut pas nulis. Aku harus ngatur mood banget. Semoga kalian suka sama ceritanya.

- Happy Reading -

"Nav, lo serius sama Helki? Kenapa lo gak cerita apapun sama gue?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nav, lo serius sama Helki? Kenapa lo gak cerita apapun sama gue?"

Juan menatap Navara tidak percaya. "Kapan lo ketemu sama dia? Kok tiba-tiba udah tunangan aja? Gila! Kenapa sih, masalah serius kayak gini lo malah diem aja? Nael juga bilang udah putus sama lo. Selama ini, lo kemana?"

"Gak kemana-mana. Gue di rumah."

"Rumah yang mana?" Juan tidak bisa menahan emosinya. Setelah mengetahui siapa ibu dari Navara, Juan seratus persen yakin kalau Navara tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Navara menatap Juan sekilas, lalu tersenyum getir. "Hehe... bukan deng, lupa, gak punya rumah." Tiga detik kemudian, Navara mengubah raut wajahnya menjadi ceria lagi, lalu mengacak rambut Juan. "Udah ah, kan, kita lagi berdua, kenapa bahas orang lain mulu?"

Juan berdecak sebal, ia lantas mengetik sesuatu pada ponselnya untuk mengabari seseorang. Juan tahu, ada yang tidak beres dengan Takanael dan Navara yang tiba-tiba berpisah. Keduanya tidak bercerita apapun setelah tidak lagi bersama. Padahal mereka terlihat begitu saling mencintai saat acara kelulusan Takanael.

Juan baru meletakkan ponselnya. Tak lama, sebuah teriakan dari meja yang berada di sudut ruangan menggema.

"Juan?! Lo lagi makan di sini juga? Join sini lah!"

Navara sontak menoleh, ternyata Aji yang berteriak dari kejauhan. Dan tatapan Navara berubah sendu karena melihat keberadaan Takanael juga di sana.

Juan dengan santainya menarik tangan Navara, membawa gadis itu untuk berpindah tempat. Mereka duduk di meja yang sama. Navara berhadapan langsung dengan Takanael.

Obrolan ringan itu hanya melibatkan Juan, Aji dan Navara, sementara satu orang lainnya hanyut dalam pikirannya sendiri.

Tawa Navara akhirnya terbit lagi di wajahnya. Juan dan Aji memang mampu membawa obrolan lebih seru. Bahkan saking gemasnya, Juan sampai mencubit pipi Navara, tanpa peduli bahwa ada yang memperhatikan sejak tadi.

Takanael menatap Navara serius dan mengambil tangan gadis itu tiba-tiba. "Kayaknya kita perlu bicara." Takanael membawa Navara agak jauh, agar obrolan mereka tidak terdengar oleh temannya.

"Mau ngomong apa?" tanya Navara dengan nada yang dibuat sedingin mungkin.

"Gue gak ngerti sama lo, Va. Secepat itu lo- arrghhhh!" Takanael menarik tangan Navara lalu menunjuk cincin yang tersemat di jari manis Navara. "Lo udah tunangan sama cowok, tapi Juan deket ke elo kayak gitu lo diem aja? Mikir Navara! Harusnya lo kalau udah jadi punya orang, gak usah kegatelan sama cowok lain! Lo harusnya tau batasan!"

Pacar BayaranCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang