Another story 04

530 51 2
                                        

3 tahun kemudian

Yunji sedang menangis dihadapan Haerin yang juga sedang menangis sesenggukan didepannya.

"Haerin kenapa nangis teruuuus? Hiks" ucap Yunji sambil terus menangis.

"Huwaaa Huwaaaaaa" Haerin pun semakin menagis melihat ibunya menangis.

"Huwaaaa. Mama capek nak pengen tidur, kamu kenapa sih nangis terus?" ucap Yunji mulai sebal karena Haerin tak kunjung diam, diberi susu tidak mau, digendong tidak mau dan akhirnya Yunji meletakan Haerin di kasur lipat mereka.

Yunji mengatur nafasnya dan mulai menenangkan dirinya sambil terus melihat Haerin yang masih menangis.

TOK TOK TOK

Yunji sedikit terkejut mendengar ketukan pintu kamar mereka yang cukup keras. Yunji buru-buru berdiri dan membuka pintu kamarnya.

"Berisik banget ya ampun. Bisa nggak sih ngurus anak, ganggu tau ga? Ini udah jam berapa? Kamu pikir orang-orang ga butuh istirahat? Susah emang kalau punya anak keterbelakangan begitu" Tetangga kos Yunji yang sedari tadi terganggu mendengar tangisan Haerin memarahi Yunji karena sebagai ibu dirinya tidak bisa membuat anaknya sendiri diam.

Yunji terus membungkuk dan meminta maaf kepada wanita muda didepannya ini "Maaf saya minya maaf"

"Kalo masih berisik saya laporin ke pemilik kos biar diusir aja sekalian" setelah mengatakan itu tentangga kos itupun pergi.

Yunji kembali melihat Haerin yang masih saja menangis meskipun tidak separah tadi. Yunji memakaikan pakaian tebal untuk dirinya dan Haerin lalu membawa Haerin pergi keluar kamar kos mereka.

Diluar salju sedang turun dan Yunji berjalan sambil menggendong Haerin untuk pergi berjalan kesana kemari supaya Haerin mau diam.

Balita berusia 4 tahun itu sudah mulai diam dan mendongak melihat wajah sang Mama.

Yunji merapatkan jaket miliknya dan juga milik Haerin. Kemudian masuk kedalam toserba dan membeli minuman hangat disana sambil menunggu Haerin terlelap.

Yunji duduk di salah satu bangku kosong dan melihat Haerin yang sedang melihatnya.

"Maamm Maamm" celoteh Haerin.

"Haerin laper nak?" tanya Yunji.

"Mamam Maa" jawab Haerin lagi.

Yunji tersenyum melihat Haerin. Kemudian membeli nasi instant dan juga odeng supaya bisa mendapat kuah hangat yang bisa dimakan Haerin.

Selesai membelinya Yunji mulai menyuapi Haerin perlahan. Meskipun dengan lauk odeng dan juga kuahnya saja tapi Haerin makan dengan lahap.

"Kamu laper? Makanya dari tadi nangis terus. Maafin Mama ya nak" Yunji mengecup pipi Haerin dan lanjut menyuapinya.

Haerin mengangguk dan tersenyum kepada Yunji "Mamam Mamaa Aaaaa" Haerin menunjuk bibir Yunji bermaksud menyuruh sang Mama untuk ikut makan bersamanya.

"Enggak. Mama udah kenyang" Yunji lanjut menyuapi Haerin sampai nasi itu habis tak tersisa.

Diusia ke 4 nya ini Haerin masih belum bisa lancar berbicara seperti anak seumurannya. Setelah melakukan operasi jantung beberapa tahun yang lalu keadaan Haerin mulai membaik, dan terlihat normal seperti balita seusianya meskipun untuk berbicara masih belum lancar. Tapi kata Dokter itu semua bisa sembuh asal Haerin rajin mengikuti terapi.

Selesai makan dan membersihkan mejanya.  Yunji kembali menggendong Haerin dan berjalan kembali ke kos.

Diperjalanan Haerin terlelap digendongan Yunji sambil memeluk leher sang Mama.

Yunji tersenyum melihat Haerin "Lucu banget sih anak Mama, termyata lagi kelaperan yaa. Maaf ya Mama ga ngertiin maksud kamu sayang. Semoga dengan rutin ikut terapi Haerin bisa cepet lancar ngomongnya yaa, bentar lagi kan Haerin mau masuk sekolah. Oke  nak" Yunji menciumi pipi kemerahan Haerin dengan gemas.

.

Mama Suh melihat Johnny yang tengah sibuk memainkan ponselnya di ruang keluarga sambil sesekali tersenyum. Didekatinya sang putra lalu duduk disampingnya.

"Chat sama siapa sih? Seneng banget kayaknya?" tanya Mama Suh basa-basi.

"sama siapa lagi Ma kalau bukan sama Ten"

"Ooh sama Ten" Mama Suh mengangguk paham.

"iyaaaa"

"Ohh iya Jo. Yunji sama Haerin apa kabar ya? Mama tiba-tiba kepikiran mereka" Ucap Mama Suh pelan.

Johnny melihat sang Mama dan menghela nafas "Ga tau Ma. Yunji sama sekali ga bisa dihubungin, kos nya juga pindah"

"Mama jadi ngerasa bersalah sama mereka. Terakhir mereka kesini Mama cuekin mereka dan masuk kedalam kamar. Mama malah video call sama Ten lama banget" Sesal Mama Suh mengingat beberapa tahun yang lalu Yunji membawa Haerin datang kerumah tiap akhir pekan. Tapi beberapa minggu terakhir Mama Suh jarang bahkan tidak menemui mereka. Seolah mengusir dengan cara halus.

Dan seakan mengerti dan tau diri bahwa keberadaan mereka tidak diinginkan, Yunji tidak pernah lagi datang membawa Haerin.

"Mama kepikiran gimana mereka hidup Jo. Haerin udah umur 4 tahun sekarang, bentar lagi udah harus masuk sekolah juga, Yunji juga gimana keadaannya ya. Dia masih harus rutin minum obat-obatannya kan. Mereka makan dengan baik ga yaa Jo" Mama Suh mulai menangis karena merasa bersalah.

"Maa. Mama mau aku cari mereka lagi? Tapi bulan depan aku udah nikah sama Ten. Aku juga ga mau buat Ten kecewa Ma" jawab Johnny mengingatkan.

Mama Suh mengangguk paham dan masih menangis. "Terus gimana pekerjaannya Yunji. Mama baru tau kalau Yunji dipecat sama Eomma nya Taeyong beberapa bulan setelah mereka ga pernah dateng lagi kesini"

Johnny mengusap lembut bahu dan punggu sang ibu menenangkannya, dirinya juga bingung harus berbuat apa. Dirinya memutuskan untuk menikah dengan Ten setelah kuliah mereka selesai. Dan mereka sudah mendapatkan gelar sarjana 6 bulan kemarin.

Dan beruntung nya mereka mempunyai otak yang cerdas dan langung mendapatkan pekerjaan yang bagus dan langsung memutuskan untuk menikah.

Dan Bulan depan adalah bulan yang dipilih Johnny dan Ten untuk melangsungkan pernikahan mereka.


T. B. C

BOYRIEND || BEFORE HUSBAND Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang