Part 17

167 42 7
                                        

"GUNTUR!!... FAJAR!!"

Teriakan Citra yang keras berhasil membuat seisi rumah itu berkumpul ke tempat ia berada. Mereka menatap heran Citra yang menangis tanpa tahu alasan sebenarnya.

Citra mendekati Fajar dan menangis sejadi-jadinya di dada laki-laki itu. Fajar yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa mengelus punggung gadis itu dan memberikan kata-kata untuk menenangkannya.

"Sstt, sudah menangisnya, ya? Katakan pada kami dulu apa yang sampai membuatmu seperti ini, hm?"

Fajar membenarkan anak rambut yang menutupi pipi gadis itu dan mengelap air matanya. Dia menangkup pipi seraya menatap Citra dengan sendu.

"Re-rere... Hikss... Rere, d-dia... Dia... HUAAA!!"

Tangisan Citra semakin kencang, dan Fajar yang semakin gelagapan dibuatnya. Leona menghampiri keduanya dan menepuk pundak Citra pelan. Angel dan Guntur ikut mendekat.

"Jangan menangis terus. Katakan segera kepada kami, apa yang terjadi sebenarnya? Jika kau terus menangis seperti itu dan tanpa memberitahu kami alasanmu, bagaimana kami bisa membantumu?" Ucap Leona lembut. Sesekali tanpa mereka ketahui, dia tersenyum tipis.

"Iya, Citra. Tenangkan dulu dirimu, okay? Lalu ceritakan pelan-pelan kepada kami semua di sini" bujuk Fajar pula. Dia sudah tidak tahan melihat orang yang di sukainya menangis seperti itu.

Angel inisiatif mengambilkan air putih untuk Citra agar gadis itu bisa sedikit tenang. Fajar memapah Citra untuk duduk di sofa yang ada di sana. Citra hanya diam menurut.

Dirasa Citra sudah tidak histeris seperti tadi lagi, Fajar kembali mencoba bertanya dengan pelan. Saat Citra kembali ingin menangis, Fajar dengan cepat menghiburnya.

"Re-rere menghilang! A-aku sudah mencarinya kemana-mana... Hikss... Ta-tapi, dia tidak ada... Hikss"

"Menghilang? Apa maksudmu menghilang?"

"MENGHILANG, LEONA! KAU TIDAK TAHU APA ARTINYA MENGHILANG, HAH!?"

"SUDAH HENTIKAN, CITRA!"

"Tidak apa-apa, Fajar. Aku tahu dia tidak bermaksud membentak seperti itu padaku. Dia hanya sedang syok saja, aku mengerti"

"Maafkan dia, Leona. Aku akan mencoba menjelaskan padanya dan mengatasi masalah ini"

"Aku dan Angel akan membantu kalian. Kita akan mencarinya saat Citra sudah sedikit mendingan"

"Iya, Leona. Terima kasih atas bantuanmu"

Mereka terdiam dan terlena oleh pikiran masing-masing, sekaligus juga menunggu kondisi Citra menjadi sedikit lebih tenang. Cukup lama sampai gadis itu benar-benar tenang dan memulai pembicaraan.

"Ayo... Ayo cepat cari Rere. Aku mau dia kembali sekarang juga!"

"Iya. Kita semua akan berusaha mencarinya sampai ketemu. Dia pasti baik-baik saja, atau mungkin sedang jalan-jalan di luar?"

"Tapi aku tadi sudah mencarinya di luar, di tempat yang pasti dia datangi. Namun, tetap tak menemukannya juga"

"Itu karena dirimu sedang panik. Dia mungkin sedang asyik melakukan sesuatu jadi tidak mendengarkan sekitarnya"

"Hm, kau mungkin ada benarnya juga"

Mereka berlima mulai mencari keberadaan Citra. Dari mulai dalam rumah sampai memasuki hutan dan mendatangi pantai, tetap tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya.

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat, hutan sudah menjadi gelap gulita dan suara binatang malam mulai meramaikan suasana. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.

Mystery IslandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang