✎ 24. Last Letter

319 30 0
                                        

Hanya ada dua pilihan saat kau tenggelam, naik ke atas dan mencapai permukaan, atau justru semakin tenggelam dan hilang.




















Tujuan keberangkatannya pagi-pagi ke kantor polisi sudah mantap, di mana kantor itu adalah tempat kasus diusut. Ia menemui penyidik yang menangani kasusnya, berbekal memori yang diingat saat ia menjadi arwah.

Selama proses penyelidikan, Sam memang selalu memantau perkembanga kasusnya. Ia bersyukur sempat merasakan tak terlihat tapi kadang juga kesal karena orang-orang mengabaikan perkataannya. Ia kesal melihat orang kebingungan, sementara ia tahu semuanya tapi mulutnya membisu. Ia tak bisa memberikan petunjuk apa-apa karena tak bisa menyentuh apapun, kecuali merasuki tubuh orang lain. Namun tidak sembarangan juga, energi orang yang dirasuki harus lebih kecil dari miliknya. Kebetulan waktu itu Jeongin menyerahkan diri untuk dirasuki, jadi Sam bisa dengan mudah masuk.

Di bilik lapor itu, ia menyerahkan spycam beserta flashdisk milik Joonhyuk yang sudah tersimpan di sakunya sebagai barang bukti. Tentu mudah bagi Sam mengambil barang itu dari ruang kerja Joonhyuk--dimana sebenarnya itu tempat yang paling jarang dijangkau di rumahnya, karena selain mengamati penyidikan, Sam juga mengamati gerak-gerik ayahnya selama ini.

Setelah memberikan bukti itu, Sam berkata dengan tegas. "Saya mau melaporkan Yang Joonhyuk atas kasus pembunuhan di salah satu Sekolah, kota Seoul yang menewaskan 4 murid. Saya siap jadi saksi."

"Baik, laporan akan kami proses, penangkapan segera kami lakukan. Selama proses hukum berlangsung, tersangka akan kami tempatkan sementara di dalam sel."

Sam mengangguk, kemudian mengecek arlojinya. "Biasanya jam segini beliau ada di tempat kerja," Ia merogoh sakunya dan memberikan alamat dalam secarik kertas kecil. "Ini tempatnya."

"Baik, terimakasih sudah meringankan proses pencarian." ucap polisi itu, memberikan suratnya pada rekannya. Ia urungkan niat pergi saat melihat rupa Sam. Ia merasa tak asing dengan anak muda tersebut. Tentu saja karena kasus bunuh diri itu baru ditutup 5 hari yang lalu. "Maaf, kamu kembarannya Hyunjin itu, kan?"

Sam hanya menatap polisi itu dalam diam.

"Maaf, lupakan saja pertanyaan itu jika kamu keberat--"

"Benar, ada apa?" potong Sam.

Kini giliran si polisi yang mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya. Tersirat rasa bersalah di wajahnya. "Kami menemukan surat ini di saku celana yang terakhir kali dipakai Hyunjin. Sebenarnya, sejak awal kami sudah menemukan ini, tapi kami tahan karena barangkali ini hanya salah satu distract dari pelaku. Tapi ternyata bukan, kertas ini justru yang membuka jalan hingga akhirnya Hyunjin bebas dari tuduhan bersalah. Maaf baru memberinya sekarang. Sepertinya surat ini ditulis korban dalam keadaan sadar, jadi memang ada rencana bunuh diri sebelum mabuk."

Sam menatap kertas itu sejenak, kemudian mengambilnya. Ia membungkuk kemudian menepi, mengambil ruang untuk membaca surat itu.

Kalimat demi kalimat ia baca. Sesekali ia usap wajah muramnya. Napasnya memburu saat netranya berada di penghujung narasi. "Papah?"

Isi surat itu membuatnya secepat kilat pergi dari sana, mendahului para polisi yang sudah bersiap menyalakan sirine mobilnya di pelataran. Ia ke tujuan yang sama dengan polisi, yaitu markas ayahnya.

15 menit ia mengendara, namun ketika tiba di bangunan terpencil itu, tidak ada satupun orang di sana termasuk ayahnya, ia pun lanjut tancap gas sambil memikirkan tempat lain yang sering ayahnya kunjungi selain markas. Tak lupa ia pergi tepat sebelum bunyi sirine itu semakin dekat.

Dalam perjalanan, Sam mengingat kembali apa yang ia baca. Detik itu juga, ia merasa ingat sesuatu.

"Oh ya, ibu Hwang!"

Disappear ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang