"Pesanan Anda sudah sampai."
Seorang pria berpakaian serba hitam muncul dari balik pintu markas, menghampiri atasannya, dan menyodorkan barang bawaannya yang terbalut tas hitam besar.
Seringai kemenangan tercetak di wajahnya saat melihat obat-obatan ilegal mengisi penuh tas itu. Ia mematik korek api dan membakar puntung rokok di sela jarinya sebelum akhirnya mengambil salah satu obat untuk diamati.
"Bagus, ini untukmu." Ia mengeluarkan sebuah emas batang yang lumayan besar jika digenggam. Bawahannya yang diduga bernama Joonhyuk pun langsung menerimanya dengan senang hati.
Pria gagah itu maju beberapa langkah, sembari memainkan kepulan asap yang keluar dari hidung, dan mulutnya.
"Bagaimana perkembangan tugasmu yang waktu itu? Kau tidak lupa, 'kan?"
Joonhyuk mematung cukup lama. Bibirnya terkunci rapat, tak tahu ingin menjawab apa.
Pria berahang kokoh itu menoleh dengan tatapan tajam yang sangat dingin setelah lama tak mendengar sahutan. Langkahnya yang panjang nan pelan saat mendekatinya membuat atmosfer ruangan berubah mencekam.
"Kau mendengar perkataan ku, 'kan?"
"I-iya, Pak Dongwook. Aku gagal membunuhnya lagi." Nadanya memelan. Joonhyuk menutup mata, pasrah jika bosnya meluapkan kemarahan saat itu juga.
"Apa?!" Lonjakan nada yang sejak tadi ditunggu, nyatanya tetap membuat Joonhyuk tersentak. "Kau gagal membunuhnya lagi?! Kau tau kan aku tak mau menerima kabar yang begini, Bajingan?!"
Pria itu memilih memukul tembok, dan menjambak sedikit rambutnya di sela langkahnya yang mondar-mandir.
"Apa yang kau lakukan selama ini?! Anak itu harus mati secepatnya! Kau mau kita dalam bahaya, huh?!"
"T-tapi anak itu masih kecil. Dia berhak punya masa depan." jawab Joonhyuk takut-takut.
"Lalu bagaimana dengan kita?! Aku juga tidak mau begini, tapi kita tidak boleh tamak, harus ada salah satu yang dikorbankan."
"Tapi jika Anda tidak mau bertanggung jawab, setidaknya biarkan dia hidup."
"Diam!" Atasannya menyentak lagi. "Jangan karena kau tangan kananku, kau jadi bersikap kurang ajar!"
Setelah berpikir cukup lama, wajah licik sang atasan tergurat lagi. "Baik, begini saja. Ku beri kau pilihan," Ia mendekat, kemudian berbisik. "dia yang mati, atau kau?"
Nada dingin sang atasan meruntuhkan nyali Joonhyuk dalam sekejap. Kali ini Joonhyuk benar-benar pasrah menunduk.
Sebenarnya, Joonhyuk heran. Bagaimana bisa atasannya yang dingin, kejam, dan tenang--bak psikopat mengerikan--terlihat sepanik ini? Bagaimana bisa ketenangannya terguncang melebihi saat dia hampir dibunuh lawan bisnisnya waktu itu?
Jika bukan karena mengabdi pada orang yang 'menyelamatkan hidupnya', sudah dari dulu Joonhyuk pergi meninggalkan dunia mafia. Tidak mungkin ia kuat bertahan sampai 10 tahun. Baginya, markas mafia adalah neraka.
Merampas aset lawan, menyelundupkan barang-barang ilegal, hingga membunuh sasaran. Hari-hari Joonhyuk sangat gelap karena dikelilingi orang-orang berbahaya. Bagaimana pun, Joonhyuk tetap tak bisa melabeli hal keji sebagai suatu 'kewajaran'.
"Ngapain masih di sana?! Pergi dan jalankan tugasmu sampai berhasil!" bentak pria itu lagi.
Karena matahari sudah tenggelam, pria itu memutuskan untuk pulang ke rumah.
Ia menelusuri lorong dengan gembira sambil mengusap-usap imbalan dari bosnya setibanya di sana. Ia tak terlalu memusingkan apa yang baru saja dialaminya, karena sangat muak jika mengingat itu lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Disappear ✔
Fiksi Penggemarft. Hyunjin & Jeongin Jeongin mendapati kakaknya bertingkah aneh, usai pertengkaran hebat yang juga melibatkan ayahnya. Sampai suatu ketika dia menyadari, kakaknya bukan lagi orang yang sama. Highest rank: #1 in Hyperthymesia #1 in Hyunin #14 in Jeo...
