Prahara rumah tangga si cowok spek malaikat dan cewek spek iblis.
PART MASIH LENGKAP! TIDAK DI HAPUS SAMA SEKALI ❣️
Novel tersedia di seluruh Gramedia 💖
....
Namanya Stella, cewek liar + bandel yang dinikahkan diam-diam oleh orang tuanya dengan cow...
Cici lagi kerja freelance juga, jadi agak bingung bagi waktu+persiapan kuliah offline bulan depan 😭
Maaf banget... Sekali lagi cici minta maaf sama kalian semua 🙏🏻
Chapter ini 1.100 kata lebih.. semoga ada yg terketuk hatinya untuk menjadi istri kedua Haidar ya 😁
Next aku akan update, kalo followers ig 6.000 ya! 🥰
Ig: @aloisiatherin Tiktok : @auhtornyacici
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo kenapa pakek acara bohong segala, sih?" Tanya Stella dengan posisi berkacak pinggang.
Matanya menyorot galak pada Haidar yang duduk di sofa dengan kepala menunduk.
"Masakan kamu enak kok. Hanya kebanyakan penyedap rasa." Jawab Haidar.
"Enak pala lo!" Sentak Stella.
Haidar mendongak, menatap balik Stella yang masih kesal padanya karena melindungi wanita itu dari omelan Uma, kalau seandainya Uma tau sotonya sangat keasinan.
"Memang, kamu tambah berapa banyak penyedap rasanya? Padahal sebelum kamu sentuh, masakan saya sudah pas, lho." Tanya Haidar balik.
Stella terdiam sebentar. Ia sedang mengingat-ingat, berapa sendok makan berisi penyedap rasa yang ia tuang ke dalam soto.
"Kayaknya dua sendok makan penyedap rasa sapi, deh." Gumam Stella.
Mata Haidar membelalak saat mendengar jawaban Stella. Pria itu sontak menghela nafas sangat panjang.
"Kenapa lo ngehela nafas kayak gitu?" Stella mengangkat satu alisnya, melihat Haidar yang seolah pasrah dengan hidupnya.
"Stella, penyedap rasa itu asin, kalau kamu lupa." Tutur Haidar.
"Ck! Ya mana gue tau! Namanya aja, pe-nye-dap ra-sa! Ya gue kira, semakin banyak dituang, semakin sedap rasanya!" Sewot Stella.
Gadis itu menyedekapkan tangannya di dada dengan bibir cemberut.
"Astaghfirullah hal adzim.." Haidar mengusap wajahnya sembari beristighfar.
"Apa?! Siapa suruh kasih nama penyedap rasa?! Ya tulis aja garam, biar gue tau kalo itu asin." Sewot Stella lagi, seolah tak ingin di salahkan.
"Iya, Stella. Yang salah pabriknya, kenapa bukan diberi nama garam rasa sapi, saja, ya?"
"Tuh, kan! Apa gue bilang! Fix! Yang salah pabriknya! Tos dulu dong!" Stella menyodorkan telapak tangan ke depan, mengajak Haidar untuk tos.
Tangan Haidar balas menepuk telapak tangan Stella. Jika seperti ini, keduanya nampak seperti sohib yang akur.
"Ya sudah, kalau begitu kita sholat ashar dulu, yuk?" Ajak Haidar.