Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

#36 Jaemin x Chaeyeon

120 20 0
                                        

Jaemin The Ineffable Boy

_______

"Mantannya Nakyung ngapain ke sini?"

Masih ada setengah jam sebelum kedai itu tutup. Dan karena sudah tidak ada pengunjung, Chaeyeon membantu Jaemin membereskan meja-meja. Chaeyeon yang mengelap, sedangkan Jaemin memasukkan peralatan kotor ke troli untuk diberikan pada Haechan dan Chaewon di tempat cuci piring.

Jaemin, atau yang bernama lengkap Na Jaemin itu juga teman Chaeyeon di kampus. Mereka satu jurusan dan satu kelas. Meskipun bukan teman dekat, keduanya cukup akrab karena sama-sama pandai bergaul. Dan seingat Chaeyeon, Jaemin ini juga salah satu penerima beasiswa.

"Kenapa sih Na? Lo kayanya masih salty sama Huang Renjun," tanya Chaeyeon. "Tadi gue yang nyuruh dia ke sini kok,"

"Gimana enggak? Dia mutusin Saeron gitu aja tanpa minta maaf. Nggak lama kemudian pacaran sama Nakyung karena kasihan. Heran gue, kok ada cowok kaya gitu? Nggak punya hati, nggak tegas ke diri sendiri," gerutu Jaemin sambil memasukkan sebuah gelas kaca ke troli. "Mana Shuhua juga bisa-bisanya suka sama dia,"

"Jangan gitu, Na. Renjun lagi sedih tau, karena kemarin habis ditinggal Shuhua. Dia juga baliknya nggak tentu," kata Chaeyeon.

Keduanya lalu berjalan bersama ke dapur yang memang satu ruangan dengan tempat cuci piring. Jaemin dengan troli yang penuh dengan peralatan kotor, dan Chaeyeon yang mengekor di belakangnya dengan berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya.

Chaeyeon tidak mengenal kedua gadis yang disebutkan Jaemin tadi, namun dia pernah mendengar sedikit cerita tentang mereka dari Shuhua dan Renjun sendiri. Keduanya adalah teman Jaemin, yang sama-sama pernah menjadi kekasih Huang Renjun. Namun, salah satunya adalah gadis yang juga disukai Jaemin.

Dan bagi Na Jaemin, hakikat tertinggi dari mencintai atau menyayangi adalah melepaskan. Membiarkan seseorang yang dicintainya menemukan kebahagiaan di tempat lain. Itulah yang membuat Jaemin mencoba sabar ketika mendengar pujaan hatinya lebih memilih orang lain.

"Na, lo masih suka Lee Nakyung?" Chaeyeon bertanya sembari membuka pintu dapur.

"Udah enggak. Tapi gue kesel banget kalo inget perbuatan Renjun ke dia," jawab Jaemin, sebelum membantu Haechan dan Chaewon mencuci piring. "Eh lo nanti disamperin Jeno kan? Gue boleh bareng gak?"

Chaeyeon mengangguk, "Boleh. Tapi kita berdua cuma jalan kaki,"

"Sip gapapa,"

Setelah itu, mereka melanjutkan kegiatan mencuci piring, gelas, dan peralatan kotor lainnya. Chaeyeon mempersilakan Haechan dan Chaewon pulang duluan.

"Na, lo nggak mau coba memperjuangkan Nakyung lagi? Lo bisa buktiin lagi kalo lo sayang sama dia. Terus lo nyembuhin sakit hati dia," kata Chaeyeon. Sepasang tangannya masih sibuk mencuci.

"Gue udah bilang, gue nggak suka dia lagi. Nggak ada cewek yang gue suka untuk saat ini," balas Jaemin. "Gue juga nggak mau Nakyung cuma ngejadiin gue pelarian atau pelampiasan,"

"Semoga ada pelajaran yang bisa Renjun ambil setelah ditinggal Shuhua. Enak aja main-main sama perasaan cewek,"

Setelah meletakkan gelas terakhir, Chaeyeon mengeringkan tangan. Ia juga memperhatikan Jaemin yang masih bekerja. Ia cukup peka untuk menyadari bahwa Jaemin sedang menahan rasa dongkolnya.

Meskipun tidak pernah mengalaminya langsung, Chaeyeon tahu betul apa yang dirasakan Jaemin. Sudah merelakan gadisnya bersama orang lain, tapi malah diperlakukan begitu. Dijadikan pacar hanya karena kasihan.

Seandainya Chaeyeon ada di posisi Jaemin, mungkin dia sudah akan memukuli Renjun kalau tidak bisa mengendalikan emosi.

"Jangan gitu, Na. Asal lo tau aja, bukan cuma Renjun yang sedih atas kepergian Shuhua. Tapi gue juga, dia sahabat gue, Na..."

"Jujur gue setuju dengan jawaban lo tadi. Jangan mau jadi pelarian atau pelampiasan cewek. Jangan mau jadi 'badut'. Tapi Na, lo bisa temenan baik sama Nakyung kaya dulu lagi. Jadi sandaran dan sumber semangat buat dia. Lo nggak akan jadi badut, karena lo memposisikan diri sebagai sahabatnya,"

"Gue paham betul, Chaeyeon. Tapi susah, dengan begitu gue bisa suka sama Nakyung lagi dong?" Jaemin mematikan kran, lalu menyambar serbet kering untuk mengelap tangannya yang basah.

"Nggak akan. Gue yakin, lo bukan tipe orang yang kaya gitu. Lo gampang move on. Gue tahu itu," balas Chaeyeon. Dia berharap, keberadaan Jaemin sebagai sahabat bisa menyembuhkan perasaan Lee Nakyung. Dan kalau nanti Nakyung bisa memaafkan Renjun, kemungkinan Jaemin dapat melakukan hal yang sama.

"Makasih banyak buat pendapat lo, Chaeyeon. Masuk akal juga. Gue akan coba pertimbangkan itu. Gue gak janji bakal ngelakuin ya,"

Chaeyeon mengangguk, "Sama-sama, Na. Gue juga nggak nyuruh lo kalo terpaksa ngelakuinnya. Tapi malah bagus kalo pertemanan lo sama Lee Nakyung bisa lebih erat dari sebelumnya,"

"Biar nggak jatuh cinta lagi sama Nakyung, gue saranin lo buat fokusin diri ke hal-hal lain yang lebih penting deh. Kerja lebih giat di sini, atau belajar lebih intensif demi beasiswa lo. Atau mau kenalan sama cewek-cewek penggemar rahasia lo?"

Tanpa Jaemin ketahui, dirinya memang banyak dikagumi oleh mahasiswi di fakultasnya. Baik yang tidak terlalu menonjol, hingga yang sering menjadi sorotan. Alasannya karena kepribadian baik Jaemin, juga keuletan dan kegigihannya dalam belajar dan bekerja paruh waktu. Laki-laki satu ini memang mampu mempertahankan prestasi sambil membantu perekonomian keluarga.

Satu poin plus lagi, paras Jaemin yang sangat memesona.

"Penggemar apa sih Chae, jangan ngaco lo,"

Chaeyeon mengatupkan bibir. Jaemin ini tidak peka sama sekali. Memangnya dia tidak lihat, para pelanggan perempuan --sebagian besar dari kampus mereka-- sering salah tingkah karena dirinya?

Alah, lo aja ngga pekaan Na. Pantesan Nakyung nggak pernah pekain lo!

"Buka mata lo, Na Jaemin. Di luar sana banyak perempuan yang mendambakan lo. Pasti ada yang bisa bikin lo nyaman. Ada yang tulus sama lo, dan berharap merasakan ketulusan lo juga,"

Chaeyeon tersenyum hangat, lalu menarik Jaemin untuk keluar dari tempat kerja mereka. Malam sudah akan beranjak larut. Chaeyeon tidak mau dirinya dan Jaemin kedinginan oleh angin malam.

"Yuk, Na. Kita pulang. Jeno pasti udah nunggu di halte,"

Jaemin hanya tersenyum dan mengangguk. Dalam hati, ia bersyukur karena memiliki sahabat paling bijaksana seperti Lee Chaeyeon dan Lee Jeno. Membuat Jaemin bertekad untuk melakukan hal yang sama dengan pasangan tersebut. Berbagi kehangatan dan menyebarkan energi positif terhadap orang di sekitarnya.

END

_______

Happy weekend, everyone. Meskipun di atas jam 12 suasana hari Senin udah kerasa

 Meskipun di atas jam 12 suasana hari Senin udah kerasa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lee Chaeyeon StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang