Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

#34 Jeno x Chaeyeon

181 24 4
                                        

In Our Time

_______

Malam itu pukul sembilan. Chaeyeon mengunci pintu utama kedai es krim dan kue tempatnya bekerja. Dia dan salah satu temannya, Kim Chaewon memang mendapat kepercayaan dari atasan mereka untuk memegang kunci cadangan tempat itu. Dan kebetulan, Chaeyeon dan Chaewon hari ini memang bekerja sampai malam. Ya, mereka punya jadwal lembur.

Chaewon berpamitan pada Chaeyeon untuk pulang duluan, karena ayahnya sudah datang menjemput. Dan dibalas ucapan terima kasih dari Chaeyeon atas kerja kerasnya hari ini.

Chaeyeon sendiri menghampiri sosok pemuda yang tengah duduk di halte yang berjarak sekian meter di sebelah barat kedainya. Mungkin dia sudah menunggu lama, jadi Chaeyeon berlari kecil menghampiri pemuda tersebut.

"Jeno," Chaeyeon melambaikan tangannya.

Melihat Chaeyeon mendekatinya, Jeno berdiri dan melempar senyum. Lebar sekali sehingga matanya membentuk bulat sabit. Menambah kadar ketampanan laki-laki bermarga Lee itu di mata Chaeyeon.

"Hai, Chaey. Capek nih pasti," kata Jeno. "Pulang yuk, aku kangen banget sama kamu..."

Si gadis mengangguk, lalu mengaitkan lengannya dengan milik Jeno, "Maaf ya, Jeno. Pasti kamu nunggunya lama. Aku hari ini ada jadwal lembur sama Chaewon," katanya. "Aku lebih kangen sama Jeno. Kangen banget sampai mau meluk,"

"Nggak masalah, Chaey. Aku juga udah tahu kok. Chaeryeong yang bilang," Jeno. "Peluknya nanti aja ya, kalo udah di rumah. Di sini masih banyak orang. Malu..."

Lee Jeno, kekasih Chaeyeon itu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar kota selepas lulus SMA. Chaeyeon tidak keberatan sama sekali, karena itu memang rencana Jeno sejak dulu. Ia ikut senang, karena Tuhan berbaik hati mewujudkan angan-angan Jeno. Mereka sangat bersyukur akan hal tersebut.

Chaeyeon bahagia sebab Jeno tidak seperti dirinya. Yang terpaksa mengubur mimpi karena keadaan yang tidak mendukung.

Sesuai janji yang Jeno dan Chaeyeon sepakati, mereka setiap hari tidak akan absen bertukar kabar. Selain itu, Jeno akan mengunjungi Chaeyeon ketika liburan panjang akhir semester karena ia memang akan pulang ke kota kelahirannya itu.

Chaeyeon terkekeh geli, "Iya, Jeno. Aku juga maunya meluk kamu di rumah. Yuk pulang,"

Jalan raya tidak begitu padat saat Jeno dan Chaeyeon berjalan pulang bersama. Kendaraan masih berlalu-lalang, namun tidak sepadat tadi siang. Sementara di langit ada bulan purnama yang ditemani ribuan bintang. Berpendar lembut menyinari dua sejoli yang tengah asyik melepas rindu.

Baik Chaeyeon maupun Jeno saling merindukan satu sama lain, melebihi apapun. Hingga kegiatan jalan kaki mereka pun diisi canda tawa dan konversasi dengan beragam topik. Rangkulan di lengan mereka pun berganti dengan genggaman tangan yang hangat.

"Kamu udah berapa lama kerja di kedai tadi?" tanya Jeno. "Aku lupa nih. Maaf ya Chaey..."

"Pokoknya sejak pertama masuk kuliah. Jeno pasti bisa nerka sendiri," jawab Chaeyeon. "Dulu aku cuma paruh waktu di sana, tapi karena ini liburan aku jadi bisa kerja seharian penuh. Syukurlah gajiku juga naik,"

Setahu Jeno, Chaeyeon memutuskan untuk bekerja karena ingin membantu perekonomian keluarga. Atau paling tidak, mencari tambahan uang untuk kebutuhannya sendiri. Katanya, akan sangat berarti jika bisa menikmati hasil jerih payah sendiri.

"Wah, lama juga ya..." komentar Jeno. "Tapi kamu masih betah kan di sana? Ada kesulitan?"

Sambil tersenyum, Chaeyeon menggeleng, "Enggak kok, sama sekali nggak ada kesulitan. Aku juga masih bisa membagi waktu antara kerja dan urusan belajar,"

Selain mendengar kabar Chaeyeon dari gadis itu sendiri, Jeno juga diam-diam menghubungi Chaeryeong. Jeno meminta tolong adik Chaeyeon itu untuk melaporkan keseharian Chaeyeon, terutama jika ada yang janggal.

Namun untungnya, semua berjalan dengan baik seperti yang dibilang Chaeyeon. Kekasihnya bekerja dengan ulet, namun kehidupannya di kampus juga lancar. Gadis itu bahkan tidak pernah terlihat jatuh sakit karena kegiatannya. Jeno luar biasa lega. Lee Chaeyeon memang lebih tangguh dari perkiraan Jeno.

Mereka kini memasuki sebuah gang yang merupakan rute ke rumah Chaeyeon. Tiba-tiba Jeno menghentikan langkah dan memutar tubuhnya hingga menghadap Chaeyeon sepenuhnya. Membuat si gadis keheranan. Apalagi setelah Jeno memeluknya tanpa aba-aba.

"Maaf ya, aku meluk kamu di sini. Habisnya aku udah nggak sabar,"

Chaeyeon tak dapat menahan ekspresi gelinya. Akhirnya ia balas memeluk sang kekasih tak kalah erat. Chaeyeon juga menenggelamkan wajahnya di pundak Jeno, menyesap aroma harum yang bahkan tidak luntur meski malam beranjak larut.

"Chaeyeon, aku minta maaf karena nggak ada buat kamu setiap saat. Maaf, nggak ada di sisi kamu kalau kamu lelah dan butuh sandaran. Nggak bisa meluk kamu di saat kamu ngerasa sendirian," Jeno berujar dengan posisi masih memeluk Chaeyeon.

"Jeno ngomong apa sih? Kan kita selama ini masih berhubungan. Lewat telepon, chat, dan lain sebagainya. Itu udah lebih cukup untuk aku. Di situ aku bisa percaya kalo Jeno bakal selalu ada buat aku. Ngasih aku semangat dan motivasi, jadi sandaran buat aku tiap kali aku membutuhkan," Chaeyeon mengusap lembut punggung kekasihnya.

"Jeno jangan merasa bersalah gitu dong, kita kan cuma lagi ngejar mimpi masing-masing. Kalo mimpi kita udah tercapai, aku bakal lari ke Jeno. Karena Jeno adalah rumahku, tempat kepulanganku. Kita pasti bisa bersatu atas izin Tuhan,"

Setelah kalimatnya tuntas, Chaeyeon melepas pelukan mereka untuk menatap wajah tampan kekasihnya. Lekat sekali, seolah Chaeyeon ingin menyalurkan seluruh cintanya untuk Jeno. Seakan tatapan itu merupakan pengganti ungkapan rasa yang tak terucap.

"Aku sayang banget sama kamu, Chaeyeon. Makasih udah mau bertahan sejauh ini sama aku. Nerima segala sifat dan sikap aku. Memang ya, aku nggak salah pilih pacar,"

"Aku juga sayang Jeno kok," gumam Chaeyeon. "Selain berjuang meraih mimpi, kita dipisahkan jarak gini tuh biar bisa memperbaiki diri masing-masing kali ya. Biar jadi lebih baik dan berdampak positif bagi hubungan kita,"

Selain gigih dan tidak mudah menyerah, Jeno tahu kalau Chaeyeon adalah perempuan unik yang tidak biasa. Gadis itu mampu bersikap dewasa saat dibutuhkan, tapi juga bisa bermanja ria pada Jeno hingga sifatnya itu membuat gemas sang kekasih.

Dan Chaeyeon versi dewasa yang sangat bijak ini benar-benar membuat Jeno menatap penuh kekaguman.

"Kamu benar, Chaeyeon. Kelak aku akan kembali lagi ke kamu, dengan versi yang lebih baik lagi. Memeluk kamu, memegang tangan kamu erat supaya nggak mudah limbung atau jatuh. Meyakinkan kamu bahwa aku bisa melakukan segalanya untuk kamu, lebih dari yang aku bisa berikan saat ini," Jeno mengacak surai Chaeyeon lembut, "Dan tentunya menjadi rumah yang lebih hangat untuk kamu,"

Hati Chaeyeon sukses menghangat hanya dengar mendengarnya. Selama ini pun, Jeno telah melakukan apapun demi kebahagiaan Chaeyeon. Membuat hidup Chaeyeon dipenuhi oleh tawa dan senyuman bahagia.

"Makasih banyak, Jeno. Aku janji, akan melakukan hal yang sama. Karena aku sayang sama kamu,"

Bagi Jeno, Chaeyeon adalah separuh hidupnya. Binar di mata Chaeyeon yang sarat akan kasih sayng selalu membuat hati Jeno bagai dihembus angin yang membawa ribuan kelopak bunga.

Sedang bagi Chaeyeon, Jeno adalah semestanya. Pusat hari-harinya, tempatnya berpulang dan menemukan banyak cinta dan kebahagiaan. Lebih dari itu, Lee Jeno adalah sebuah keajaiban.

END

_______

ada yang mau jeno x chaeyeon kayanya, cuma aku baru sempat buat karena baru baca req nya. Maaf banget ya, aku ni nggak dapat notif ㅠㅠ

Dan maaf juga kalo ceritanya nggak menyenangkan kamu. Hope you like it!

Lee Chaeyeon StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang