Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

#38 Jaehyun x Chaeyeon

121 13 1
                                        

On That Rainy Day

_______

Chaeyeon keluar dari perpustakaan sekolahnya dengan langkah gontai. Sungguh, kejadian di kelas tadi membuat semangatnya menipis. Bahkan bel pulang sekolah tak cukup membuat semangatnya terkumpul lagi.

Akan tetapi, hujan masih turun dengan lebatnya. Sialnya, Chaeyeon lupa bawa payung, jadi dia tidak bisa berjalan ke halte. Alhasil, Chaeyeon tidak punya pilihan selain bertahan di serambi perpustakaan itu.

Baiklah, kesialanku bertumpuk jadi satu.

Menghela napas, Chaeyeon mengamati butir air hujan yang masih berjatuhan. Memikirkan hasil ulangan hariannya yang turun dari minggu lalu, ponselnya yang kehabisan paket kouta internet, dan sahabatnya yang tadi habis curhat, katanya pujaan hati atau crush-nya itu ternyata sudah punya pacar. Ah, menyedihkan sekali harinya ini.

"Heh jangan bengong! Nanti kesambet,"

Chaeyeon sedikit tersentak ketika sebuah suara menegurnya. Orang itu tersenyum kecil, lalu menyebelahi Chaeyeon yang memasang ekspresi sebal.

"Nggak usah ngegetin deh, Kak Jaehyun!" ujarnya sambil memukul pelan lengan laki-laki itu yang berstatus sebagai kekasihnya itu.

Jaehyun sebenarnya sudah tidak lagi belajar di sekolah itu. Dia sudah lulus tahun lalu, tepat saat Chaeyeon baru menjadi siswa baru di sini. Dan sekarang, Jaehyun datang untuk mengurus beberapa dokumen kelulusannya.

Pertama kali mereka bertemu sih, waktu SD dulu. Ketika Chaeyeon masih kelas tiga, sedangkan Jaehyun kelas enam.

Jung Jaehyun hanya terkekeh geli. Ia menyentuh puncak kepala Chaeyeon dan mengacak rambutnya lembut. Jaehyun jamin, bukan cuma rambut Chaeyeon yang berantakan, namun hatinya juga ikut ambyar.

"Ya abisnya kamu ngelamun sih. Mikirin apa? Jangan-jangan aku ya?" Jaehyun kembali menyeringai jahil.

"Mikirin banyak hal," sahut Chaeyeon asal.

"Apa tuh? Kakak boleh tau nggak?"

"Kakak nggak keberatan dengerinnya?"

"Enggak lah, kan Kakak sendiri yang mau tau. Lagian Kakak kan pacar kamu, udah seharusnya Kakak kamu ceritain hari-hari kamu ke Kakak, numpahin segala masalah kamu ke Kakak ganteng ini," Jaehyun ingin sekali merangkul Chaeyeon saat ini, namun tidak bisa. Ini kan di sekolah. Malu juga dia.

"Narsis banget Kak Jaehyun, eh tapi emang ganteng sih," kata Chaeyeon. "Aku sedih Kak. Banyak hal kurang menyenangkan hari ini,"

"Tadi aku ulangan harian IPS, dan langsung dinilai sama guru. Dan ternyata nilaiku merosot. Bukan jadi jelek kok. Ini masih termasuk baik sih, tapi selisihnya jauh banget dari minggu lalu," Chaeyeon menggerutu. "Aku jadinya kalah sama Kim Hyunjin,"

"Terus tadi juga aku chatting sama Lee Chaeyoung, sahabatku yang pindah ke luar kota tahun lalu. Dia tadi curhat ke aku, katanya crush yang dia idamkan selama ini ternyata punya pacar. Hueee kasihan banget. Mana kuotaku habis waktu mau bales dia,"

Kaki kanan Chaeyeon dihentakkan dengan keras ke lantai, membuat tetesan air di sana menyebar ke mana-mana, termasuk ke kaki Chaeyeon yang kiri. Tetapi gadis itu nampak tak peduli. Jaehyun saja refleks menjauh karenanya.

Astaga, Lee Chaeyeon. Kau mengeluhkan sesuatu yang tidak begitu penting menurut Jaehyun. Tapi baiklah, tidak perlu menghakimi gadis itu karena tolok ukur kesedihan seseorang itu berbeda-beda. Lagipula, kalau tentang ulangan harian itu sih, Jaehyun juga bakal galau jika di posisi Chaeyeon.

"Terus apa lagi, Chaey?"

"Nggak ada. Semoga sih cuma itu,"

"Chaey, aku tahu kamu kecewa tentang nilai kamu yang turun itu. Tapi lebih baik kamu pikirin usaha kamu sebelum ulangan itu. Gimana kerasnya kamu belajar, gimana usaha kamu selama ini,"

"Terus ada baiknya kamu juga introspeksi diri. Periksa kekurangan kamu sendiri. Mungkin kamu belajarnya kurang maksimal, atau cara kamu mahamin materi belajarnya masih salah. Kan banyak tuh murid yang belajarnya langsung dikebut semalaman. Udah gitu belajarnya cuma hafal-hafalin materi doang," jelas Jaehyun panjang lebar. "Coba Chaey pikirin deh, kamu belajarnya gimana selama ini?"

"Hmm mungkin Kakak bener deh. Soalnya Chaey selama ini belajar lebih keras waktu mau ulangan aja," aku Chaeyeon.

"Tuh kan, harus diubah kebiasaan yang begitu," ujar Jaehyun. "Atau mau Kakak bantuin? Kakak bersedia lho, kalo kamu butuh bantuan buat belajar apapun itu. Jadi jangan ragu buat bilang ya,"

"Ay ay, captain!" Chaeyeon menjawab mantap, tangannya diletakkan di kening, membuat gerakan hormat. "Kak Jaehyun emang the best. Pacar orang belum tentu sesempurna Kakak,"

"Bisa aja kamu," ujar Jaehyun, yang terlihat sekali sedang menahan diri untuk tidak salah tingkah.

"Nanti kamu pulang sama Kakak ya, tenang aja, Kakak bawa motor kok. Jas hujannya aja yang nggak bawa," ajak Jaehyun.

"Ya udah nih, nunggu aja. Hujannya udah mulai reda kayaknya," kata Chaeyeon. "Kak, boleh tolong kasih tau tips belajar yang efektif menurut Kakak nggak?"

Satu-dua guru melewati keduanya, dan Jaehyun berinisiatif menyapa mereka. Chaeyeon mengikuti. Sesekali, guru-guru itu mengajak Jaehyun mengobrol, menanyakan kabarnya. Wajar jika mereka tidak melupakan Jaehyun. Dia dulu dikenal cerdas, santun, dan sering mengharumkan nama sekolah. Bahkan sampai sekarang juga begitu di kampusnya.

"Kakak dulu sering bikin target tertentu. Misalnya nih, Kakak maunya dapat nilai 100 untuk pelajaran bahasa Inggris. Nah, Kakak bakal belajar lebih giat supaya target itu tercapai," Jaehyun menjelaskan. "Terus belajarnya harus tekun dan rutin. Dilakuin setiap hari biar cepat paham. Waktunya nggak harus lama, yang penting rutin. Percuma kalo lama, tapi dilakuin sehari aja,"

Jaehyun menggenggam tangan Chaeyeon lembut, membuatnya menjadi lebih hangat setelah sebelumnya mendingin akibat suhu rendah yang dibawa rintik hujan ini. Telapan tangan Jaehyun masih terasa hangat karena ia sering menyimpannya dalam saku jaketnya.

Sentuhan Jaehyun membawa kehangatan pada kulit tangan Chaeyeon, juga pada hatinya. Hingga dia bisa merasakan kedua pipinya ikut memanas. Mari kita doakan saja, semoga Jung Jaehyun tidak menyadari rona merah samar di pipi kekasihnya itu.

"Makasih ya Kak, Kak Jaehyun emang yang paling bijaksana. Aku nggak salah milih pacar sih ini," Chaeyeon membalas genggaman Jaehyun.

"Sama-sama. Eh abis ini kita beli kuota internet buat kamu ya. Bales tuh pesannya Lee Chaeyoung. Pasti dia masih galau banget," kata Jaehyun.

"Aku belum bilang Papa kalo kuotaku abis," keluh Chaeyeon. "Nggak usah nawarin pake uang Kakak,"

"Lho kok gitu? Gapapa kali. Aku jangan ngerasa nggak enak gitu sama pacar sendiri. Anggap aja ini tuh simulasi menafkahi istri," ujar Jaehyun.

"Oh ya, kamu saranin Chaeyoung buat move on. Bilang, gebetan dia itu bukan orang yang tepat. Makanya mereka nggak ditakdirkan bersama. Minta dia buat nguatin semangat belajarnya aja. Dengan begitu sih, harapannya dia bakal lupa sama kegalauannya,"

"Soalnya kalo sakit hati nggak bisa diobatin, paling enggak dilupain gitu," Jaehyun kembali melanjutkan.

"Aku tau, Kak. Aku juga udah kepikiran gitu. Aku bakal ngasih Chaeyoung semangat dan motivasi biar dia fokus meningkatkan prestasi aja. Biar dia makin pinter, biar banyak yang ngejar terus mantan crush dia nyesel,"

Binar di mata Chaeyeon kembali lagi setelah tadi meredup selama beberapa saat.  Dan itu berkat Jaehyun. Laki-laki bermarga Jung itu memang begitu. Selalu mampu membuat sang kekasih bangkit dari keterpurukan atau kesedihan mendalam. Menyakinkan Chaeyeon jika dirinya akan selalu ada untuk gadis itu.

"Oke deh, selamat berjuang kalian. Sekarang ayo pulang. Udah nggak hujan lagi,"

Jaehyun menggandeng tangan Chaeyeon untuk diajak ke lahan parkir sekolah itu. Tidak apa, sekolah sudah sepi. Jadi tak akan ada yang melihat aksinya kali ini. Pun si gadis tidak menolak, justru menyamankan genggamannya pada sang kekasih.

Lalu keduanya meninggalkan perpustakaan, menyusuri lapangan sekolah yang dihiasi sisa-sisa air hujan dengan diiringi canda tawa.

END

Lee Chaeyeon StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang