Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
안녕하세요 여러분!
*** "
Pagiku cerahku matahari bersinar, kugendong ayangku di pundak~~" Haikal bersenandung gembira. Tubuhnya ikut bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti irama nada.
Vazha langsung menepuk bibir Haikal setelah ia menelaah maksud dari lirik yang dinyanyikan oleh Haikal. "Mulut lo gue cabein ya lama-lama, kencing belum lurus pake acara ayang-ayangan." Haikal terlihat tidak peduli dengan ucapan Vazha. Ia semakin menggoda Vazha dengan mengeluarkan lidahnya.
"Lo kalo patah hati mah patah hati aja, gausah pake acara sok nasehatin gue. Belum pdkt sama mbaknya eh udah ditolak adiknya. Gue sih turut bersuka cita ya. Lagian adek sendiri dijahilin, kakak macam apa lo." Kalau saja Haikal bukan adik kandungnya, Vazha pasti sudah memukul wajah mengesalkan itu. Untung saja dia masih ingat ada harta warisan mama papa yang harus dijaga, bukan adik ya! Harta warisan. Karena jika adiknya terluka hangus sudah harta warisan miliknya.
Dilain sisi Julio yang akan berangkat ke sekolah melihat sekilas kedua masnya yang sedang bertengkar tersebut, ia langsung melewati mereka tanpa ada niat untuk berpamitan. Apalagi pada Vazha. Salahkan saja kelakuan Vazha kemarin yang ikut menertawainya bahkan tidak berniat membantunya sama sekali. Kakak tidak tahu diuntung.
"Jul mau kemana?" melihat Julio tidak berpamitan padanya membuat Vazha geram, namun mengingat perilakunya yang kelewatan ia berusaha menahan amarahnya hari ini.
"Menurut lo?"
Javier dan Jevan yang berada tepat dibelakang Julio tertawa mendengar jawaban ketus dari Julio. "Aduh mas, lo mending pulang kerumah bokap nyokap aja deh, miris gue lihatnya." lagi-lagi ucapan Haikal membuat Vazha emosi.
"Diem lo monyet—" Vazha melirik tajam Haikal, mulut Haikal itu seperti kesialan untuknya. Setiap kata yang dilontarkan oleh Haikal selalu membuat Vazha ingin menguburnya hidup-hidup.
"Jul..." lirih Vazha. Raut wajahnya memancarkan penyesalan. Entah tentang perbuatannya pada Julio atau karena Haidar yang merupakan adik kandung Alisya jadi marah padanya karena tindakannya pada Julio kemarin.
"Ayo guys berangkat, naik taksi aja, gue yang bayar." Julio enggan menjawab panggilan Vazha, jangankan menjawab menoleh saja tidak.
Perseteruan ini membuat si kembar Javier dan Jevan sangat senang. Melihat saudara kandung berseteru seperti candu bagi mereka. "Hehe mas sabar ya. Bang Jefrry juga lagi ngabisin tissue di kamar." Jevan mengelus sebentar punggung Vazha. Ia memberikan senyuman khasnya yang membuat matanya hilang tersebut.
Kali ini Haikal ikut mengusak rambut masnya itu. Ia mengangguk seakan mengerti penderitaan Vazha saat ini. "Namanya juga hidup mas, kadang dibawah kadang juga dibawah banget. Sabar aja ya."
Vazha merapalkan doa di dalam hatinya, semoga ia tetap bersabar menghadapi para bocah hingga mendapatkan Alisya.