bukan iri biasa

171 28 7
                                        

what's up, bubs?

***

Rusun Alchana sore itu tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada suara—entah langkah kaki yang malas, pintu dibanting setengah hati, atau teriakan sekumpulan laki-laki pengangguran yang terlalu berisik karena bermain mobile legend. Tapi sore kali ini berbeda. Ada satu sudut lorong lantai tiga yang terasa lebih serius dari biasanya.

Empat laki-laki duduk melingkar di atas tikar dengan posisi setengah santai. Wildan duduk selonjoran, punggungnya bersandar ke tembok, wajahnya terlihat lelah tapi masih terlihat sok kuat. Vazha di sebelahnya sibuk memutar botol minum di lantai, kebiasaan dirinya kalau sedang memikirkan sesuatu. Jeffry duduk bersila, tangannya sibuk dengan ponselnya yang berbunyi drama china terbaru. Sementara Jayden masih setia dengan kamera yang sekarang lebih sering digantung di leher daripada dipakai. Dirinya melihat kembali hasil foto beberapa waktu lalu ketika penghuni rusun pergi menonton film bersama di bioskop.

Dari arah tangga, muncul Sean dengan setelan rapi khas orang korporat. Kemeja polosnya digulung rapi sampai siku, jam di pergelangan tangan tidak mencolok tapi jelas bukan jam murah. Ia melirik ke arah perkumpulan empat lelaki yang sepertinya belum mandi dari pagi, bahkan sepertinya baru saja bangun dari tidur panjangnya.

"Pada ngapain?" Sean mengendorkan dasi di lehernya lalu ikut duduk di sebelah Jayden yang masih sibuk dengan kamera.

Wildan menatap Sean lalu dirinya mengangkat bahunya. "Beginilah, namanya juga anak muda."

"Nyari siapa kesini? Alisya kayanya tadi pergi keluar dan belum pulang sampai sekarang." Vazha berbicara, tapi matanya tak memandang Sean sama sekali. Ia hanya sudah mulai familier dengan suara Sean yang sempat membuatnya cemburu karena laki-laki itu terlalu dekat dengan Alisya.

"Oh, enggak nyari Alisya. Gue ada urusan lain di sini."

Vazha hanya mengangguk, lalu mulai merebahkan tubuhnya. Menjadikan paha Jeffry sebagai bantalan kepalanya. Sang pemilik paha hanya diam dan masih fokus dengan drama di ponselnya.

Beberapa saat, Jordan datang dengan handuk di lehernya. Rambutnya sedikit berantakan dan terlihat basah. Laki-laki itu membawa secangkir kopi dan kursi kecil plastik. Tanpa izin, Jordan langsung duduk di sebelah Sean menggunakan kursinya. Membuat posisinya lebih tinggi dari pada yang lain.

"Keliatan banget ya yang pengangguran sama yang udah berpengalaman?" Jordan meniup kopinya yang masih panas, ucapannya hanya mendapat lirikan tajam dari Wildan.

"Gue tuh kepo. Lo sama si Chandra Chandra itu kerja apaan dah? Kok kayaknya enak banget di liat-liat sampe kenal sama produser film kemarin." Jayden yang awalnya fokus, kini mulai menatap Sean dengan tatapan penuh tanya. Tak lupa ia juga menunjukkan foto Sean bersama Chandra di acara premier film kemarin yang sedang berbicara dengan produser filmnya.

Sean tersenyum tipis melihat foto yang ditunjukkan oleh Jayden. "Gue sama Chandra kerja di bidang properti. Terus punya relasi juga sama beberapa produser karena tempat kita dipakai buat syuting. Salah satunya ya di film yang kalian tonton kemarin."

"Hah? Properti lo emang yang mana?" Entah sejak kapan Jeffry mulai ikut nimbrung obrolan mereka. Jelasnya, sekarang ia juga menatap Sean dengan penasaran.

"Villa yang si Milly dilamar Abraham."

Jawaban tanpa intonasi yang terlalu berlebih itu sukses membuat kelima lelaki yang sibuk mendengar membulatkan matanya. Mereka pikir, properti yang digunakan adalah rumah itupun tak sebesar bayangan mereka. Tapi kali ini, villa yang disebutkan sebagai tempat tokoh utama pria melamar tokoh wanita di film benar-benar mengejutkan mereka.

RUSUN ALCHANA (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang