Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Hari ke hari kian berganti. Tidak terasa kini para remaja SMA di alchana akan bertempur melawan banyaknya soal ujian. Yang kelas sepuluh akan naik ke kelas sebelas, yang kelas sebelas naik ke kelas dua belas. Begitu pula Junghwan yang berstatus menjadi anak SMP, akan naik pangkat menjadi remaja SMA.
Hingga rusun yang biasanya ramai menjadi sepi karena beberapa diantara mereka sedang fokus untuk mengasah otak. "Waduh rusun kita jadi adem ayem gini ya." ucap Tara, seraya meminum secangkir kopi di tangannya.
Ia duduk bersila di karpet yang terletak di depan televisi di rumahnya. Tentunya tidak sendiri, melainkan bersama Tio di sampingnya.
Menanggapi tuturan Tara, Tio mengangguk setuju. Rusun yang adem ayem ini merupakan hal yang cukup langka karena setiap hari selalu ada saja keributan di tempat ini. "Berasa agak aneh sih tapi mas. Cuma gue suka sih, bisa fokus nyicil skripsi. Biasanya jam segini kan gue pasti nggak dirumah. Apalagi weekend gini."
"Iya, setuju gue. Udah capek kerja, denger suara mereka tambah stres." Taeil memungut sebatang rokok yang berada di nakas. Ia menghisap gulungan tembakau itu. Hingga menarik perhatian Tio.
"Lho bukannya udah nggak ngudut lagi, mas Tar?" tanya Tio penasaran. Pasalnya Tara ini orangnya kalem, dan sudah hampir dua tahun ia berhenti menyentuh benda tidak sehat itu. Hal ini membuat Tio sedikit terkejut.
Tara tersenyum sesaat. Ia juga merasa miris terhadap dirinya sendiri. "Gue pusing banget. Perusahaan lagi terombang-ambing. Karyawan banyak yang resign, klien juga banyak yang putus kontrak. Udah mau pecah kepala gue." ini pertama kalinya Tara berkeluh kesah pada seseorang. Dia rasa pikirannya sudah tidak kuat untuk menampung beban ini sendirian.
Tio mengusap pundak Tara. Ia mencoba untuk menenangkan karena dia juga belum mengerti bagaimana sulitnya bekerja. Apa lagi dibawah tekanan seperti ini. Menghibur juga rasanya akan canggung.
"Gue emang nggak tahu gimana rasanya, mas. Tapi, seberat apa pun masalah, pasti ada jalan keluarnya. Tuhan nggak akan memberikan masalah kepada hamba-Nya yang nggak mampu. Apa pun itu kalau lo perlu bantuan, gue selalu ada, mas Tar."
Lelaki berbaju abu-abu itu lantas tersenyum haru. Lega sekali rasanya, bila ia bisa berbagi masalah seperti ini. Yang dibutuhkan saat ini hanya pendengar, dan apa yang dilakukan Tio ini sudah lebih dari cukup baginya.
"Lo itu dewasa banget, Yo. Gue selalu berharap supaya lo bisa mendapatkan apa yang lo inginkan. Terima kasih untuk kata-katanya. Ini berguna banget buat gue."
Tio tertawa. "Kalo dapetin Alisya aja gimana? Didoain nggak, mas?" gurau Tio, yang sebenarnya berasal dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Waduh itu sih bisa aja ya. Cuma semua orang juga mau, bukan cuma lo doang." jawab Tara, disusul dengan tawa renyah. Alisya ini namanya saja sudah bisa membuat orang bahagia.