jalan-jalan

284 45 0
                                        

selamat siang semuanya!
***

Pukul dua siang Alisya dan Jia sudah bersiap dengan segala perlengkapannya. Hari ini mereka berdua berniat untuk memanjakan mata dengan pergi ke mall di pusat kota. Sebenarnya, Alisya dan Jia bukan wanita penggila belanja, hanya saja sesekali ingin menghabiskan waktu dengan berbelanja. Kata Alisya namanya self reward.

Alisya sudah berada di depan rumah Jia, disana ia hanya diam saja menatap pemandangan dua insan yang sedang mengadakan perpisahan. "Jia... Mas Jon kerja dulu ya, kamu baik-baik di mall nya, jangan mau digodain sama cowok ya Jia, jangan lama-lama juga, ntar kalo mas udah pulang jadi kangen." Jonathan memeluk Jia, ini sudah ketiga kalinya ia berkata seperti ini dan berakhir memeluk Jia.

"Mas, aku loh ke mall bukan mau pulang kampung. Jangan kaya orang mau ditinggal jauh gini deh." Jia merasa muak lama-lama melihat tingkah berlebihan suaminya ini.

Jonathan merengut sebal. Dia memang tidak biasa ditinggal oleh Jia seperti ini. Rasanya berat sekali merelakan Jia untuk keluar tanpa pengawasan darinya. "Mas Jon, tenang aja Alisya bakal jagain mbak Jia, toh ada Julio sama Haidar juga. Jadi enggak mungkin mbak Jia digodain cowok."

"Nah itu loh mas dengerin Alisya."

Jonathan mengangguk pasrah, bagaimana pun ini demi kebahagiaan wanita cantiknya. "Yaudah deh, mau mas anter enggak?"

"Jangan dong mas, udah siang gini mas harus ke kantor." Jia menatap arloji di pergelangan tangannya.

Jonathan menatap lurus ke arah Jia. Menagap istrinya tidak mau diantar olehnya? Apakah Jia memiliki teman lelaki lain? "Itu kan kantor punya aku, terserah aku dong mau berangkat jam berapa."

Jia merotasikan bola matanya. Ia bisa membaca pikiran gila suaminya itu. "Mau berangkat ke kantor sekarang atau kita pisah kamar nanti malam? Gausah kebanyakan nonton sinetron perselingkuhan, jadi gila lama-lama kamu mas."

Jonathan segera menyalami tangan Jia dan berjalan dengan cepat menuju ke parkiran tanpa basa-basi lagi. Ini sudah kode bahaya dari Jia, mana mau ia tidur sendirian bersama dengan kesunyian.

"Kok kebalik mbak?" Alisya memandang dengan heran dua sejoli itu, selalu ada saja tingkah aneh mereka. Khususnya Jonathan. Melihat seperti ini membuatnya takut untuk menikah.

"Emang edan Jonathan itu—" Jia menggerutu kesal. "kok bisa ya aku nikah sama cowok bucin modelan gitu, susah emang jadi cewek cantik."

Alisya tertawa mendengarnya, dia akui Jia memang kelewat cantik, tapi Jonathan juga tidak seburuk itu, dalam hal sikap. "Kamunya juga mau loh mbak nikah sama mas Jon, udah sama-sama cinta aja kok mbak."

"Iya juga sih. Kamu jangan cepet nikah deh Lis, pusing banget punya suami."

Sekali lagi ucapan Jia berhasil membuat Alisya terkekeh. "Yaampun mbak aku aja masih pusing sama skripsi, masa harus ribet nikah. Ntar aja itu mah, mending kita berangkat sekarang kasian anak-anak nungguin."

"Iya ayo. Kamu aja ya yang nyetir mobilnya. Kalo ketahuan nyetir sama mas Jon bisa rame lagi." Jia sampai tidak habis pikir, mengapa suaminya ini lebih posesif dibandingkan ayahnya. Padahal Jia sudah memiliki SIM sejak zaman ia berkuliah dulu, tapi tetap saja Jonathan selalu melarangnya menyetir mobil dari awal mereka pacaran hingga sekarang.

Pernah satu kali Jia mencoba menguji Jonathan dengan diam-diam menyetir mobil, alhasil saat ketahuan Jonathan mengabaikannya selama tiga hari. Entahlah, lebih baik menurut daripada mencari masalah baru.

"Iya santai aja mbak."

Arloji menunjukkan setengah tiga pas, Jia dan Alisya sudah berada di depan sekolah Haidar dan Julio. Alisya mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan adek tampannya itu, namun netranya tidak menangkap keberadaan Haidar.

RUSUN ALCHANA (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang