helloo! do u miss us guys? imysm ol
***
Berisik. Satu kata itu sudah cukup untuk mendeskripsikan suasana malam minggu di Rusun Alchana. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi kehebohan yang terjadi di sana sepertinya belum ada hilal untuk selesai. Rupa beberapa anak kini tak terlihat seperti manusia lagi, pecah tawa mengisi ruangan besar yang biasa disebut aula itu.
Deretan kasur lipat beserta kain dan bantal telah tersusun rapi. Di bagian ujung dekat proyektor hanya berisi enam kasur, sedangkan di bagian ujung lainnya banyak kasur yang sudah berjejer. Dapat disimpulkan bahwa yang di dekat proyektor adalah tempat tidur para perempuan, sedangkan ujung lainnya para lelaki berisik ini.
"Ih, muka lo mirip monyet AI yang joget di TikTok. Kalian sepupuan ya?" Haikal tak henti-hentinya menggoda Julio, adik semata wayangnya itu. Pasalnya, wajah Julio saat ini penuh dengan coretan bedak yang membuatnya terlihat acak-acakan.
Julio menatap Haikal dengan tajam. Kalau saja mereka bukan saudara, mungkin sudah ditonjok rupa menyebalkan itu. "Eh, lo mikir. Kalo muka gue kaya monyet, berarti lo kakaknya monyet. Kita satu ras, bego. Lahir juga lubangnya sama. Oon lo jadi orang."
"Lah, anjing, gausah nyolot lo. Bercanda doang, bego. Baperan lo kaya babi."
"Daripada kelakuan lo mirip iblis. Mana muka paling jelek di antara keluarga kita. Anak pungut ya, lo?"
"Lah, mau berantem lo sama gue? Ayok maju lo, gue ladenin!"
"WOI, DIEM ANJING! Lo berdua berhenti atau tidur di teras aja?!" Vazha naik pitam dibuatnya melihat kelakuan adik-adiknya ini. Semakin hari semakin bertambah tingkah menjengkelkannya. Usianya bertambah bukannya makin cerdas, malah semakin kekanak-kanakan.
"Yang sopan dikit ada kakaknya, malah berantem. Lo berdua tuh anak pungut emang. Kelakuan sama aja jeleknya."
"Udah ya kakak-adik yang sama-sama cupu. Mending kita lanjutin main. Kalian tuh kebanyakan bacot, tau nggak? Udah mana mulut gede, nyali kecil, main juga kaga jago." Haidar datang dengan mulut pedasnya untuk menengahi kegaduhan yang terjadi.
Mendengar gertakan kakak sulung dan pernyataan Haidar yang menohok namun fakta itu, mereka berdua seketika bungkam.
"Eh, kita bikin peraturan baru aja. Yang kalah traktir kopi? Deal nggak?" Tio rasanya sudah dehidrasi sejak awal permainan. Tenggorokannya butuh yang dingin-dingin biar semakin semangat bermainnya. Sudah begitu suasana di sini kian panas karena pertengkaran tiga bersaudara ini.
Cheva tertawa mendengar ucapan Tio barusan. Menurutnya itu terlihat miskin. Main dengan imbalan kopi terlalu murahan untuknya. "Aduh, kopi doang mah sini Cheva beliin. Jangan kaya orang miskin gitu dong, Mas. Malu nih dilihat sama iPhone 17 Pro Max 2TB-nya Cheva."
"Iya deh. Maaf yang sultan." Tio merasa malu karena tidak bisa membantah ucapan Cheva. Akhir bulan begini, jangankan untuk beli kopi, pasta gigi saja sudah digunting bawahnya karena tidak bisa beli lagi.
"Yaelah, gitu doang gue juga. Mau dong, Chev. Gue caramel macchiato."
"Malu-maluin lo, minta-minta ke bocah. Kaya gue dong. Ice americano satu ya, less sugar," timpal Jeffry, memotong ucapan Jayden barusan.
"Lah si tolol, namanya americano mah kaga pakai gula. Lo belajar di mana sih, jago banget gobloknya."
"Udah, semuanya list. Nanti Cheva pesenin. Udah ya, jangan berantem mulu. Sucikan hati, bersihkan diri. Sesama umat manusia harus saling memaafkan dan sabar."
"Gue mah kalo dompet tebel, HP bagus, kaya raya, nggak mikir cicilan, pasti punya emotional intelligence yang bagus kaya lo, Chev. Saking aja gue perintis, bukan pewaris." Deivan malah curhat mengenai status ekonomi yang dimilikinya. Tapi, menurut penelitian juga begitu kenyataannya, ekonomi memengaruhi kontrol emosi seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUSUN ALCHANA (ON GOING)
Fanfictionkisah-kasih di rusun alchana☺️ kalau mau tau lebih lanjut, langsung baca aja ! mari have fun sepuasnya bersama kita bahagia. local story ! #1 lalisa
