Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"apa liat-liat?!"
- julio si anak sensi ketularan Haidar -
***
happy weekend!
***
Jerico memasuki pekarangan rusun dengan wajah yang lesu. Ujian matematika hari ini sungguh menguras tenaga dan waktunya. Padahal saat kemarin ia belajar, semuanya lancar-lancar saja. Tapi, kenapa tadi ketika mengerjakan seolah rumus itu menghilang bak di telan bumi. Lebih parahnya lagi, ada beberapa materi yang ia pelajari kemarin tidak keluar dalam soal.
Jerico rasanya ingin menangis saja hari ini. Di belakangnya juga ada Hugo dan kawan-kawan yang berjalan bersama. Mereka berdua belas terlihat tertekan, hanya Juan yang biasa-biasa saja dengan sekotak donat di tangannya. Mungkin yang tadi lancar-lancar saja hanya Juan.
"Anjir, soal gue tadi gak masuk akal sama sekali." Yoshua orang pertama yang mengeluh. Mereka semua duduk di teras rusun karena merasa lelah.
"Sama. Temen gue kertas buramnya penuh rumus, bahkan ada yang ambil lagi. Lah itu ngitung apaan?" Hugo menggaruk rambutnya dengan gemas. Kertas buram miliknya kosong melompong tak ada tulisan.
"Kacau banget si matematika. Bikin pusing gitu masih minta di perhatiin terus." Jasson menyandarkan tubuhnya di dinding bersebelahan dengan Azriel. Kepalanya mau pecah saja hari ini.
"Kok pada di sini? Ayo masuk." Suara Jonathan yang baru saja datang bersama istrinya membuat kedua belas orang tersebut mengangkat kepala.
Jino tersenyum lebar sebelum berdiri mendekat ke arah Jia. "Habis check up ya mbak? Sehat kan baby j nya?"
Kalau kalian tanya kenapa namanya baby j, coba liat huruf pertama nama emak bapaknya. Panggilan itu inisiatif dari Julio karena namanya juga dari J. Selain itu, Julio juga rasanya ingin sekali menjadi anaknya Jonathan. Semua kemauannya pasti dituruti oleh laki-laki itu.
"Sehat, Jin. Ini kenapa kalian duduk di sini?" Jia memperhatikan muka lesu para remaja ini. Terlebih pada Julio yang biasanya berulah, kini malah tengkurap di lantai sembari memejamkan matanya.
"Lagi capek. Ulangan tadi gak masuk akal banget."
Jonathan terkekeh pelan. Mereka ini gampang sekali lesu, padahal masalahnya hanya terletak pada ujian sekolah. Belum saja seperti dirinya yang menghadapi banyak masalah kehidupan. "Ayo masuk semua. Nanti gue pesenin makanan."
Semua remaja yang lemas itu akhirnya bangkit. Bersamaan dengan Jonathan memasuki rusun yang saat ini tampak sepi. Kalau jam-jam segini memang semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Terlebih yang sudah bekerja pastinya akan pulang malam.
Jonathan melangkahkan kakinya melewati dapur. Alangkah terkejutnya ia melihat sosok Jerico yang berdiri di depan pintu kulkas. Wajahnya juga tak kalah masamnya seperti kedua belas remaja lainnya.