hi bubs!
***
"Woi bocah-bocah!"
Sekumpulan remaja itu menoleh melihat beberapa lelaki yang datang ke arah mereka. Ada Vazha, Jeffry, Jayden, Deivan, Teo, dan juga Tio yang kini berjalan bersama di tengah keramaian Dufan. Haikal mengumpat kecil melihat atensi kakaknya berada di sini. Begitu pula dengan si kembar yang saling lirik merasa jika Jeffry akan mengganggu kegiatan mereka berdua. Pokoknya para remaja cukup terganggu dengan kehadiran para tetua ini.
"Lah? Kalian beneran nyusul?" Cheva menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tau gitu kan kita tadi berangkat barengan."
"Alah tai, kalian semua gak ngajak anjir."
Javier memutar bola matanya malas. "Udah deh, yang penting kan kalian udah ada di sini." Perkataan itu sukses membuat Jeffry melemparkan tatapan sinisnya.
"Kita makan dulu ayo. Laper gue dari pagi belum makan." Jayden mengangkat alisnya dengan harapan semua orang menyetujui ucapannya. Semenjak Jia hamil, rusun kehilangan chef terbaiknya. Meski begitu, kadang para perempuan juga memasak seadanya untuk mereka semua. Pagi ini, nasi goreng udang di masak oleh Iris dan Alisya benar-benar menyihir lidah mereka. Namun apa boleh buat, Jayden butuh konsumsi lagi untuk saat ini karena nyatanya sekarang sudah memasuki jam makan siang.
Teo melotot kecil mendengar penuturan Jayden yang menurutnya penuh dengan kebohongan. "Hah? Lo baru makan kwetiau waktu otw ke sini njing. Lagi pula lo tadi pagi makan nasi goreng nambah porsi. Masih laper?"
"Kaya gak tau mas Jayden aja sih? Dia kan perut kuli."
"Yaudah lah ayo makan. Udah jamnya makan siang juga kan? Gue traktir." Suara sorakan terdengar ketika Hugo mulai mengeluarkan kartu debitnya. Embel-embel traktir sering mereka dengar akhir-akhir ini. Sepertinya si anak kaya itu kebingungan menghabiskan uangnya yang terlalu kebanyakan.
Diam-diam Haidar mengusap dadanya lega. Sedari tadi ia mencuri-curi pandang pada sepasang perempuan dan laki-laki yang sedang berbincang. Ia merutuk kesal, pasalnya dua manusia itu tak ada niatan untuk berpindah tempat. Tapi untung saja, para kumpulan ini memutuskan untuk makan dan melupakan jika atensi Alisya ada di sini bersama dengan seseorang.
"Seafood kayanya enak gak sih? Setuju gak?" Tanya Vazha sembari melihat ponselnya guna mencari referensi restoran yang menyajikan beberapa menu seafood.
"Setuju!" Kompak semua orang membuat Vazha menganggukkan kepalanya.
"Ada restoran di deket sini nih, terbukti bintang lima. Tempatnya juga luas jadi bisa dibuat makan rame-rame. Pilihannya juga banyak banget gue lihat-lihat, plus semua itu seafood segar pilihan. Gak hanya itu, view dari restoran ini juga bagus banget anjir. Bayangin aja kita makan seafood sambil ngerasain angin sepoi-sepoi. Rasanya gak usah di—"
"Udah njing, lo ngapain pake promosi segala? Langsung cabut aja." Jeffry merangkul pundak Vazha agar laki-laki itu bisa diam. Kebiasaan Vazha yang banyak bicara jika ia tertarik dengan sesuatu. Bisa di jelaskan panjang lebar mirip skripsian.
"Santai bangsat, anjing-anjing mulu lo."
"Lah? Lo juga bangsat-bangsat gitu ngapain? Gak suka lo?"
"Anjing, kok marah?"
"Lah lo sih yang mulai, bacot bener padahal tinggal berangkat doang."
"Tai Jef, gue ngomong gitu biar semua pada tau restoran yang gue rekomendasikan goblok. Siapa tau ada yang slek gara-gara saran gue."
"Udah lah, Za. Lo emang kebanyakan bacot anjing."
"Mas Vazha sama mas Jeffry kalau masih debat aja, gak jadi gue traktir." Hugo sudah lelah akibat memainkan wahana, kini telinganya harus mendengar celotehan dua orang yang selalu bertengkar namun nyatanya tak dapat dipisahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUSUN ALCHANA (ON GOING)
Fanfickisah-kasih di rusun alchana☺️ kalau mau tau lebih lanjut, langsung baca aja ! mari have fun sepuasnya bersama kita bahagia. local story ! #1 lalisa
