Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
baa!
***
Pulang liburan memanglah hal yang cukup menyedihkan. Kita dihadapkan kembali dengan berbagai aktifitas sehari-hari setelah beberapa hari meliburkan diri. Bukannya tambah bugar, pulang liburan seluruh badan rasanya menjadi lesu dan kelelahan.
"Mbak, mau makan dong. Perut gue udah laper banget nih." Satya turun ke bawah setelah membersihkan seluruh badannya. Menemui Iris yang sudah berkutat di dapur untuk membuat makanan.
Tepat tiga setengah jam yang lalu para penghuni rusun Alchana telah kembali dari villa milik Cheva. Usai sudah perjalanan liburan mereka selama tiga hari dua malam tersebut.
"Bentar ya habis ini udah mateng semua kok. Duduk di sana dulu aja." Terlihat Iris sedang memecah telur untuk digoreng. Satya yang perutnya sudah meronta minta di isi akhirnya menurut untuk duduk di sofa.
Selanjutnya, Julio dan Haikal datang membawa dua kantung plastik besar berwarna hitam yang berhasil menyita atensi Satya. "Apaan tuh? Sampah?"
Haikal menggeleng lalu memberikan kantung plastik tersebut pada Joya yang tengah mengiris cabai. Begitupun dengan Julio yang memberikan kantung tersebut kemudian berlalu pergi menuju rumahnya tanpa sepatah kata. Hal tersebut sukses membuat Satya bingung dengan diamnya Julio.
"Sampah gundulmu, itu bahan makanan. Waktu liburan kan kita disuguhi makanan pure dari villa Cheva. Jadi, bahan makanan yang kemarin kita beli masih banyak. Kata mbak Jia boleh dijadikan stock beberapa hari ke depan atau di bagikan ke panti." Tangan jahil Haikal mengambil sepotong tahu goreng di meja.
"Alhamdulilah kalau masih banyak. Mending di sumbangin aja deh menurut gue." Iris melihat isi dari dua kantung plastik besar tersebut. Ada daging-dagingan, sayur mayur, tempe, tahu, makanan laut, dan lain sebagainya.
"Boleh aja mbak." Haikal mencomot kembali tahu goreng yang menurutnya sangat enak. Apalagi di cocol menggunakan saos kecap pedas buatan Joya. Serasa Haikal ingin memakannya lagi dan lagi.
Satya melirik punggung Haikal yang membelakanginya. "Mas, Kal?"
"Hmm?"
"Julio kok tiba-tiba diem aja? Tumbenan banget gue gak di sapa?"
Haikal mengambil lagi tahu goreng membuat Iris hanya menghela nafasnya. Bagaimana mau dihidangkan kalau sekali matang sudah dihabiskan oleh Haikal. Belum lagi anak-anak lain yang kalau makan tidak ingat porsi. Untung saja mereka pada istirahat di rumah masing-masing.
"Gak tau. Dia juga gak ngomong banyak sama gue." Haikal duduk di sebelah Satya. Ia juga bingung dengan adiknya yang tiba-tiba menjadi pendiam. Sebuah kemustahilan kalau Julio itu diam.
"Mungkin dia lagi capek." Joya menyahut membuat Satya mengangguk setuju. Bisa jadi orang yang memang suka membuat kebisingan akan diam jika kelelahan. Haikal juga tak mempermasalahkan hal tersebut. Justru ia lebih tenang jika Julio tidak berulah hari ini.