jadi sepi

203 38 2
                                        

apa kabar?
***

Lantai demi lantai yang ada di rusun alchana terlihat suram kala ini. Suara teriakkan atau kerumunan yang bergosip kini sirna, yang ada hanyalah siulan burung dalam keheningan.

Rasanya aneh bila dipikirkan lagi, mereka yang terbiasa bersama melalui segala hal yang terjadi di rusun. Kini harus terpisah karena keharusan. Semuanya juga ingin egois, tapi apa boleh buat, hidup bukan hanya tentang menghadapi semuanya bersama. Tapi, tentang bagaimana kita bisa mencari apa yang akan menjadi pilihan kita kedepannya.

Jarak bukanlah sebuah penghalang dalam  hubungan, kita hanya perlu jeda untuk saling mengerti satu sama lain. Perpisahan bukan untuk terus-menerus ditangisi, sebab merindu adalah pemanis dari kisah ini. Jarak dan waktu akan membawa awal baru untuk kisah yang penuh dengan kasih.

"Biasanya jam segini aku lagi dengerin mbak Wina karaoke. Dia yang nyanyi, aku yang cengo." lirih Alisya. Kedua bola mata hazelnya memandang lurus ke arah televisi, yang biasanya digunakan Wina untuk bernyanyi. Wina memang bisa dikatakan diva-nya rusun alchana karena semua orang menyukai suara menawan dari wanita cantik itu.

Roshita mengangguk, menyetujui perkataan teman serumahnya itu. "Jadi inget, tiap gue nyoba masak sendiri trus ujung-ujungnya motong jari, mbak Sella selalu cekatan buat jadi pertolongan pertama. Dia bakal ceramahin gue karena nggak hati-hati, nanti bisa infeksi lah, atau paling parah diamputasi, padahal lukanya cuma garis kecil." Roshita jadi ikut terbawa suasana haru yang diciptakan oleh Alisya.

Jenneta masih terdiam. Diam dalam pikirannya.

Ia terpaku menatap tayangan televisi yang menampilkan beberapa orang sedang melakukan pekerjaan sukarela di desa terpencil. Perlahan air matanya menetes. "Joy lo gak kangen apa bagiin makanan buat anak pinggiran bareng gue." napasnya tercekat. Begitu sulit mengeluarkan isi hatinya saat ini. Joy memang suka membantu sekitar, begitu juga dengan Jenneta yang selalu setia menemani wanita tersebut untuk melakukan hal-hal positif.

Jenneta memang terlihat garang diluar, tapi hatinya yang paling lemah saat menghadapi situasi seperti ini. Dia sangat perasa, jadi jika merasakan hal yang tidak enak yang bisa dilakukan hanya menangis seharian.

Iris dengan sigap mendekap tubuh rapuh itu. Memberikan ketenangan pada Jenneta. "Kita semua kangen sama mereka, tapi kita nggak boleh kaya gini. Mereka juga mau kita tetep bahagia." Jia mulai angkat suara. Dia merasa harus ada yang tetap tenang di situasi seperti ini. Jika semua terbawa suasana, akan susah jadinya.

Meskipun sedang hamil, Jia harus tetap menjadi penenang bagi para adeknya. Karena jika Iris saja yang menenangkan mereka, pasti wanita itu akan kesusahan dan jadi ikut bersedih.

Sibuk dengan pemikiran masing-masing, hingga mereka lupa kalau Yura sedang menangis tersedu di pojok dekat jendela. Gadis itu sengaja menyumbat mulutnya dengan kain bajunya, agar orang lain tidak mendengar suara tangisannya.

"Yura mana ya?" tanya Iris, usai menyadari adek bungsunya menghilang tidak kelihatan.

Keheningan mereka membuat isakan Yura terdengar lirih. Yura semakin meremas bajunya dengan kuat.

"Yuraaa..." panggil Alisya. Tubuh rampingnya bergeser untuk mendekati remaja tersebut. Yura terbilang paling muda disini, dia pasti lebih kesulitan diantara yang lainnya.

Yura menyeka sisa air mata yang ada di wajahnya. Dadanya masih sesak hingga sekarang. "I-iya mbak Lis..." jawabnya penuh usaha. Menahan agar tangisannya tidak kembali pecah.

Alisya merengkuh tubuh kecil itu, mengusap lembut punggung yang sedang rapuh tanpa penopang. Yura masih sangat belia, ditinggalkan oleh sosok yang menjadi kakak untuknya tentu sangat menyulitkan.

RUSUN ALCHANA (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang