cerita tentang masa lalu

3K 168 1
                                    

hai! maaf baru sempat update. selamat membaca!


Shania membuka kedua kelopak matanya. Cahaya matahari langsung berebut masuk ke dalam bola mata gadis itu. Shania melihat kearah jam yang berada di atas mejanya. Jam delapan pagi. Tumben banget gue bangun pagi padahal hari ini hari Minggu?

Ini adalah bulan Oktober. Bulan kesukaan Shania. Bulan yang ditunggu-tunggu Shania setiap tahun. Tepat pada tanggal 25 di bulan Oktober, Mamanya akan berulang tahun.

Shania bangun dan mulai mencuci mukanya. Gadis itu lalu turun ke lantai bawah untuk mencari sarapan. Tapi, yang didapatinya adalah Papanya yang sedang berduaan dengan seorang perempuan.

Shania tidak memperdulikan pemandangan yang menjijikan itu. Dia berjalan kearah dapur dan menuangkan susu ke gelasnya. Dimakannya roti yang sudah tersedia di atas meja dengan gemas. Seakan-akan, roti itu adalah wajah perempuan yang sedang dipeluk mesra oleh Papanya.

"Shania, coba ke sini dulu. Papa mau kenalin kamu sama seseorang," ucap Papanya tenang sembari menengok kearah Shania

"Siapa lagi, Pa? Perempuan mana lagi yang mau Papa kenalin ke Shania?"

"Coba kamu ke sini dulu."

"Ga perlu, Pa. Paling besok Papa udah ganti perempuan lagi."

"Shania!" ujar Papanya dengan teriakan yang mampu terdengar ke sepenjuru rumah

"Papa kira Shania takut sama suara Papa? Maaf, Pa, Shania udah kebal dibentak!" ujar Shania tak mau kalah

Shania melihat Papanya berjalan kearahnya. Dengan penuh emosi, Dikta menampar pipi anak perempuannya dengan keras

"Kamu ini, diajarin sopan santun ga sama Ibu kamu?!"

"Gimana Shania mau diajarin sopan santun, kalau Mama bahkan udah ga ada pas Shania masih dua tahun? Gimana Shania mau tau sopan santun kalau Papa bahkan ga pernah ngajarin Shania untuk sopan sama orang?!" ujarnya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya

"Papa ga pernah didik kamu buat jadi anak kurang ajar kayak gini!"

"Gimana bisa Papa ngajarin Shania untuk ga kurang ajar, kalau bahkan Papa udah berperilaku kurang ajar sama Shania?"

"Kamu!" seketika itu juga tangan Dikta kembali terangkat, hendak kembali menampar Shania

"Apa?! Papa mau nampar Shania?! Tampar aja!" ujar Shania sambil menatap Papanya dengan murka

"Udahlah, Mas Dikta. Mungkin Shania emang belum bisa menerima kehadiran aku di sini," ujar perempuan yang menjadi kekasih Papanya dengan manja. Membuat Shania ingin membunuhnya saat itu juga

"Lo gausah ikut campur! Ini masalah gue sama Bokap gue! Pergi lo sana!" ujar Shania sambil menunjuk kearah perempuan yang bernama Liana itu

Dikta kembali melayangkan satu tamparan keras ke pipi putrinya. "Kamu emang anak kurang ajar! Masuk kamu ke kamar! Papa gamau liat muka kamu!"

Shania hanya melihat Papanya dengan tatapan terluka. Dengan mengerahkan sisa-sisa tenaganya, dia berjalan kearah kamarnya. Sesampainya diatas, Shania melihat Adiknya yang sedang menatapnya dengan pandangan terluka. Kedua bola mata Adiknya seperti mengatakan 'Lo abis diapain sama Papa?'

Shania memalingkan mukanya dan berjalan menuju kamarnya. Berusaha tidak peduli dengan tatapan kedua bola mata Calvin. Setelah masuk ke kamarnya, Shania mengambil bingkai foto itu lagi.

"Ma, Shania pengen nyusul Mama aja ke surga. Shania gamau dikerasin lagi sama Papa, Ma. Shania capek. Shania ga berguna. Shania mau pergi aja, Ma," Shania memeluk bingkai foto itu dengan keras. Tak lupa masih diiringi dengan tangisannya yang menggebu-gebu

"Shania bosen ngeliat Papa ganti-ganti perempuan terus tiap minggu. Shania capek litanya, Ma. Cuman Mama yang boleh dimanja sama Papa. Cuman Mama yang boleh disayang sama Papa. Cuman Mama. Perempuan-perempuan itu gapantes, Ma!"

Shania menangis sekuat tenaga. Mencoba menyampaikan pesan kepada Mamanya, kalau di sini, di dunia ini, Shania seperti tidak dibutuhkan. Shania ingin menyusul Mamanya ke Surga.

Ditengah tangisannya, Shania mendapat telfon dari seseorang. Dengan kesal, diambilnya iPhone yang terletak diatas kasurnya. Dilihatnya nama dari orang yang sedang menelfonnya.

Setelah tau kalau itu Rafel, Shania mengangkat telfon itu.

"Halo?"

"Hai. Temenin gue hangout, yuk?"

---

Shania duduk ditepian gedung yang sama dengan waktu itu. Gedung yang menjadi saksi bisu saat Shania mencoba rokok dan akhirnya tidak berhasil sama sekali. Dengan Rafel di sampingnya, Shania mencoba menenangkan diri. Mengingat kejadia tentang Papanya tadi, membuat hatinya makin remuk saja.

Rafel yang pada saat itu tiba di rumah Shania, langsung heran melihat mata sembab Shania. Walaupun dia sudah tau, cowok itu enggan bertanya. Karna, menurutnya, Shania mempunyai privasi yang tidak boleh orang lain tau.

Keduanya tidak membuka pembicaraan. Sejak keduanya menginjakkan kaki di gedung ini, keduanya diam. Bertengkar dengan pikiran mereka masing-masing. Shania tadinya ingin membuka percakapan, namun, rasa canggung yang menggerogoti hatinya menolak idenya. Gadis itu diam seribu bahasa sembari mencoba menikmati pemandangan dari atas sana. Tapi, nyatanya, dia tidak bisa. Bayang-bayang Papanya selalu menghantuinya.

"Selain menjadadi gedung tua yang udah ga berguna, gedung ini juga mempunyai kenangan tersendiri buat gue," ujar Rafel seakan bicara pada dirinya sendiri

Shania menengok kearah Rafel dengan pandangan tidak mengerti. "Terus?"

Rafel tetap menatap kedepan, tanpa menoleh kearah Shania. "Ini gedung punya Kakek gue. Perusahaan Kakek gue bangkrut saat Ayah gue lagi membutuhkan pekerjaan."

Shania diam. Dia rasa itu adalah pernyataan. Bukan pertanyaan. Ditunggunya sampai Rafel mau melanjutkan kalimatnya lagi.

"Saat itu umur gue 13 tahun. Masa-masa remaja gue. Masa-masa SMP gue. Gue udah termasuk anak yang nakal. Gue suka main sampe pulang malem, gue suka tawuran, gue suka bandel. Ya, begitulah."

Rafel tersenyum sembari melanjutkan kalimatnya. "Sampai pada saat itu, temen-temen gue punya motor. Gue yang saat itu belum punya, langsung minta sama Ayah gue. Dan ditolak sama Ayah gue karna ... karna perusahaan Kakek gue bangkrut.

"Gue merasa ga terima. Akhirnya gue semakin membabi-buta. Ya, gue tau itu kekanak-kanakkan. Gue marah sama orang tua gue. Gue gamau ngomong dan tingkah-tingkah lain yang dilakukan ABG pada saat ngambek ke orang tuanya.

"Gue emang gatau situasi pada saat itu. Gue gatau kalau Ayah dan Bunda gue sedang bertengkar hebat. Dan gue malah menambah beban mereka. Gue selalu memeluk adik perempuan gue pada saat orang tua gue berantem. Dan, ya, seperti yang ada di pikiran lo. Orang tua gue bercerai saat gue berumur 14 tahun."

Rafel menerawang. Menceritakan kejadian itu kepada orang lain, sama saja membuka lubang luka lamanya yang sudah dia perbaiki sedemikian rupa. "Gue dan Adik gue berpisah. Gue ikut Ayah, sedangkan dia ikut Bunda. Dari semenjak itu, Ayah gue mendaftar kerja di perusahaan perminyakan. Dan sekarang, dia udah jadi direkturnya."

Shania diam. Padahal, baru empat bulan dia mengenal cowok ini, tapi Rafel sudah berani menceritakan masa lalunya kepada Shania. Dengan cerita tadi, Shania menjadi tau beberapa fakta tentang Rafel.

Rafel menselonjorkan kakinya. "So, bagaimana dengan keluarga lo?"

Shania refleks tertawa sinis. "Lebih buruk dari nasib keluarga lo."

"Gue punya banyak waktu untuk mendengarkan cerita lo."

Shania tersenyum. "Kalau orang tua lo bercerai, orang tua gue enggak. Mama meninggal sejak 15 tahun lalu."

Rafel terkejut. Jadi, Shania sudah tidak mempunyai sosok Mama? Rafel diam. Dia menunggu Shania menceritakan lebih lanjut. Namun, tak di dengarnya suara Shania.

"Kalau boleh tau ... kenapa nyokap lo meninggal?" tanya Rafel hati-hati

Shania tersenyum. "Percayalah, lo gaakan mau tau kenapa."

Behind The MaskTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang