"Anak mama udah ganteng ..... " Wilu mencium putranya yang baru ber umur dua bulan, aroma bedak bayi dan minyak telon selalu membuat ibu muda ini sakau, bahkan saat dia bekerja membuat dia ingin segera ke Day care menjemput putranya. Wilu tidak pernah menyangka kalau si gadis tomboi yang susah jatuh cinta, yang cuek sudah melahirkan seorang anak laki-laki.
Hidupnya berubah sejak empat bulan yang lalu, dia benar-benar menghapus nama Darren dari hidupnya yang entah masih bersetatus suaminya atau bukan dan Wilu tak peduli yang penting dia sudah berhasil menuliskan nama Darren dalam akta kelahiran putranya.
Wilu tinggal di mess yang di sediakan pihak hotel untuk karyawannya, dan sahabat Wilu sang empu hotel tidak mengurusi masalah pribadi Wilu yang hamil tanpa tau siapa suaminya, yang penting kinerja Wilu.
Dalam kurun waktu tiga bulan Wilu sudah sukses menjabat kepala bagian yang juga bertanggungjawab di bagian public relation.
Wilu bekerja dengan profesional, cukup dulu bos jadi sahabat dan berakhir berkembang biak dan menjadi rumit. Wilu membatasi hubungan dengan lawan jenis, Wilu kapok berurusan dengan mahluk berjenis kelamin laki-laki, tapi jangan salah meski kapok dia tidak akan membengkokkan seleranya.
Setelah mengantarkan putranya ke Day care Wilu datang ke hotel tempat kejanya, Wilu berjalan sangat berwibawa dengan dengan busana muslim, terlihat aura dingin tak tersentuh namun tetap ramah.
Meski masalalu Wilu sempat porak poranda, dia tetap menjadi maghnet untuk orang sekelilingnya.
"Pagi mbak Ajeng... Tadi Bu Liana meng infokan ke saya akan ada panitia Asosiasi pengusaha Kayu yang akan mengadakan pertemuan selama dua hari disini." Clara salah satu anak buah Wilu, namun Wilu tidak pernah menganggap anak buahnya sebagai bawahannya, dia selalu menganggap mereka itu tim work, makanya Wilu sangat di segani dan di sukai para bawahannya.
Oh iya Ajeng, nama Wilu yang lain, dia benar-benar memulai hidup barunya bahkan mengganti nama panggilannya yang dulu Wilu menjadi Ajeng.
"Ok, jam berapa mereka akan datang Ra??" Jawab Wilu dengan wajah full senyum manisnya, dan di tambah sekarang ada kacamata menghiasi wajahnya.
"Sekitar jam sembilan mbak".
"Ok sampaikan ke resepsionis kalau mereka datang tolong saya segera di hubungi ya???"
"Siap, mbak bos..." Clara tersenyum dan besikap hormat satu jari kepada Wilu
" Eiit.... Di sini bosnya Bu Kelly bukan aku Ra" Teriak Wilu pada Clara yang sudah keluar dari ruangan Wilu, dan Wilu hanya tersenym dan menggeleng kan kepala.
Jam sembilan lima belas menit, panitia yang akan mengadakan Konfrensi Asosiasi Pengusaha Kayu Indonesia, hotel akan di booking selama tiga hari, peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang tergabung dalam asosiasi tersebut.
Mereka mendiskusikan dari hall, menu, jumlah kamar dan fasilitas yang di butuhkan apa saja. Meski hal baru bagi Wilu dalam menyajikan pelayanan jasa, namun dia mampu menanganinya dengan baik.
...
Surabaya
"Kamu sudah siap kekantor lagi Ren??" Tanya papa Darren kepada putranya yang terlihat sudah rapi dengan setelan kerjanya dan siap untuk sarapan bersama, setelah pulang dari RS Darren tinggal di rumah orang tuannya agar ada yang merawatnya dan bisa bangkit dari keterpurukan karena di tinggal Wilu istrinya.
"Iya pa... Dokter sudah mengijinkan Darren untuk kembali kerja, dan rongen terakhir tulangnya sudah baik". Jelas Darren kepada papanya.
"Ada kabar dari Wilu Ren??" Kali ini mama Darren datang ikut duduk di ruang makan membawa segelas susu untuk putranya.
"Belum ma, aku juga belum tau bagaimana kabar putraku." Derren memejamkan matanya rapat menahan rasa panas di matanya.
"Apa sanak saudaranya di Jogja tidak ada yang tau dimana keberadaannya??" Papa Darren juga heran kemana perginya Wilu sampai tidak ada jejaknya.
"Pas Darren ke Jogja, budhe Santi bilang pas nenek meninggal HP Wilu jatuh dan rusak, kemudian dia belum membeli hp lagi, sampai dia pamit dari Jogja yang katanya kembali ke Surabaya." Darren sempat ke Jogja mencari keberadaan istrinya, dia juga kaget karena tidak ada yang mengabari kalau nenek Wilu meninggal, ternyata hp Wilu rusak.
"Yah... Semoga Tuhan segera mempertemukan kalian, dan menyelesaikan kesalah pahaman kalian."
"Oh iya Ren, kamu minggu depan ke Jakarta ya ikut menghadiri konfrensi Asosiasi Pengusaha Kayu Indonesia ya mewakili Papa."
"Nggak ah Pa... Itu urusan para orang tua." Derren menolak karena memang dia paling malas urusan seperti itu.
"Asosiasi butuh para pemuda untuk menjalankannya, karen para orang tua seperti papa ini menjadi pendukung di belakang saatnya yang muda berada di depan."
"Iya Ren... Dulu papamu aktif lho jadi pengurusnya, masak anaknya malas-malasan, jangan malu-maluin papa dong!" Kali ini Mama Darren si mamak sosialita yang bangga suaminya jadi Ketua bidang yang bisa buat bangga-banggan di arisan mamak sosialita.
"Udah sana berangkat, papa udah daftrarin kamu ke panitia, jangan lupa pas pemilihan ketua, kamu pilih Om Arifin ya, dia orangnya tegas dan selalu sesuai aturan kalau menjalankan roda organisasi."
"Oke lah Pah... Biar mamah bangga, bisa nambah daftar cerita kalau arisan, ya kan mah??". Jawab Darren menggoda mamahnya yang gila sanjungan.
Bersmabung
KAMU SEDANG MEMBACA
Stuck With Best Friend
Historia Corta*END* Kisah dua orang sahabat yang terjebak dalam hubungan rumit **** "Dengar Darren, pernahkah gue bilang ke elo sebelumnya bahwa elo perkosa gue??? Pernahkan gue minta tanggung jawab ke elo soal kehamilan gue???". Aku sebenarnya marah, tapi apa ya...
