*****
Jam menunjukkan pukul lima sore. Itu tandanya waktu pulang bagi para karyawan. Di lantai dua puluh tiga, ruang kerja masih dipenuhi bunyi ketikan, dering telepon, dan suara mesin fotokopi yang bekerja tanpa henti sejak pagi. Namun perlahan, satu per satu meja mulai kosong.
Di salah satu sudut ruangan, seorang wanita yang sedari tadi sibuk bergelut dengan komputer di hadapannya segera merapikan dokumen yang berserakan di atas meja. Tangannya cekatan memasukkan berkas ke dalam map, menutup laptop, lalu memasukkan semua perlengkapannya ke dalam tas kulit berwarna cokelat muda. Wanita itu adalah Zoya Nazira Alifiana, yang kerap disapa Nazira.
Nazira adalah seorang sekretaris pribadi dari CEO di tempat ia bekerja. Jabatan itu tidak ia dapatkan tanpa alasan. Ia adalah wanita yang cerdas, lulusan dengan predikat cumlaude dari salah satu universitas ternama. Selain pintar, Nazira juga dikenal rajin dan sangat disiplin. Dalam empat tahun masa kerjanya, ia tidak pernah sekalipun datang terlambat. Ia selalu hadir tiga puluh menit sebelum jam kerja dimulai, memastikan semua agenda pimpinan sudah tersusun rapi. Karena kedisiplinan dan loyalitas itulah, direksi memilihnya menjadi sekretaris utama.
Pada saat hendak mengambil tasnya, Nazira dikejutkan oleh kedatangan atasannya. Langkah kaki yang tenang, aroma parfum yang familiar, dan bayangan yang menutupi mejanya membuat Nazira mendongak.
"Maaf, Pak. Ada sesuatu yang bisa saya bantu?" tanya Nazira sopan, berdiri setengah dari kursinya.
Atasannya tidak langsung menjawab. Laki-laki itu hanya tersenyum kecil, matanya menatap wajah Nazira yang terlihat bingung. Ekspresi Nazira yang polos itu justru membuat sang atasan semakin betah memandangnya. Perlahan, ia mendekatkan tubuhnya ke arah Nazira, lalu berbisik dengan suara rendah,
"Bisakah kau menemaniku makan malam, cantik?"
Nazira yang mendengar kalimat itu langsung tersenyum. Ia tidak terkejut. Ajakan seperti ini bukan yang pertama kali. Dengan nada menggoda, ia membisikkan jawaban,
"Dengan senang hati, Tuan," ucap Nazira sambil tertawa kecil.
Setelah mengucapkan itu, sang atasan berlalu meninggalkan Nazira. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan, ia sempat menoleh dan berkata, "Saya tunggu di basement."
Nazira mengangguk, lalu kembali duduk sebentar. Ia menarik napas panjang. Meskipun ajakan makan malam dengan atasannya sudah sering terjadi, entah mengapa jantungnya selalu berdebar setiap kali mendengar suara laki-laki itu.
Sebelum turun ke basement, Nazira memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke toilet. Ia berdiri di depan cermin, merapikan blus putih dan rok span hitam yang ia kenakan. Ia mencuci muka agar terlihat sedikit lebih segar setelah seharian bekerja di ruangan ber-AC. Tidak hanya itu, ia juga menaburkan sedikit bedak di wajahnya, lalu memoleskan lipstik berwarna nude di bibirnya. Dari dalam tas, ia mengeluarkan botol parfum kecil, menyemprotkannya ke pergelangan tangan dan ke area leher. Terakhir, ia menyisir rambut panjangnya yang sedikit berantakan, memastikan tidak ada anak rambut yang keluar jalur.
Merasa sudah cukup rapi, Nazira keluar dari toilet. Ia berjalan menuju lift, menekan tombol B. Lift meluncur turun dengan tenang. Begitu pintu terbuka, aroma basement yang khas langsung menyambut. Ia melangkah menuju area parkir khusus direksi. Tidak perlu mencari lama, karena mobil atasannya selalu terparkir di tempat yang sama.
Sebuah mobil BMW berwarna putih mengilap sudah menyalakan lampu. Nazira mempercepat langkahnya, lalu membuka pintu penumpang depan dan masuk ke dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nazira
Romance"LO HARUS TOLAK PERJODOHAN INI!!!" Ucap wanita itu yang sangat kesal dengan lelaki yang di hadapannya itu yang sama sekali tidak menolak dengan perjodohan ini. "Maaf, saya tidak bisa." Jawaban dari lelaki itu membuat sang wanita itu semakin emosi. "...
