TIGA PULUH DELAPAN

407 31 71
                                        

⚠️WARNING⚠️
Jadikan Al Qur'an bacaan utama ya guys🤗

Rasulullah SAW memberi motivasi, "Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebajikan, sedangkan dari kebajikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." Maka jika seorang Muslim membaca setiap hari 10 ayat, sudah berapa kebaikan yang dicatat oleh Allah kepadanya?

Jangan sampai kita lupa untuk membaca Al Qur'an walaupun dalam sehari hanya 1 ayat🥰

Happy reading

*****

Adzan subuh berkumandang. Suara muazim dari masjid dekat rumah mengalun pelan, memecah keheningan malam.

Nazira mengerjapkan matanya ketika mendengar suara itu. Semalam tidurnya memang tidak terlalu nyenyak. Ia melihat ke arah jam dinding yang tergantung. Jarumnya menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh.

Ia refleks menatap ke sebelah ranjang. Kosong. Bantalnya masih dalam keadaan semula tanpa terlihat tersentuh. Fikirannya langsung melayang entah kemana. Apakah Rakhan tidak pulang semalam setelah mengantar Adiba?

Dadanya kembali terasa sesak. Nazira segera bangkit dan duduk. Hatinya bertanya-tanya. Pantas saja tidak ada yang membangunkannya ketika adzan subuh berkumandang. Ternyata memang suaminya itu tidak pulang semalam.

Nazira turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Ia berjalan menuju kamar mandi dan berwudhu. Air dingin menyentuh wajahnya membuat pikirannya sedikit lebih jernih.

Setelah selesai berwudhu, ia kembali ke kamar dan menggelar sajadah.

Dalam sujudnya, air matanya terjatuh. Ia tak mampu menahan air mata itu.

Usai salam, ia duduk sejenak. Hening. Hanya ada bunyi detak jarum jam.

Nazira mengangkat tangannya untuk berdoa. Telapak tanganya terbuka. Ia lalu melafalkan doa untuk ibu nya yang telah kembali kepada sang pencipta.

Dadanya kembali merasa sesak ketika mengingat rumah tangganya. Bibirnya bergetar ketika ingin memanjatkan doa.

Air mata kembali mengalir, "Ya Allah, Jauhkan kami dari prasangka, dari luka, dan dari perpisahan. Jagalah rumah tanggaku dengan keberkahan-Mu. Titipkan suamiku dalam penjagaan-Mu."

Setelah berdoa, Nazira mengusap wajahnya perlahan. Dadanya terasa lebih ringan.

Ia merapikan sajadah, lalu melipatnya dengan hati-hati. Mukena disimpan kembali kedalam lemari.

Nazira menarik napas panjang. Dadanya naik turun pelan, seolah melepaskan semua beban yang mendendap sejak malam.

Lalu ia berjalan keluar kamar untuk mengambil air karena merasa tenggorokannya terasa sangat kering. Ia berjalan hati-hati karena merasa kepalanya sedikit pusing.

Koridor rumah masing remang. Hanya lampu kecil di ruang tengah yang menyala. Udara subuh terasa sejuk dan membawa aroma embun dari luar jendela.

Sesampainya di dapur, Nazira mengambil gelas. Lalu menuangkan air kedalam gelas. Ia meneguknya perlahan. Rasa dingin itu membuat tenggorokannya yang tadinya serak menjadi lega.

NaziraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang