⚠️WARNING⚠️
Jadikan Al Qur'an bacaan utama ya guys🤗
Rasulullah SAW memberi motivasi, "Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebajikan, sedangkan dari kebajikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." Maka jika seorang Muslim membaca setiap hari 10 ayat, sudah berapa kebaikan yang dicatat oleh Allah kepadanya?
Jangan sampai kita lupa untuk membaca Al Qur'an walaupun dalam sehari hanya 1 ayat🥰
Happy reading
*****
"Assalamualaikum," ucap Adiba sambil mengetuk pintu kayu itu pelan. Suaranya terdengar sopan, namun ada sedikit kegugupan.
Dari dalam terdengar jawaban yang tenang milik Kyai Zubair.
"Wa'alaikumsallam, masuk, nduk."
Mendengar izin itu, Adiba tidak langsung masuk. Ia berdiri sejenak di depan pintu. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia merapikan hijabnya terlebih dahulu. Setelah itu ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdegup lebih cepat dari biasanya.
Adiba kemudian mendorong pintu perlahan dan masuk dengan kepala tertunduk. Sikapnya menunjukkan adab kepada orang yang lebih tua. Langkahnya hati-hati, tidak menimbulkan suara.
Di dalam ruangan, Kyai Zubair duduk di kursi kayu. Wajah beliau teduh, sorot matanya dalam dan serius.
Di sebelah Kyai Zubair, duduk pula Gus Zidan—abi nya Rakhan. Pakaian koko putih yang di kenakannya rapi. Ekspresi wajahnya tidak berubah, tetapi dari hadirnya beliau terlihat bahwa pembicaraan kali ini penting.
Begitu melihat Adiba masuk, Kyai Zubair mengangguk pelan. "Duduk, nduk."
Adiba segera melangkah menuju kursi yang tersedia, lalu duduk dengan posisi yang rapi. Kedua tangannya ia letakkan di atas pangkuan.
Suasana di dalam ruangan menjadi hening beberapa saat. Hanya terdengar kipas angin yang berputar pelan di atas. Adiba dapat merasakan tatapan Kyai Zubair dan Gus Zidan tertuju padanya.
Kyai Zubair kemudian membuka suara. Nada bicaranya tetap tenang, tetapi setiap katanya terdengar tegas.
"Nduk Adiba, mbah memanggil ke sini karena ada hal yang perlu kita bicarakan bersama," ucap Kyai Zubair memulai. Suara beliau tenang, tetapi setiap katanya terdengar memiliki bobot.
Adiba mengangguk pelan. Ia tidak langsung menjawab. Kepalanya masih tertunduk.
"Nggih, mbah," jawabnya lirih.
Kyai Zubair menarik napas panjang sebelum melanjutkan. Wajah beliau menunjukkan kesungguhan. "Sebelumnya, Mbah minta maaf sama kamu. Karena awal perjodohan Nazira dan Rakhan itu atas perintah saya. Tetapi, saya tidak pernah tahu jika Rakhan sebelumnya pernah mengkhitbah kamu."
Mendengar kalimat itu, dada Adiba terasa sesak. Ia menggenggam ujung lengan abayanya. Ia tidak menyela. Hanya mengangguk kecil sebagai tanda bahwa ia mendengarkan.
Kyai Zubair terdiam sesaat. Pandangan beliau lurus ke depan, seolah menimbang kata-kata yang akan diucapkan selanjutnya.
"Karena saat itu saya sedang pergi Umroh," lanjut Kyai Zubair. "Dan setelah saya pulang, Rakhan justru kembali belajar di Kairo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nazira
Romansa"LO HARUS TOLAK PERJODOHAN INI!!!" Ucap wanita itu yang sangat kesal dengan lelaki yang di hadapannya itu yang sama sekali tidak menolak dengan perjodohan ini. "Maaf, saya tidak bisa." Jawaban dari lelaki itu membuat sang wanita itu semakin emosi. "...
