Assalamualaikum gaess, sudah cukup lama tidak menyapa kalian, setelah hiatus lama, aku memutuskan untuk merevisi ulang cerita Nazira dari awal sampai akhir karena masih banyak yang berantakan, semoga kalian tetap suka dan selalu menunggu, terimakasih🫶
*****
Zoya Nazira Alifiana adalah seorang wanita berusia dua puluh lima tahun. Ia memiliki paras yang cantik dengan kulit putih bersih, mata yang lebar, alis yang tebal, serta hidung yang mancung. Di balik penampilannya yang menarik, Nazira dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras, cerdas, dan mandiri. Sejak lulus kuliah, ia memilih membangun karier di dunia bisnis dan berhasil menduduki posisi yang cukup tinggi di perusahaan tempatnya bekerja.
Meskipun usianya sudah memasuki dua puluh lima tahun, Nazira belum pernah menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Bukan karena tidak ada yang mendekati, melainkan karena ia tidak pernah memikirkan urusan asmara. Baginya, uang dan pencapaian adalah segalanya. Menurut Nazira, urusan laki-laki itu mudah. Jika suatu saat ia butuh, tinggal memilih. Fokusnya hanya pada bagaimana meningkatkan penghasilan, memperluas relasi, dan membuktikan bahwa seorang wanita bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bergantung pada siapa pun.
Berbeda dengan Nazira, Rafaizan Rakhan Zubair tumbuh di lingkungan yang sangat religius. Ia memiliki tubuh tinggi, kulit putih, hidung mancung, dan tatapan mata yang tajam sekaligus teduh. Tidak hanya tampan, Rakhan juga dikenal cerdas dan berakhlak mulia. Ia adalah seorang hafiz Al-Qur'an yang telah menyelesaikan hafalan tiga puluh juz sejak usia muda.
Rakhan adalah cucu dari pemilik Pondok Pesantren Daarul Ulum, sebuah pesantren besar yang dihormati di kotanya. Sejak kecil, ia hidup di lingkungan pesantren. Ia dibesarkan dengan nilai-nilai agama yang kuat, diajarkan untuk menghormati orang tua, menjaga pandangan, serta memuliakan wanita. Didikan tersebut membentuk Rakhan menjadi sosok laki-laki yang saleh, tenang, dan bertanggung jawab. Dalam kesehariannya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengajar santri, mengaji, dan membantu pengelolaan pesantren bersama kakeknya.
Meski sudah memasuki usia tiga puluh tahun, Rakhan belum menikah. Bukan karena tidak ada yang mau, tetapi karena ia menyerahkan urusan jodoh sepenuhnya kepada Allah dan kepada restu kakeknya. Baginya, menikah adalah ibadah. Ia tidak ingin terburu-buru, apalagi hanya karena tekanan usia atau lingkungan.
Takdir kemudian mempertemukan dua dunia yang sangat berbeda melalui perjodohan. Kakek Rakhan, Kyai Zubair, adalah pengasuh Pondok Pesantren Daarul Ulum. Beliau memiliki kedekatan khusus dengan Khairunnisa, ibunda dari Nazira. Nisa adalah salah satu murid perempuan yang paling rajin dan cerdas pada masanya. Setelah lulus dari pesantren, Nisa tetap menjaga silaturahmi dengan Kyai Zubair. Ia sering berkonsultasi, meminta nasihat, dan terkadang bercerita tentang putri semata wayangnya, Nazira.
Sebagai seorang ibu, Nisa merasa khawatir. Nazira semakin dewasa, kariernya semakin bagus, tetapi hatinya tertutup untuk pernikahan. Setiap kali disinggung soal jodoh, Nazira selalu menolak dengan alasan yang sama. "Aku belum butuh, mom. Nikah itu ribet. Aku masih mau fokus kerja." Nisa bingung. Ia takut putrinya akan kesepian di masa tua. Akhirnya, ia menceritakan kegelisahannya kepada Kyai Zubair.
Di sisi lain, Kyai Zubair juga memikirkan cucunya, Rakhan. Usianya sudah tiga puluh tahun, tetapi belum juga membawa calon istri. Padahal, banyak orang tua santri yang berharap bisa menjadikan Rakhan sebagai menantu. Namun, Rakhan selalu menjawab dengan tenang, "Kulo manut, Mbah. Kulo mboten milih-milih. Sing penting ridhone panjenengan lan ridhone Allah."
Setelah menimbang dan memohon petunjuk kepada Allah, Kyai Zubair menyampaikan niatnya kepada Nisa. Beliau ingin menjodohkan Rakhan dengan Nazira. Menurut beliau, Nazira membutuhkan sosok yang bisa membimbing dengan lembut, sementara Rakhan membutuhkan istri yang cerdas dan bisa menjadi teman diskusi. Keduanya saling melengkapi. Nisa menyetujui dengan harapan putrinya bisa lebih dekat dengan agama melalui Rakhan.
Keputusan itu sampai ke telinga Nazira dan Rakhan. Reaksi keduanya bertolak belakang.
Rakhan menerima dengan lapang dada. Baginya, ini adalah perintah kakek sekaligus guru yang ia hormati. Ia yakin, pilihan kakeknya adalah yang terbaik. Ia tidak mengenal Nazira secara pribadi, tetapi ia siap menjalankan amanah ini sebagai bentuk bakti. "Insyaallah, kalau memang jodoh, Allah akan buka hatinya," ucap Rakhan ketika diminta pendapat.
Sebaliknya, Nazira marah besar. Ia merasa hidupnya diatur. Ia tidak terima dijodohkan dengan laki-laki yang bahkan belum pernah ia temui. Di matanya, perjodohan adalah sesuatu yang kuno, tidak masuk akal, dan merampas kebebasan.
Pertemuan pertama mereka pun terjadi di ruang tamu rumah Nisa, dengan disaksikan oleh Kyai Zubair dan kedua orang tua. Suasana canggung. Rakhan datang dengan pakaian rapi, koko putih, dan peci hitam. Wajahnya tenang, bicaranya santun. Sementara Nazira datang dengan wajah datar, pakaian kerja, dan tatapan yang jelas menunjukkan penolakan.
Setelah pertemuan itu, Nazira tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia meluapkan semua kekesalannya kepada Rakhan lewat telepon.
"Lo harus tolak perjodohan konyol ini!"
Rakhan hanya membalas, "Ini permintaan Mbah Kyai. Saya tidak bisa menolak."
Jawaban itu justru membuat Nazira semakin panas. Baginya, Rakhan adalah laki-laki munafik yang bersembunyi di balik gelar saleh.
"Lo adalah cowo paling munafik yang pernah gue temuin!"
"Cowo kaya lo mana bisa menuhin kebutuhan gue yang banyak," lanjutnya lagi. "Bilang aja, kalo lo mau nikah sama gue karena harta gue lebih banyak kan daripada, lo."
Rakhan tetap diam. Ia tidak membalas dengan amarah. Ia hanya mendengar, lalu beristigfa dalam hati. Ia tahu, melawan emosi dengan emosi tidak akan menyelesaikan masalah.
Namun, Nazira tidak berhenti. Amarahnya memuncak.
"Shitt, banyak bacot, lo!"
Puncaknya, ia mengucapkan kalimat yang menohok.
"Nggak usah nutupin kebusukan, lo. Apalagi dengan gelar Hafidz!"
Kalimat itu membuat Rakhan terdiam lama. Bukan marah, tetapi terluka. Gelar hafiz bukan untuk menutupi keburukan, melainkan amanah dari Allah yang ia jaga dengan seluruh hidupnya. Meski begitu, ia memilih tidak membalas. Ia hanya berdoa, "Ya Allah, lembutkan hatinya. Kalau dia memang jodohku, mudahkan jalannya."
Lalu, bagaimana kisah mereka berdua?
Nazira yang selalu menolak perjodohan ini dengan seluruh logika dan egonya. Ia tidak percaya pada cinta yang datang karena diatur. Ia tidak yakin bisa hidup dengan laki-laki yang dunianya jauh berbeda. Baginya, Rakhan hanya simbol dari semua hal yang ingin ia hindari: aturan, batasan, dan kepasrahan.
Sementara itu, Rakhan yang mengikuti permintaan sang kakek dengan penuh ketundukan. Ia tidak memaksa Nazira, tidak pula mengejar. Ia hanya hadir, menjaga adab, dan menunjukkan akhlak. Ia tahu, hati bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Hati hanya bisa disentuh dengan kelembutan dan doa.
Akankah mereka akan bersatu?
Akankah Nazira yang keras kepala dan materialistis mampu melunakkan hatinya untuk menerima Rakhan?
Dan akankah Rakhan, dengan kesabaran dan kesalehannya, kuat menghadapi sifat Nazira yang tidak pernah membuka hatinya?
Waktu yang akan menjawab. Karena jodoh adalah rahasia Allah. Manusia hanya bisa berencana, berdoa, dan berusaha. Selebihnya, biarkan takdir yang bekerja, mempertemukan dua hati yang berbeda, di jalan yang tak pernah mereka duga.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Nazira
Romance"LO HARUS TOLAK PERJODOHAN INI!!!" Ucap wanita itu yang sangat kesal dengan lelaki yang di hadapannya itu yang sama sekali tidak menolak dengan perjodohan ini. "Maaf, saya tidak bisa." Jawaban dari lelaki itu membuat sang wanita itu semakin emosi. "...
