Next 1k vote + 1k coment! Jangan jadi cilent readers!!
⚠️WARNING⚠️
Jadikan Al Qur'an bacaan utama ya guys🤗
Rasulullah SAW memberi motivasi, "Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebajikan, sedangkan dari kebajikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." Maka jika seorang Muslim membaca setiap hari 10 ayat, sudah berapa kebaikan yang dicatat oleh Allah kepadanya?
Jangan sampai kita lupa untuk membaca Al Qur'an walaupun dalam sehari hanya 1 ayat🥰
Happy reading
****
Nazira menatap foto yang terpajang di dinding kamar. Air matanya kembali jatuh ketika melihat foto itu. Dalam foto tersebut, ia berdiri di samping Nisa pada hari pernikahannya. Senyum Nisa lebar, matanya teduh, tangannya menggenggam tangan Nazira erat. Hari itu, ibunya terlihat paling bahagia. Hari ini, ibunya sudah tidak ada.
Rakhan yang menyadari istrinya terdiam lama, berjalan mendekati Nazira. Tanpa bertanya, ia segera memeluk tubuh Nazira dengan erat. Pelukannya hangat, menenangkan, sekaligus menahan tubuh Nazira yang mulai gemetar.
Nazira tidak lagi mampu menahan tangis. Ia menangis di pelukan Rakhan. Air matanya membasahi baju koko bagian depan suaminya hingga terasa lembap di kulit. Rakhan tidak berbicara. Ia hanya mengelus punggung Nazira perlahan, berirama, seperti isyarat bahwa Nazira tidak sendirian. Bahwa ada yang menguatkan, ada yang menemani, meski duka tidak bisa dihapus begitu saja.
Dari arah pintu, terdengar langkah pelan. Fatimah, ibu mertua Nazira, baru saja tiba. Ia menghampiri putra dan menantunya yang masih berpelukan. Wajahnya penuh prihatin, matanya juga berkaca-kaca.
"Zira, kamu istirahat dulu, ya?" ucap Fatimah lembut. Suaranya pelan, berusaha tidak menambah beban di dada menantunya.
Nazira menoleh. Matanya sembab. Ia mengangguk pelan.
Setelah itu, Nazira melepaskan pelukannya dari Rakhan. Ia mendongak, menatap wajah suaminya yang teduh. Suaranya bergetar ketika berbicara, "Aku ke kamar, ya."
Rakhan mengangguk. Tangannya masih sempat mengusap lengan Nazira sebelum melepaskan. "Istirahat. Kalau butuh apa-apa, panggil aku."
Nazira berjalan pelan menuju kamar. Langkahnya berat. Pintu kamar ia tutup perlahan. Di dalam, hanya ada sunyi. Sunyi yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan. Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi sekeliling. Semua masih sama, tapi terasa berbeda karena satu orang yang paling ia cintai sudah tidak ada di dunia ini.
****
Pukul tiga sore, pintu kamar Nazira diketuk. Suara ketukan itu membangunkannya dari tidur singkat yang tidak nyenyak. Ia mengusap wajah, mengatur napas, lalu berjalan membuka pintu.
Di depan pintu berdiri Rakhan. Ia sudah mengenakan baju koko lengan pendek dan sarung. Wajahnya bersih, rambutnya masih sedikit basah. Aroma sabun tercium samar.
"Shalat Ashar dulu, yuk," ajak Rakhan. Nada suaranya tenang, tidak memaksa, hanya mengingatkan.
Tanpa basa-basi, Nazira mengangguk. "Sebentar ya, aku mandi dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nazira
Romance"LO HARUS TOLAK PERJODOHAN INI!!!" Ucap wanita itu yang sangat kesal dengan lelaki yang di hadapannya itu yang sama sekali tidak menolak dengan perjodohan ini. "Maaf, saya tidak bisa." Jawaban dari lelaki itu membuat sang wanita itu semakin emosi. "...
