TIGA PULUH SEMBILAN

407 34 126
                                        

⚠️WARNING⚠️
Jadikan Al Qur'an bacaan utama ya guys🤗

Rasulullah SAW memberi motivasi, "Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebajikan, sedangkan dari kebajikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." Maka jika seorang Muslim membaca setiap hari 10 ayat, sudah berapa kebaikan yang dicatat oleh Allah kepadanya?

Jangan sampai kita lupa untuk membaca Al Qur'an walaupun dalam sehari hanya 1 ayat🥰

Happy reading

*****

Pintu uks terbuka menampilkan ustadzah yang sedang berjaga. Wajahnya tampak terkejut ketika melihat Rakhan datang dengan tergesa sambil menggendong Nazira yang tidak sadarkan diri.

Dengan langkah terburu-buru, Rakhan langsung memasuki ruangan. Napasnya tidak beraturan dan peluh membasahi pelipisnya. Tanpa membuang waktu, ia segera meletakkan tubuh Nazira di atas brankar dengan hati-hati.

"Ya Allah, kenapa ini, gus?" Tanya ustadzah panik sambil segera menghampiri.

Ustdzah membantu merapikan posisi Nazira di atas brangkar. Ia memeriksa nadi, kemudian mengambilkan selimut tipis untuk menyelimuti tubuh Nazira yang mulai dingin.

Rakhan berdiri di samping brangkar, menatap istrinya dengan cemas. Tangannya mengepal menahan panik, sementara pikirannya di penuhi rasa bersalah dan takut kehilangan.

"Ustadzah, tolong cepat periksa," ucap Rakhan dengan suara tercekat.

Ustadzah mengangguk cepat. Ruangan uks yang biasanya tenang kini di penuhi kecemasan.

Rakhan mundur beberapa langkah ketika ustadzah itu mulai memeriksa kondisi Nazira. Kedua matanya tak lepas menatap wajah pucat istrinya yang terbaring lemah di atas brankar. Di dalam hatinya ia tidak henti melafadzkan doa. Rasa cemas menguasai dirinya, bercampur dengan rasa bersalah yang dalam. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena pertengkaran yang baru saja terjadi di lapangan.

Di sela kecemasannya, tak lama kemudian terdengar seseorang memanggilnya dari arah pintu.

"Lee..."

Suara itu dalam dan berat, namun sangat ia kenal.

Rakhan menoleh ke arah sumber suara. Tubuhnya seketika menegang ketika mengetahui siapa yang datang—Kyai Zubair. Wajah tuanya yang penuh wibawa berdiri di ambang pintu uks. Sorot matanya tajam, tetapi tidak menghakimi.

Ia segera menundukkan kepala sebagai bentuk hormat, lalu bergegas keluar dari ruangan untuk menghampiri kakeknya itu.

"Mbah dengar dari ustadz Fahri, kamu bertengkar?" Tanya Kyai Zubair. Suaranya tenang, namun mengandung wibawa.

Rakhan tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa detik untuk mengumpulkan keberanian.

"Nggih, mbah," jawabnya pelan.

"Lalu, kenapa nduk Zira bisa pingsan?" Tanya Kyai Zubair lagi dengan nada yang lebih tinggi dan serius.

Rakhan menggeleng. Tenggorokannya tercekat. "Afwan, mbah. Rakhan juga tidak tahu. Tadi kami sedikit berdebat, lalu Nazira tiba-tiba pingsan," jelas Rakhan dengan suara bergetar.

NaziraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang