DUA

12.9K 880 25
                                        

*****

"Mommy akan jodohkan kamu dengan cucu kyai Zubair!"

Kalimat itu meluncur dari bibir Nisa dengan tegas. Suaranya menggema di ruang tamu yang sepi. Tidak ada keraguan, tidak ada nada bercanda. Hanya ketetapan seorang ibu yang sudah mengambil keputusan.

Mendengar ucapan sang Mama, Nazira sedikit terkejut. Matanya membesar sesaat, lalu ia tertawa. Tawa yang tidak terdengar tulus, lebih mirip ejekan.

"Bercandanya nggak lucu, mom," ucap Nazira sambil menyilangkan tangan di depan dada.

Nisa melangkah mendekat. Tatapannya lurus menatap mata putrinya. "Kamu pikir Mommy mengatakan itu bercanda? Tidak, Zira. Mommy serius," ucap Nisa seraya menekankan kata serius.

Nazira menggeleng pelan. Senyumnya hilang, berganti ekspresi tidak percaya. "Come on, Mom. What year is it now? Tahun 2026 masih menggunakan perjodohan? Kuno!"

"Ini semua demi kebainkamu!" suara Nisa meninggi. Ia tidak ingin dibantah, apalagi diremehkan.

"Kebaikanku?" Nazira balas menatap. Nada suaranya mulai meninggi, kesal. "Aku sendiri saja tidak tahu laki-laki seperti apa yang akan Mommy jodohkan denganku, tapi Mommy bilang demi kebaikanku??" tanya Nazira.

Nisa menarik napas panjang. Ia mencoba meredam emosinya. Dengan suara yang lebih tenang, ia menjelaskan, "Dia cucu Kyai Zubair, pemilik Pondok Pesantren Daarul Ulum. Dia juga seorang hafiz Al-Qur'an. Dia lulusan Al-Azhar di Kairo, Mesir. Mommy yakin dia bisa membuatmu bahagia."

Nazira mendengus. "Bahagia? Apakah dia seorang pengusaha seperti Andhika? Apakah dia lebih kaya dari Andhika? Jika iya, maka Zira akan setuju dengan perjodohan ini. Jika tidak, jangan harap Zira terima perjodohan ini!"

Setelah mengucapkan kalimat itu, Nazira berlalu pergi meninggalkan ibunya. Langkahnya cepat, tanpa menoleh.

"Kebahagiaan tidak diukur dari uang, Zira!" teriak Nisa dari bawah tangga.

"Tapi bagiku, uang bisa mengukur seberapa bahagia kita!" Bantah Nazira dari atas, lalu membanting pintu kamarnya.

*****

Di dalam kamar, Nazira sangat emosi. Dadanya naik turun menahan marah. Dia sangat tidak habis pikir dengan Mommynya yang akan menjodohkan dia dengan laki-laki yang dia kenal saja tidak.

"Gila gue lama-lama kalau kayak gini," gumam Nazira sambil merebahkan dirinya di kasur. Matanya menatap langit-langit kamar.

Dia berpikir, laki-laki seperti apa yang akan dijodohkan dengannya. Terlebih lagi cucu Kyai Zubair? Oh tidak. Nazira tidak bisa bersama dengan laki-laki modelan seperti itu. Di bayangan Nazira, cucu Kyai pasti kaku, kolot, ceramah setiap menit, dan tidak mengerti dunia bisnis. Dunia yang selama ini ia banggakan.

Cukup lama Nazira berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk mandi supaya badannya lebih segar. Mungkin dengan air dingin, kepalanya bisa lebih jernih.

Nazira beranjak dari kasur menuju meja riasnya. Ia mengambil kapas dan micellar water, lalu membersihkan sisa-sisa makeup yang ada di wajahnya. Setelah wajahnya bersih, tidak butuh lama ia langsung menuju kamar mandi.

Air hangat mengguyur tubuhnya. Selama tiga puluh menit Nazira berada di kamar mandi. Ia sengaja berlama-lama, merendam diri di bathtub, berharap bisa melupakan percakapan tadi.

NaziraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang