⚠️WARNING⚠️
Jadikan Al Qur'an bacaan utama ya guys🤗
Rasulullah SAW memberi motivasi, "Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebajikan, sedangkan dari kebajikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." Maka jika seorang Muslim membaca setiap hari 10 ayat, sudah berapa kebaikan yang dicatat oleh Allah kepadanya?
Jangan sampai kita lupa untuk membaca Al Qur'an walaupun dalam sehari hanya 1 ayat🥰
Happy reading
*****
Adzan isya baru saja selesai berkumandang. Suaranya yang syahdu menggema dari menara masjid.
Tamu-tamu tahlilan mulai berdatangan satu per satu. Sebagian besar adalah ibu-ibu pengajian dari sekitar komplek dan juga para kerabat jauh.
Nazira masih duduk di samping Aisyah, tangannya meremas ujung abaya hitamnya. Ia mencoba fokus pada dzikir, yang di pimpin oleh suaminya, Rakhan. Namun, fikirannya entah kemana. Kosong, lalu penuh, lalu kosong lagi.
Sesekali Nazira melirik kesamping. Adiba duduk sangat dekat dengan Fatimah. Bahkan, tangan Fatimah menggenggam erat tangan Adiba.
Melihat pemandangan itu, dada Nazira kembali terasa sakit. Sakit yang sudah lama ia kenal, tetapi tidak pernah ia pahami penyebabnya.
Ia bahkan tidak sedekat itu dengan Fatimah. Bahkan, tidak pernah.
"Zira, baca bareng nak." Bisik Aisyah di sampingnya, menyodorkan buku yasin.
Nazira mengangguk pelan. Ia membuka buku itu, walaupun matanya tidak membaca.
Acara tahlilan berjalan lancar hingga akhir. Suara lantunan doa dan dzikir perlahan mereda. Rakhan yang memimpin kemudian menutup dengan doa penutup.
Setelah itu, hidangan ringan berupa teh, kopi, dan beberapa macam kue mulai dihidangkan. Para tamu mengobrol pelan sambil menunggu waktu untuk berpamitan. Suasana yang semula hening berubah menjadi lebih hangat, meskipun masih dibalut rasa duka.
Tak lama kemudian, para tetangga dan kerabat mulai berpamitan untuk pulang. Mereka bersalaman satu persatu dengan Nazira dan seluruh anggota keluarga. Beberapa dari mereka menguatkan dan mendoakan agar Nazira selalu diberikan ketabahan.
"Semoga, almarhumah khusnul khatimah." Ujar salah satu wanita paruh baya yang hadir sambil menggenggam tangan Nazira.
"Aaminn, terima kasih banyak sudah hadir ya, bu." Jawab Nazira dengan suara bergetar.
Nazira berdiri dekat pintu. Ia ikut membungkuk dan bersalaman. Wajahnya ia buat setenang mungkin.
Setelah tamu terakhir keluar dari rumah, suasana mendadak menjadi sangat sepi dan hening. Hanya tersisa suara piring yang dibereskan dari dapur.
Nazira berjalan masuk ke dalam rumah. Langkahnya pelan. Ia menghampiri Rakhan yang sedang berbincang dengan ayahnya. Keduanya duduk di kursi kayu dekat jendela. Di atas meja terdapat dua cangkir teh yang sudah dingin dan sebuah Al-Qur'an kecil yang belum sempat dibereskan.
"Mas."
Suaranya lirih,
Rakhan menoleh. Alisnya sedikit terangkat. Ia menatap Nazira dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada terkejut, ada ragu, dan ada sesuatu yang lain yang Nazira tidak berani menebaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nazira
Romance"LO HARUS TOLAK PERJODOHAN INI!!!" Ucap wanita itu yang sangat kesal dengan lelaki yang di hadapannya itu yang sama sekali tidak menolak dengan perjodohan ini. "Maaf, saya tidak bisa." Jawaban dari lelaki itu membuat sang wanita itu semakin emosi. "...
