2 (si kembar beda kepribadian)

2.1K 214 464
                                        

Keesokan Harinya

Fahri berangkat ke sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu, karena malas bertengkar dengan kakaknya yang setiap kali bertemu selalu mencari kesalahan Fahri. Fahri bersenandung riang saat pergi, dan ketika melewati seseorang yang dikenal, ia menyapa dengan ramah.

"Assalamualaikum warahmatullahi, Mak Enem!" sapa Fahri ramah saat ada wanita paruh baya berusia sekitar 50 tahun berjalan berpapasan dengannya.

"Bade mangkat sakola, jang?" tanya Mak Enem.

"Muhun mak, abdi bade indit sakola," jawab Fahri, bahkan mencium tangan kanan Mak Enem yang membuat wanita tua itu tersenyum.

"Nya indit weh jang, bising kaberangan sakola na," ucap Mak Enem.

Catatan:

bade mangkat sakolah artinya "mau berangkat sekolah, nak."

muhun mak, abdi bade indit sakola artinya "iya nek, aku mau berangkat sekolah."

nya indit weh jang, bising kaberangan sakola na artinya "iya berangkat saja nak, takut kesiangan sekolahnya."

Fahri melambaikan tangan ke arah Mak Enem, lalu melanjutkan perjalanan menuju sekolah dengan perasaan senang. Fahri menjemput satu per satu sahabatnya yang rumahnya tidak terlalu jauh satu sama lain. Setelah semuanya sudah dijemput, mereka berangkat bersama-sama, dengan Santo yang bersiul kepada seorang wanita yang lewat.

"Tante Ati! Mau aku goyang gak?" tanya Santo sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Mau dong, Dek Santo," jawab Tante Ati.

"Nanti saya goyang deh, asal ada bayarannya," jawab Santo, sambil mengangkat alisnya.

"Siap kalau itu, asal mantap aja goyangan kamu, Dek Santo," ucap Tante Ati.

"Sans! Masih pagi!" protes Putra.

"Alah, bilang aja lu, mau!" pekik Santo.

"Tante Ati, kalau ditinggal sayang banget, padahal bamper depannya mantap," ujar Ridho.

"Empuk pastinya," ucap Wiwit.

"Lu gangbang aja sekalian biar lemes tuh, Tante Ati," ucap Fahri.

"Ide bagus tuh!" pekik Santo.

"Tidak jadi deh, kena hukuman bapak mampus aku," ucap Wiwit.

"Mak gua, bisa-bisa ngamuk," kata Ridho.

"Ali, jangan dengarkan mereka, ya. Mereka sesat semua," nasihat Danel.

"Baiklah, Danel," jawab Ali.

"Ingat! Prinsip kita, kawan," tegas Fahri.

"Sebrangsek apapun kita, tidak boleh melawan kedua orangtua kita!" pekik semuanya.

"Baguslah kalian menurut larangan kedua orangtua masing-masing, gua jadi enak kalau begini," kata Danel.

"Berangkat sekolah yuk! Sudah mau terlambat nih," ajak Fahri.

"Dadah! Tante Ati," ucap Santo.

"Dadah! Dek Santo," ucap Tante Ati.

Perjalanan menuju sekolah dilanjutkan. Setelah beberapa menit akhirnya tiba, suasana di sekolah tiba-tiba sangat ramai, membuat mereka semua heran.

"Ada apa nih, bestie?" tanya Fahri.

"Entahlah bestie, aku nggak tahu," jawab Wiwit.

"Kata Pak Ridwan, kemarin sih ada siswi baru yang akan datang hari ini," kata Danel.

Fahri (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang