50 (timeskip)

808 63 85
                                        

Dua tahun kemudian, seorang pemuda berusia 19 tahun terlihat lari-lari di lorong kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT). Pemuda ini bukan atlet, bukan pula buru-buru ke kelas. Dia adalah Fahri, dan alasan dia lari? Biasa, habis bikin masalah.

"Ketangkep habis gua!" batin Fahri sambil menengok ke belakang. Yang dia lihat? Wajah merah dan penuh amarah Dekan Edward Chen, lengkap dengan napas ngos-ngosan.

“FAHRI!” suara Mr. Edward menggelegar, bikin mahasiswa lain pada nengok penasaran.

"Sorry, Mr. Edward!" jawab Fahri sambil tetap lari, seolah mengejar mimpi (atau tiket bebas hukuman).

"Fahri! Saya capek dengar kata maaf dari kamu!" pekik Mr. Edward, mukanya udah kayak tomat siap dipetik.

"Saya cuma mau izin bolos dua hari, kok, Mr. Edward. Demi lomba melukis, loh! Kan seni itu penting," ujar Fahri dengan gaya meyakinkan, seolah dia pahlawan seni yang memperjuangkan dunia kreatif.

"Enggak ada yang izin bolos cuma buat itu, Fahri!" jawab Mr. Edward, nadanya naik satu oktaf lagi.

"Tapi saya beda, Mr. Edward!" balas Fahri sambil nyengir, merasa jadi spesies langka di kampus.

"Kamu mau beasiswa diperpanjang enggak sih, Fahri?!" ancam Mr. Edward.

"Iya, mau! Tapi kan saya juga mau piala juara satu, Mr. Edward," jawab Fahri santai, kayak lagi tawar-menawar di pasar.

Di ujung lorong, muncul Putra, temennya yang sering jadi "korban" kejahilan Fahri. Melihat Fahri lari sambil diuber dekan, Putra langsung melipat tangan di dada.

"Mahendra Sabil Al Fahri!" panggil Putra dengan nada bosan.

Fahri langsung berhenti, nunjuk-nunjuk Putra kayak detektif yang nemuin tersangka. "Lu! Ikut gua, sekarang juga!"

"Lu kenapa nunjuk gua sih, bule?" tanya Putra sambil mengernyit.

"Udah, ikuti aja. Nanti gua traktir lu makan siang," jawab Fahri.

"Gua udah dapet uang jajan sendiri, kali. Jangan sok dermawan lu," balas Putra sambil geleng-geleng kepala.

"Mr. Edward nih, biang masalahnya!" pekik Fahri sambil ngelirik dekan yang masih ngos-ngosan di belakang.

"Oi, jangan lempar batu sembunyi tangan, bule!" omel Putra sambil melotot.

"Fahri, ke ruangan saya sekarang juga!" tegas Mr. Edward dengan suara bariton-nya.

"Putra, kau kembali ke kelas!" tambahnya.

"Baik, Mr. Edward. Saya permisi," jawab Putra dengan sopan (sambil kabur secepat mungkin sebelum ketularan masalah Fahri).

"Tapi Mr. Edward, saya ada kelas abis ini," protes Fahri dengan muka polos.

"Ke ruangan saya, atau bersihkan seluruh toilet kampus!" ancam Mr. Edward dengan nada dingin.

"Baik, Mr. Saya ikut," jawab Fahri, pura-pura pasrah.

Sepanjang jalan menuju ruangan dekan, Fahri melambai-lambaikan tangan ke mahasiswa lain. "Doain gua ya, guys! Kali ini hukumannya mungkin nyapu halaman rektorat!" katanya santai.

Di ruangan dekan, suasana tegang. Seorang mahasiswi duduk dengan wajah cemberut, sementara di depannya ada seorang pria dewasa – ayahnya, yang sedang memberikan ceramah panjang lebar. Dia adalah Bella, si troublemaker terkenal yang reputasinya hampir sebanding dengan Fahri.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dan muncullah Fahri dengan wajah santai, seperti biasa.

"Eh, morning Bella!" sapa Fahri sambil nyengir lebar.

Fahri (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang