Fahri merasa sedikit terganggu ketika melihat Nadira memperhatikannya diam-diam. Ia mencoba untuk tidak peduli, meski dalam hati sedikit merasa penasaran. Namun, ia tidak ingin memberikan perhatian lebih kepada Nadira, apalagi setelah kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya.
Setiap kali Nadira lewat di depannya, Fahri langsung membuang muka, seolah-olah tidak melihatnya sama sekali. Ia merasa bahwa ini adalah cara terbaik untuk menghindari situasi yang tidak nyaman, terutama setelah segala hal yang telah terjadi antara mereka.
Namun, ada rasa yang sulit dijelaskan yang membuatnya sedikit ragu. Tapi ia mencoba untuk tetap fokus pada pertemanannya dengan sahabat-sahabatnya dan tidak terjebak dalam hal-hal yang bisa mengganggu kedamaian hati.
"Eh, nanti kelulusan kita mau buat apa?" tanya Umayyah.
"Drama atau dance?" tanya Ika, penasaran.
"Drama nggak seru, terlalu ribet, banyak bahan," jawab Dito.
"Berarti kelas kita dance, dong!" ujar Ika antusias.
"Tapi siapa yang bisa dance?" tanya Umayyah bingung.
"Eh, Sulis bisa, loh. Gue sering lihat dia latihan diam-diam," kata Rizky.
"Ki, lo gitu ya?" sindir Fahri.
"Pura-pura banget sih, kayak dalam perahu," ujar Reynaldi, bingung.
"Eh, maksud lo apaan?" tanya Rizky, nggak paham.
"Lu pasti udah jadian sama Sulis, kan?" tebak Fahri sambil naik-turunkan alisnya.
"Ih, itu sih gaya Putra, dia yang jadian sama Sulis," celetuk Rizky.
"Katanya lo jadian sama gebetan Dito?" tanya Fahri, terkejut.
"Iya, Dito ngincer Sulis, jadi gue tikung deh," jawab Putra santai.
"Anjrit, lo main nikung aja!" kesal Dito.
"Sebelum janur kuning melengkung, Sulis masih bisa didapatkan semua orang," kata Putra sok bijak.
"Gaya lo sok bijak banget sih," sindir Fahri.
"Jadi, dance apa nih?" tanya Atika, penasaran.
"Yang simple aja, sih," jawab Nadira, dengan nada datar.
"Bumil nggak usah ikutan, jadi beban aja," kata Fahri sinis.
"Napa sih lo sensi banget sama gue?" Nadira mulai kesal.
"Ngaca deh, neng," ejek Ujang.
"Halo, Ita, cantik deh hari ini!" sapa Fahri, mencoba meredakan ketegangan.
"Kagak jelas," jawab Ita, acuh.
"Beuh, udah move on nih!" celetuk Bisma.
"Iya, lah, masa nggak bisa move on dari mantan yang selingkuh?" kata Fahri dengan nada mengolok.
"Jangan keras-keras dong, kasihan dia, bumil," kata Putra mencoba menenangkan.
"Kasihan, ya. Kita-kita habis lulus kuliah, eh dia malah gendong anak," sindir Umayyah.
"Ck!" Nadira kesal, merasa tersinggung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Teen FictionMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
