Dua bulan kemudian, Fahri bersama Roy sudah berada di depan gerbang sekolah. Kondisi Fahri kini sudah membaik, bahkan ia sudah kembali menjahili Roy seperti biasanya.
"Abang bilang ke kepala sekolah, ya? Aku kan sudah dua bulan nggak sekolah," ucap Fahri sambil tersenyum.
"Baiklah," jawab Roy.
Kehadiran Fahri di sekolah langsung membuat lorong kelas menjadi ramai. Teman-temannya tampak kaget dan heboh.
"Yo, semuanya! Si ganteng Fahri kembali!" seru Fahri dengan gaya khasnya.
"Si biang masalah balik lagi!" balas salah seorang temannya, disambut tawa riuh.
Sementara itu, Roy langsung menuju ruang kepala sekolah untuk berbicara dengan Pak Budiman, sementara Fahri hanya mengikuti dari belakang.
"Kejiwaan Fahri sudah kembali normal," lapor Roy kepada Pak Budiman.
"Fahri, kamu yakin ingin kembali bersekolah?" tanya Pak Budiman, kepala sekolah yang terkenal bijaksana.
"Yakin, Pak! Saya sudah rindu semuanya," jawab Fahri dengan senyum lebar.
"Baiklah. Nanti saya antar kamu ke kelas. Kita beri mereka kejutan," ujar Pak Budiman sambil tersenyum.
"Siap, Pak!" seru Fahri penuh semangat.
Sebelum pergi, Roy memasukkan dua lembar uang seratus ribu ke kantong baju Fahri. "Nih, buat uang jajanmu," katanya sambil langsung kabur.
Pak Budiman menatap Fahri dengan senyum penuh arti. "Teman-temanmu sering menanyakan keadaanmu hampir setiap hari."
"Hanya abang Roy dan sahabat saya saja yang tahu soal apa yang terjadi," ujar Fahri pelan.
"Oh iya, sebentar lagi ada lomba melukis antar sekolah, dan hadiahnya lumayan besar," ujar Pak Budiman, mencoba mengganti suasana.
"Saya boleh ikut, Pak?" tanya Fahri antusias.
"Sudah didaftarkan juga," jawab Pak Budiman.
"Eh, seriusan?!" Fahri terkejut.
"Tentu saja. Kamu kan selalu juara kalau lomba melukis."
"Padahal lukisan saya abstrak semua, Pak," keluh Fahri.
"Bagi yang mengerti seni, itu adalah karya yang luar biasa," balas Pak Budiman.
Pak Budiman kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari mejanya. "Kebetulan, sebulan lalu bapak dapat surat dari salah satu kampus ternama di dunia."
"Kampus ternama, Pak?" tanya Fahri penasaran.
"Ya, ini adalah surat beasiswa untuk program hingga S3. Semua biaya ditanggung," jelas Pak Budiman.
Fahri melongo tak percaya. "Untuk siswa pintar, kan, Pak?" tanyanya, merendahkan diri.
"Iya, benar Fahri," ujar Pak Budiman sambil tersenyum.
"Beruntung sekali dia mendapatkan beasiswa," gumam Fahri sambil menatap kosong.
"Pak Bud, bagi kopi dong. Jenuh saya di sini," ujar Fahri santai.
"Ya ampun, bikin sendiri sana! Itu, mesin kopinya ada di pojok," balas Pak Budiman sambil menunjuk mesin kopi di sudut ruangan.
Fahri menurut. Ia bangkit dari tempat duduknya dan mulai membuat kopi. Setelah selesai, ia kembali duduk di depan Pak Budiman sambil menyeruput minumannya.
"Jadi, siapa yang mendapatkan beasiswa itu, Pak Bud?" tanyanya penasaran.
Pak Budiman tersenyum kecil sebelum menjawab, "Kamu yang mendapatkannya, Fahri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
JugendliteraturMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
