Fahri pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga. Ia berhasil lulus tanpa harus mengulang ujian, sesuatu yang selalu dikhawatirkannya selama ini.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa Fahri dengan semangat begitu memasuki rumah.
"Waalaikumussalam," jawab Angelo, sang ayah, yang sedang duduk santai di sofa sambil merokok.
Melihat Fahri yang penuh semangat, Angelo mematikan rokoknya dan menghampiri putranya. Namun, wajah Fahri yang awalnya ceria tiba-tiba berubah. Angelo, yang peka terhadap perasaan anaknya, langsung memeluknya dengan erat.
"Nak, kalau ada masalah soal ujian, nanti Daddy minta sekolah kasih ujian susulan, ya," ucap Angelo, mencoba menenangkan.
"Daddy, aku juara sepuluh besar!" seru Fahri penuh kebanggaan.
Angelo tertegun. "Seriusan?"
Fahri mengangguk sambil menyerahkan piala dan sertifikat kepada ayahnya.
"Mommy! Roy!" panggil Angelo ke arah dalam rumah.
Angelina dan Roy, ibu dan kakak Fahri, segera keluar. Begitu melihat piala dan sertifikat itu, mereka langsung memeluk Fahri dengan penuh kebanggaan.
"Anak Mommy hebat banget!" puji Angelina sambil tersenyum bangga.
"Abang sudah bilang, pasti adek bisa lulus dengan hasil luar biasa tahun ini, dan terbukti!" tambah Roy.
"Terima kasih sudah mendukungku dan percaya padaku," ucap Fahri tulus.
Melihat kepercayaan diri Fahri yang semakin membaik, Angelo merasa lega. Ia tahu betul bahwa Fahri sempat kehilangan kepercayaan diri di pagi hari.
"Karena Fahri berhasil lulus dan masuk sepuluh besar di seluruh Indonesia, Daddy mau kasih hadiah tambahan!" ucap Angelo.
"Maksudnya, selain pesta ulang tahun aku boleh minta hal lain?" tanya Fahri antusias.
"Tentu boleh," jawab Angelina.
"Kemarin kan rencana keliling Indonesia kita belum selesai. Mungkin bisa kita teruskan," usul Roy.
"Itu ide bagus," sambut Angelo setuju.
"Tapi aku pengen kita pakai pesawat umum aja, Dad," kata Fahri.
Angelo tersenyum. "Kalau begitu Daddy belikan pesawat pribadi saja buat kamu."
Fahri menghela napas panjang. "Daddy, aku gak mau pesawat pribadi."
"Mau apa dong? Bilang aja," desak Angelo.
"Naik balon udara!" jawab Fahri spontan.
"Kebetulan Daddy punya balon udara. Besok kita ke Bogor untuk naik bareng-bareng, ya," ucap Angelo santai.
Roy yang mendengar hal itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Mom, Daddy kalau gabut kayaknya beli barang, ya?"
Angelina terkekeh. "Sebenarnya itu balon udara kado Daddy buat Axelo, tapi gak kepake-pake."
"Setidaknya Daddy perhatian sama anak-anaknya," tambah Angelina.
Tak lama, Angelo kembali dari teleponnya. "Pesawat pribadimu sudah beres, Nak."
"Daddy, minggu lalu baru aja beliin aku apartemen di Boston. Sekarang pesawat pribadi? Nanti uang Daddy habis," keluh Fahri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Fiksi RemajaMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
