Fahri pulang ke rumah dan begitu masuk, ia disambut oleh tatapan tajam seluruh keluarga besarnya.
"Bagus kamu ya!" Linda tampak sangat kesal.
"Sudah melukai anakku, dan sekarang malah tersenyum lebar begitu, hah?!" Linda terus melanjutkan.
"Memang salahnya tersenyum apa sih?" tanya Fahri dengan nada tenang.
"Mahendra Sabil Al Fahri, mulai saat ini kau keluar dari rumah dan jangan anggap aku sebagai ibu kandungmu sendiri!" teriak Linda.
Fahri hanya diam, lalu tersenyum lebar kepada Linda, yang semakin kesal.
"Memang selama ini aku anak mama gitu?" tanya Fahri, merasa hampa.
"Kau lahir dari rahimku, jelas-jelas kau anakku!" jawab Linda dengan emosi.
"Kalau benar anakku mama, kenapa selama ini aku tidak pernah dipeluk?" tanya Fahri, suaranya mulai bergetar.
"Mama pernah nggak tanya soal makanan kesukaanku?" lanjut Fahri.
"Terus, saat aku sakit, mama di mana?" tanya Fahri lagi.
"Aku terluka, mama nggak pernah tanya kenapa," ucap Fahri dengan kesedihan.
"Dan aku menangis dalam tidurku, apakah mama tahu?" tanya Fahri, air mata mulai mengalir.
"Bahkan aku hampir bunuh diri beberapa bulan lalu, karena ucapan mama itu yang disebut ibu yang telah melahirkanku! Itu bukan seorang ibu!" Fahri meledak dengan amarah.
"IBU ITU MENYAYANGI ANAKNYA, BUKAN HANYA MEMBANDINGKAN DAN MEMARAHIKU SAJA!" teriaknya.
"SEORANG GURU JUGA BISA KALAU SOAL MEMARAHIKU SAJA!" tambah Fahri.
"Hahahaha," tawa Fahri, terlepas dari rasa sakit di hatinya.
"Bahkan kalian menganggap aku bersenang-senang selama dua bulan terakhir!" kesalnya.
"AKU GILA SELAMA DUA BULAN KALIAN PUAS HAH?!" teriaknya lagi.
"ABANG YANG MERAWATKU SELAMA DUA BULAN SAAT AKU GILA DI RUMAH SAKIT JIWA!" Fahri terus meluapkan perasaannya.
"Bahkan anak kalian, Rivaldo, itu!" ucapnya, suaranya penuh emosi.
Fahri membuka bajunya, memperlihatkan bekas luka permanen di tubuhnya. Semua terdiam, tak bisa berkata-kata.
"RIVALDO ANAK KALIAN TIDAK SEBAIK YANG KALIAN KIRA KARENA DIA TELAH MELUKAIKU SEJAK KECIL, BAHKAN SELURUH TUBUHKU BANYAK BEKAS LUKA PERMANEN SEPERTI INI, DAN SAAT AKU MENGATAKAN HAL INI KALIAN BERDUA TIDAK MEMPERCAYAIKU SAMA SEKALI, MALAH MENGGANGGAPKU BERISIK!" Fahri melanjutkan, dengan nada yang semakin keras.
"Jadi kalau kalian ingin aku pergi dari sini, baiklah, aku akan keluar dari sini," ucap Fahri dengan tegas.
"Jadi anggap saja Mahendra Sabil Al Fahri sudah mati selamanya," ucapnya datar, lalu mengenakan bajunya kembali dan keluar dari rumah.
Di depan gerbang rumah, ia melihat mobil milik Roy.
"Bagaimana?" tanya Roy, melihat wajah Fahri yang sudah penuh dengan emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Teen FictionMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
