Fahri pulang ke rumah dengan santai. Setibanya di rumah, ia langsung berlari ke arah dapur untuk menemui Angelina.
"Mom!" pekiknya penuh semangat.
Angelina, yang mendengar suara Fahri, tersenyum hangat dan langsung memeluk anak itu dengan erat. Pelukan tersebut membuat Fahri ikut tersenyum bahagia.
"Tadi bawa mobil ke sekolah, ya?" tanya Angelina sambil menatap Fahri.
"Hehehe, iya," jawab Fahri sambil tertawa kecil.
"Buat apa mobil dibawa ke sekolah, hm?" Angelina bertanya lagi dengan nada penasaran.
"Habisnya ngeselin, Mom. Aku kan cuma mau traktir teman seangkatan, malah diganggu," jawab Fahri dengan nada mengadu.
"Mom paham," ujar Angelina sambil mengangguk pelan, menunjukkan pengertiannya.
Fahri kembali memeluk Angelina, kali ini lebih erat. Ia terdiam sejenak, menikmati rasa nyaman yang selalu ia temukan dalam pelukan ibunya itu.
"Bagaimana pelajaran hari ini?" tanya Angelina dengan lembut.
"Aku jahilin Pak Rian. Dia nyebelin, tiba-tiba aja kasih ulangan mendadak," jawab Fahri dengan nada bercanda.
"Biasanya juga ini gemoy-nya Mom yang mulai duluan, kan?" goda Angelina sambil mencubit lembut pipinya.
"Habis bosan, Mom," ucap Fahri sambil menghela napas kecil.
"Ganti baju sana. Mom sudah masak makanan kesukaan gemoy," kata Angelina sambil tersenyum.
"Yeah!" seru Fahri penuh semangat.
Sebelum Fahri pergi, Angelina mencium pipi kirinya yang kini terlihat sedikit lebih berisi. Ia tahu, sejak tinggal bersama dirinya dan Angelo, Fahri selalu mendapatkan semua makanan kesukaannya tanpa ragu.
"Abang ke mana, Mom?" tanya Fahri penasaran.
"Roy ada operasi. Nanti pulangnya malam," jawab Angelina lembut.
"Nanti disuapin ya sama Mom," pinta Fahri dengan nada manja.
"Pastinya dong," balas Angelina sambil tersenyum hangat.
"Mom, aku mau ganti baju," ujar Fahri sambil menarik tangan Angelina.
"Pakai baju panjang ya, udara cukup dingin," saran Angelina sambil menatap Fahri penuh perhatian.
"Tapi celananya pendek aja ya, Mom," balas Fahri sambil cengengesan.
"Sudah, ayo. Mom pilihkan baju yang cocok," ujar Angelina sambil menggandeng Fahri menuju kamarnya.
Fahri mengikuti langkah Angelina sambil tersenyum. Sejak tinggal bersama Angelo dan Angelina, perhatian yang selama ini ia dambakan akhirnya terwujud.
"Nih, pakai baju ini ya. Nanti makan siangnya bareng Mom, oke?" ujar Angelina sambil menyerahkan baju pilihan.
"Siap, Mom!" pekik Fahri penuh semangat.
Angelina mengacak-acak surai rambut Fahri sebelum meninggalkan kamar, memberi waktu untuk Fahri berganti pakaian.
Namun, saat Fahri membuka kemeja sekolahnya, ia terdiam. Pandangannya tertuju pada bekas luka di tubuhnya-sisa kenangan kelam dari masa lalu.
Kilasan tentang perlakuan Rivaldo tiba-tiba muncul di benak Fahri, membuatnya terduduk lemas di lantai. Kenangan itu terasa begitu menyakitkan hingga ia mulai menangis pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Novela JuvenilMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
