Fahri masuk ke kamar apartemennya, senyum lebar masih menghiasi wajah tampannya. Namun, Nisa yang melihatnya merasa kebingungan dengan sikap Fahri yang terlihat aneh.
"Om kesurupan ya?" tanya Nisa, bingung.
"Tidak!" pekik Fahri cepat, mencoba menghilangkan kecurigaan Nisa.
"Lu kenapa?" tanya Roy, yang duduk di pojok ruangan, memperhatikan Fahri dengan serius.
"Om tadi ketemu kakak cantik lho, ayah. Dia baik banget sama Nisa, traktir aku banyak cemilan," ucap Nisa dengan senang hati, sambil memamerkan camilan yang dia dapatkan.
"Namanya siapa?" tanya Roy, penasaran.
"Kak Bella! Cantik banget pokoknya, om aja diem mulu tuh pas liatin kak Bella," jawab Nisa, dengan ekspresi antusias.
"Ta'aruf aja sih, dek," sahut Roy, sambil bercanda.
"Restu dari bapak mertua belum bisa kudapatkan, bang," jawab Fahri, sedikit serius meski tetap tersenyum.
"Jalur langitnya jangan sampai bolong, tapi bukan hanya minta soal jodoh saja, dek. Minta juga soal kuliahmu, pekerjaanmu, dan segala urusan duniawi lainnya," ujar Roy dengan bijak.
"Berarti minta apapun boleh dong, bang?" tanya Fahri, dengan nada ingin tahu.
"Boleh kok, tidak ada larangan apapun," jawab Roy.
"Salat tahajud memang sunnah, namun itu bisa melancarkan pekerjaan dan urusan duniamu," lanjut Roy.
"Aku mau kejar urusan akhirat saja, bang," ucap Fahri, dengan tekad yang kuat.
"Adek abang emang keren banget sih," puji Roy.
"Galeri seni aku kayaknya rame banget deh, bang," ujar Fahri dengan senyum bangga.
"Karena galeri seni milikmu menarik perhatian para investor seni sih, dek," jawab Roy, sambil tersenyum.
Fahri mengangguk, mengerti dengan maksud abang-nya. Ia mulai memikirkan sesuatu, terutama tentang bagaimana ia akan pergi ke kampus besok. Jujur, ia malas naik bus lagi setelah kejadian tadi siang.
"Oh iya, bang," ucap Fahri, teringat sesuatu.
"Kenapa?" tanya Roy, menoleh ke arah Fahri.
"Abang besok anter aku ke kampus ya," pinta Fahri, dengan nada sedikit malu.
"Tumben minta anter?" tanya Roy, heran.
"Ah malas naik bus," jawab Fahri, menggaruk belakang kepalanya.
"Bilang aja lu masih trauma, soal kejadian di bus itu," celetuk Putra dengan nada meledek.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Roy, bingung.
"Di bus tadi siang, Fahri digodain cewek bohay, bang. Beuh, mantep body-nya. Dia nawarin Fahri buat menghangatkan kasur beberapa ronde, sayang Fahri nolak," jawab Putra, sambil tertawa geli.
"Astaghfirullah!" seru Roy, terkejut.
Roy langsung memutar tubuh Fahri berulang kali, menelisik dari atas hingga bawah tubuh Fahri, lalu memeluknya erat.
"Om Putra, ayah kenapa ya?" tanya Nisa, bingung melihat reaksi ayahnya.
"Kurang jatah dari mama kamu kali," jawab Putra seenaknya, membuat Fahri merasa geli.
"Abang lepas!" seru Fahri, kesal, sambil berusaha melepaskan pelukan Roy.
"Imanmu masih terjaga, dek," kata Roy, sambil tersenyum bangga.
"Iyalah, cuma godaan begitu aku kuat kok!" jawab Fahri dengan percaya diri, meski sedikit malu.
Fahri kemudian memukul kepala Roy dengan pelan, mencoba melepaskan pelukan Roy yang masih erat. Namun, meskipun sudah berusaha, ternyata pelukan Roy masih sangat susah dilepaskan. Fahri merasa sedikit kesal, tapi tetap tertawa kecil. Di tempat yang sama, Nisa malah asyik menyemil camilan bersama Putra, sambil menyaksikan interaksi lucu antara ayahnya dan om-nya, Fahri, yang saling bergulat. Nisa tidak bisa menahan tawa melihat kelakuan mereka yang terlihat konyol.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Fiksi RemajaMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
