Fahri memarkir motor matic barunya di depan salah satu supermarket sambil menggendong Nisa. Senyuman ceria Nisa membuat Fahri ikut tersenyum kecil. Saat mereka memasuki supermarket, beberapa pengunjung mulai memperhatikan Fahri. Aura karismanya tak bisa disembunyikan, meskipun Fahri lebih suka tampil biasa saja.
"Entah kenapa ini membuatku risih sekali," batin Fahri sambil memeluk Nisa lebih erat, seolah melindungi keponakannya dari tatapan banyak orang. Ia mulai berjalan di lorong supermarket mencari apa yang disukai Nisa.
"Om!" Panggil Nisa.
"Iya," jawab Fahri sambil menatap keponakannya.
"Nisa mau cari mayonaise," ujar Nisa dengan penuh semangat.
"Mayonaise buat apa?" tanya Fahri penasaran.
"Buat burger!" seru Nisa ceria.
Fahri menyipitkan matanya penuh ragu. "Memang Nisa bisa buat burger gitu?"
"Ih, Om jangan gitu dong!" Kesal Nisa, menepuk bahu Fahri.
"Sorry, sorry," ujar Fahri tertawa kecil.
"Tidak mau memaafkan, Om!" Nisa berpura-pura merajuk.
Fahri tertawa kecil. "Oke, oke, nanti Om belikan sesuatu deh."
"Benarkah?!" Mata Nisa berbinar penuh harap.
"Tentu dong, Om kan ganteng plus baik hati," ujar Fahri narsis.
"Om narsis!" Pekik Nisa, tertawa geli.
"Kenyataan lho, cantik," jawab Fahri sambil tersenyum.
Nisa tiba-tiba berkata polos, "Om nanti punya anak cowok ya."
"Kenapa harus cowok?" tanya Fahri sambil tertawa kecil.
"Biar bisa jagain aku dong," jawab Nisa penuh percaya diri.
"Anak Om pasti ganteng juga, kayak Om," ujar Fahri sambil mengedipkan mata.
"Emang Om udah punya calon istri gitu?" Nisa bertanya polos, tapi dengan nada penasaran.
"Wajah playboy dan kulit putih kayak mayat gini, emang ada yang mau?" Nisa meledek sambil tertawa kecil.
Fahri langsung protes, "Enak saja Om dikatain mayat!"
Tiba-tiba, suara lembut memotong percakapan mereka. "Maaf, kalian menghalangi jalan."
Fahri refleks menoleh dan kaget. "Eh, maaf!" katanya sambil menyingkir cepat.
Malam itu di Supermarket
Fahri menghentikan motornya di depan salah satu supermarket sambil menggendong Nisa yang sibuk berceloteh riang. Senyum Nisa membuat Fahri ikut tersenyum kecil. Namun, saat membuka pintu supermarket, Fahri merasa banyak mata memandang ke arahnya.
"Kenapa rasanya jadi kayak selebriti begini?" pikir Fahri, sedikit risih. Ia semakin memeluk Nisa erat, berjalan mencari apa yang disukai oleh keponakannya.
"Om!" panggil Nisa tiba-tiba, memecah lamunan Fahri.
"Iya, ada apa?" jawab Fahri sambil menatap wajah kecil keponakannya itu.
"Nisa mau cari mayonaise," kata Nisa semangat.
"Mayonaise buat apa?" tanya Fahri penasaran.
"Buat burger!" pekik Nisa ceria.
"Memangnya Nisa bisa bikin burger?" ledek Fahri sambil tersenyum kecil.
"Ih, Om jangan ngeledek dong! Nisa jago tau!" jawab Nisa kesal, menepuk pundak Fahri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
JugendliteraturMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
