Fahri berangkat ke rumah Bella seorang diri, mengendarai motor matic pemberian Angelo. Setiap kali motornya melaju, jantung Fahri berdegup lebih cepat. Ia tahu bahwa kedatangannya kali ini bukanlah perjalanan biasa. Ayah Bella, Wilson, terkenal keras kepala dan sangat protektif terhadap putrinya. Fahri bisa membayangkan bagaimana reaksinya ketika tahu bahwa dia datang untuk meminta restu. Tapi, rasa cinta yang mendalam kepada Bella membuatnya nekat.
Fahri tidak peduli dengan tantangan itu. Cinta itu tidak mengenal rasa takut, pikirnya. Dia tahu jika tidak mencoba sekarang, dia akan menyesal selamanya. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 20 menit terasa seperti berjam-jam. Dalam perjalanan, Fahri mengingat kembali kenangan pertama kali bertemu Bella. Bella yang rendah hati, tidak pernah sombong meski berasal dari keluarga kaya. Kebaikannya yang tulus kepada sesama membuat hati Fahri semakin jatuh cinta.
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya Fahri sampai di depan rumah Bella. Rumah itu bergaya Eropa modern, besar dan elegan. Meski begitu, yang membuat rumah itu terasa nyaman adalah aura kedamaian yang terpancar dari dalam. Bella, yang selama ini selalu rendah hati dan tidak pernah menunjukkan kekayaannya, adalah orang yang benar-benar membuat Fahri kagum. Bahkan, dia sering memberikan bantuan kepada anak-anak jalanan, tanpa mengharap balasan sedikit pun.
Fahri berdiri di depan pintu rumah Bella, menyesuaikan napasnya yang berdegup kencang. Ia mengucapkan salam dengan suara pelan namun penuh keyakinan. "Fahri, kamu bisa. Jangan pulang sebelum dapat restu," gumamnya, mencoba menyemangati diri sendiri.
Namun, suara berat Wilson terdengar dari dalam rumah. "Aku tidak akan memberikan restu pada anak berandalan sepertimu," suara itu datang dengan nada datar, namun penuh ancaman. Fahri menelan ludah, merasakan tatapan tajam Wilson yang seperti singa kelaparan. Meskipun hatinya sedikit gentar, ia tetap teguh pada niatnya.
"Bella, tidak boleh pacaran. Itu hal yang dilarang agama," Wilson melanjutkan, menyatakan prinsip hidup yang ia pegang teguh.
"Ya, saya tahu, om," jawab Fahri dengan nada penuh hormat.
Wilson menatap Fahri lama. "Kamu ingin ta'aruf dengan putriku?" tanyanya, suaranya serius.
"Tentu saja, om," jawab Fahri dengan penuh keyakinan.
Wilson menggelengkan kepala. "Sudah kubilang, aku tidak akan merestuimu. Cari saja gadis lain," ujar Wilson, nada suaranya lebih keras, seperti mengusir.
"Tapi hanya Bella yang aku inginkan. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Bella, om," Fahri berkata dengan suara penuh tekad. Ia tahu jika dia tidak bisa mendapatkan restu dari Wilson, perjuangannya untuk mendapatkan Bella akan sia-sia.
Wilson tetap diam sejenak, menilai Fahri dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya seakan mengukur sejauh mana keseriusan Fahri. "Kamu serius?" tanya Wilson, suaranya seolah ingin menantang Fahri.
"Tentu saja om. Saya akan menjadikan Bella tempatku pulang setelah melewati hari yang berat," jawab Fahri dengan mantap.
Wilson terdiam. Tak ada yang bisa ia ucapkan selain sebuah tanya. "Kamu bisa mengaji?"
"Tentu saja, om," jawab Fahri dengan tenang, meskipun dia tahu bahwa pertanyaan itu adalah sebuah ujian.
Wilson menatapnya, lalu dengan ragu berkata, "Kalau begitu kita ke masjid. Kamu akan jadi imam di sana."
"Waktu salat belum tiba, om. Sekitar satu jam lagi baru Ashar," jawab Fahri, mencoba untuk tetap sopan dan tenang.
"Ah, ternyata kamu tahu waktu salat," ujar Wilson, sedikit terkejut.
"Saya Muslim, om. Tentu saja tahu tentang ilmu dasar agama," jawab Fahri, tidak ingin menunjukkan keraguannya.
"Baiklah, kita pergi ke masjid sekarang. Aku ingin mendengar kamu mengumandangkan adzan," ujar Wilson, akhirnya setuju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Fiksi RemajaMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
