44 (pengumuman kelulusan)

634 52 22
                                        

Hari pengumuman kelulusan sudah tiba. Fahri berdiri di depan cermin kamar, memandangi dirinya sendiri. Ia melihat bayangannya yang tampak ragu dan penuh kecemasan. Meski ia merasa bahwa ia mampu mengerjakan semua soal ujian dengan baik, ada bagian dari hatinya yang masih meragukan hasilnya.

"Aku merasa bisa mengerjakan semua soal ujian dengan mudah, tapi di sisi lain, hatiku bilang aku akan gagal lagi," ucap Fahri perlahan, suara keraguannya terdengar jelas.

Fahri duduk di lantai kamarnya, menundukkan kepalanya. Ketakutan akan mengecewakan kedua orangtuanya jika ia gagal kembali membuatnya merasa tertekan. Kegagalan sebelumnya masih terngiang di pikirannya, dan ia tak ingin mengulanginya lagi.

"Aku takut tidak lulus," lirih Fahri, suara hatinya penuh kekhawatiran.

Dia merasakan berat di dadanya, takut bahwa semua usaha yang telah ia lakukan selama ini tidak cukup untuk memenuhi harapan orangtuanya. Baginya, kelulusan bukan hanya soal ujian, tetapi juga tentang membuktikan dirinya kepada orang-orang yang ia cintai.

Dengan perasaan campur aduk, Fahri menatap kosong ke arah di dinding, merasa cemas tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Fahri duduk di lantai kamarnya, terpaku dengan pikiran yang membelit hatinya. Dering ponsel yang terus berbunyi tidak berhasil menarik perhatiannya. Ia hanya menatap kosong dinding kamarnya, seperti ada beban berat yang menggantung di pikirannya. Ketakutan dan keraguan menguasai dirinya, apalagi menjelang pengumuman kelulusan yang sebentar lagi akan datang.

Angelo yang sudah tiba di kamar Fahri hanya melihat anaknya itu diam saja, tampak tenggelam dalam pikirannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Angelo perlahan mendekat dan mengelus surai rambut Fahri yang masih acak-acakan, mungkin karena belum disisir. Tindakan tersebut terasa begitu lembut dan penuh kasih, seolah mengingatkan Fahri bahwa ia tidak sendirian.

"Ayo, Ri, jangan terlalu dipikirkan," ucap Angelo, suaranya lembut namun penuh kepedulian. "Nanti namamu dipanggil malah tidak ada lagi."

Fahri hanya terdiam, tampak ragu dan bingung dengan pikirannya sendiri. "Tapi daddy... jangan marah padaku kalau aku gagal," ucap Fahri dengan suara pelan dan sedikit cemas.

Angelo tersenyum, meski hatinya tahu betapa besar beban yang dirasakan Fahri. "Daddy akan marah kalau kamu melakukan hal yang membahayakan nyawamu saja," jawab Angelo, matanya penuh kasih sayang. "Seperti bulan lalu, kau naik ke atap rumah dengan santainya bilang mau simulasi jadi stuntman."

"Hehehe," Fahri tertawa kecil, merasakan kehangatan dalam candaan ayahnya.

"Habis itu, daddy malah potong uang jajanku pula," keluh Fahri sambil tersenyum lebar, menyadari bahwa tindakan ceroboh memang seharusnya diberi pelajaran.

"Agar kamu tidak melakukan tindakan berbahaya seperti itu lagi," ujar Angelo dengan nada tegas, meskipun ada senyum kecil yang terukir di wajahnya. "Tapi, kamu tahu kan, bahwa itu semua karena daddy ingin kamu selamat."

"Hehehe, aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi," Fahri mengangguk, meski ada rasa canggung di dalam dirinya.

Angelo menepuk pundak Fahri dengan lembut, mengirimkan pesan ketegasan namun penuh kasih. "Masalah kelulusanmu, Ri, tidak perlu dipikirkan terlalu keras. Kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Daddy yakin kamu sudah melakukan yang terbaik."

Fahri mengangkat wajahnya dan melihat mata ayahnya. Matanya yang penuh dengan pengertian dan kepercayaan memberi rasa nyaman yang dalam. "Terima kasih, daddy. Aku akan berusaha."

Fahri (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang