47 (perpisahan sekolah)

624 59 28
                                        

SMA Angkasa Jasa dipenuhi suasana meriah dengan hiasan balon, spanduk, dan suara musik yang menggema. Hari ini adalah momen spesial bagi siswa dan siswi kelas dua belas yang merayakan kelulusan setelah perjuangan panjang menghadapi ujian nasional.

Fahri tiba bersama kedua orangtuanya, Angelo dan Angelina, serta kakaknya, Roy. Ia memandang sekeliling dengan rasa bangga dan haru, melihat teman-teman seangkatannya yang tampak anggun dan tampan dengan pakaian formal, termasuk siswi-siswi yang tampak cantik mengenakan batik.

"Kelasmu di mana, Nak? Mommy mau lihat," tanya Angelina dengan antusias.

"Rahasia dong, nanti ada kejutan. Mommy, Daddy, dan Abang tunggu saja di aula," jawab Fahri sambil tersenyum penuh misteri.

Tak lama kemudian, Dito, sahabat karibnya, berlari menghampiri. "Ri, ayo ke kelas! Kita harus persiapkan semuanya!" seru Dito, tampak bersemangat.

"Baik, tunggu sebentar," jawab Fahri. Ia kemudian mendekati kedua orangtuanya dan kakaknya, mencium tangan mereka satu per satu. "Aku pamit dulu ya. Nanti tunggu penampilanku di panggung."

"Semangat, Nak. Mommy, Daddy, dan Abang selalu mendukungmu," ucap Angelo sambil menepuk bahu Fahri.

Fahri pun berlari menyusul Dito menuju kelas, meninggalkan keluarganya yang menanti dengan penuh kebanggaan dan harapan untuk melihat kejutan apa yang telah ia siapkan di acara perpisahan ini.
Angelo, Angelina, dan Roy berjalan ke arah depan panggung untuk mencari tempat duduk yang nyaman. Meski suasana masih sepi karena acara baru dimulai 30 menit lagi, mereka ingin memastikan mendapat posisi terbaik untuk menyaksikan penampilan Fahri nanti.

"Aku penasaran bagaimana hasil latihan mereka semua," ucap Roy, matanya tetap memandang punggung Fahri yang semakin menjauh.

"Sebentar lagi kita akan mengetahuinya. Sementara itu, mari kita cari tempat duduk strategis," balas Angelo dengan tenang.

"Ucapanmu benar, sayang. Kita tidak ingin melewatkan momen berharga ini," timpal Angelina, tersenyum tipis.

Angelo mendadak berbisik, "Anak buahku sedang dalam perjalanan membawa kursi khusus untuk kita."

"Daddy, tolong jangan terlalu mencolok seperti itu," keluh Roy, menatap Angelo dengan ekspresi datar.

"Baiklah, kalau begitu daddy batalkan saja," balas Angelo sambil mengangkat bahu, pura-pura tidak peduli.

"Kadang ayahmu memang suka berlebihan kalau sudah menyangkut Fahri," kata Angelina, menggeleng kecil.

"Kelihatan banget, Mom," ucap Roy sambil tertawa kecil.

Namun, suasana berubah ketika Angelo mendengar suara yang sangat familiar. Ia menoleh, dan matanya bertemu dengan sosok yang tak asing yaitu kedua orang tua kandung Fahri, sedang berbincang bersama keluarga Nadira.

Ekspresi Angelo berubah seketika, sedikit terkejut namun tetap tenang. "Angelina, lihat siapa yang datang," bisiknya.

Angelina menoleh, lalu menarik napas dalam. "Aku tidak menyangka mereka datang ke acara ini."

Roy, yang penasaran, ikut melihat ke arah tersebut. "Bagaimana reaksi Fahri nanti saat tahu mereka di sini?" tanyanya dengan nada ragu.

"Kita lihat saja. Daddy yakin ini akan menjadi momen yang menarik," ucap Angelo sambil mengamati keluarga itu dari kejauhan.

"Selamat pagi, Pak Rahmat!" sapa Angelo dengan ramah, sambil melangkah mendekat.

"Selamat pagi juga, Pak Angelo!" balas Rahmat, menyambut dengan senyum hangat.

"Bagaimana kabar perusahaan Anda belakangan ini?" tanya Angelo, memulai obrolan ringan.

"Ada sedikit kendala operasional, tapi tidak terlalu besar. Sedang dalam proses penyelesaian," jawab Rahmat dengan nada optimis.

Fahri (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang