Motor besar Yamaha TMAX DX meluncur kencang membelah kepadatan kota Boston dengan suara mesin yang menggelegar. Fahri yang mengendarai motor tersebut tampak fokus, namun tidak peduli dengan kondisi Wiwit yang duduk di jok belakang, wajahnya pucat pasi dan tampak seperti hampir mati. Wiwit, sahabatnya yang sering kali menemani petualangan Fahri, kini tampak ketakutan setengah mati karena kecepatan tinggi yang dimiliki motor tersebut.
"Lu kalau mau mati jangan ngajak gue, oi, belum juga malam pertama!" teriak Wiwit dengan nada kesal sambil memegangi tubuhnya erat-erat agar tidak terjatuh.
Fahri yang mengenakan helm full face hanya tertawa kecil, tidak begitu mendengar apa yang dikatakan Wiwit. Angin kencang akibat laju motor yang cepat semakin mempersulit percakapan mereka.
Akhirnya, Fahri membuka sedikit kaca helmnya agar bisa mendengar ucapan sahabatnya yang masih terus berteriak.
"Lu ngomong apaan sih? Kagak denger gua!" teriak Fahri sambil berusaha menambah kecepatan.
"Jangan ngebut, oi!" Wiwit teriak dengan suara sedikit serak, takut jika kecepatan ini semakin tinggi.
"Urgent ini harus segera nyampe di rumah!" jawab Fahri dengan nada serius, tidak peduli dengan peringatan Wiwit.
Wiwit yang masih cemas mencoba menenangkan sahabatnya. "Ri, lu udah dapet restu, tenang aja sih. Ngebut kagak baik, lu jawara jalanan, gua nggak masalah. Nah masalahnya, lu boro-boro menang lomba trial motor, lomba sepeda 17 Agustusan malah kalah mulu tiap ikutan!" Wiwit mulai bercanda meski perasaan tegangnya masih jelas terlihat.
"Ngehina mulu lu!" sahut Fahri dengan kesal. Meski wajahnya tampak serius, ada sedikit senyum sinis yang terselip.
"Manusia tidak luput dari kekurangan dan kelebihan, kawan. Jadi terima saja hinaan dari gua ya," Wiwit balik menyindir dengan gaya santainya.
Fahri melirik sekilas ke Wiwit dan menanggapi, "Gua maunya nerima beban tanggung jawab untuk menjaga Bella." Dia tampak lebih serius. "Nerima hinaan dari lu ogah bener," tambahnya.
Wiwit mengelus dada dengan gaya alaynya, meskipun wajahnya tetap ketakutan. "Nyesek sumpah, tapi nggak papa," ujarnya sambil mencoba meredakan ketegangan. "Tapi kalau lu patah hati, jangan curhat di grup gembel, ya! Biar notifnya jebol," Wiwit menambahkan dengan nada bercanda.
Fahri tertawa kecut. "Noh, kelakuan Ridho, bukan gua," jawabnya, mencoba menanggapi dengan ringan.
"Bacot!" Wiwit menjawab dengan keras, akhirnya tak bisa menahan diri untuk ikut bercanda.
Fahri yang sudah mulai kesal karena percakapan yang berlarut-larut hanya bisa mendengus. "Dahlah, gua mau cepet nyampe rumah, malah debat sama lu jadi makin ngaret, kan!" katanya dengan nada jengkel.
Tanpa memberi waktu lebih lama untuk berdebat, Fahri kembali memutar gas motor, mempercepat lajunya agar segera sampai di apartemennya. Waktu terasa berlalu begitu lambat, meskipun motor melaju cepat. Jarak yang sangat jauh dari kediaman Bella, tempat yang baru saja ia kunjungi untuk meminta restu, membuat perjalanan ini terasa semakin menegangkan. Namun, di dalam hatinya Fahri tahu bahwa ia harus segera berada di rumah, mempersiapkan segalanya untuk masa depan bersama Bella yang sudah dipenuhi restu.
Fahri tiba di gedung apartemen dan segera memarkirkan motor Yamaha TMAX DX-nya di area parkir bawah tanah. Tanpa melepas helm, ia langsung menuju lift dan menekan tombol untuk menuju ke lantai tempat tinggalnya. Di belakangnya, Wiwit sibuk bermain game online dengan ponselnya, tampak asyik meski baru saja menghadapi perjalanan yang cukup mendebarkan.
Lift berhenti di lantai lima, dan Fahri berlari dengan tergesa-gesa menuju kamar apartemen bernomor 120. Ia merasa perlu segera memberitahukan keputusan Wilson yang baru saja dia terima beberapa menit lalu. Setibanya di depan pintu, ia mengeluarkan kartu akses dan membuka pintu dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Genç KurguMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
