Fahri menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya di taman pada hari libur. Mereka bersepeda bersama, bercanda, dan menikmati kebersamaan yang hangat. Setelah lelah, mereka duduk di bangku taman.
"Sebentar lagi puasa, ya," kata Danel memecah keheningan.
"Begitulah," jawab Ridho sambil menyandarkan tubuhnya ke bangku.
"Tapi tahun ini bakal jadi tahun yang menyenangkan buat Fahri," ujar Santo dengan senyuman kecil.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Ali penasaran.
"Karena tahun-tahun sebelumnya, Fahri selalu sahur dan buka puasa bergantian di rumah kita semua," Putra menjelaskan.
Fahri tertawa kecil. "Iya, soalnya kalau di rumahku dulu, nggak ada yang bangunin aku sahur. Ujung-ujungnya aku terlambat sahur."
"Eh, orangtua angkatmu nonmuslim, ya?" tanya Danel sambil mengernyit.
"Mereka muslim kok, cuma karena wajah mereka bule banget, banyak yang salah sangka," jawab Fahri sambil tersenyum.
"Aku dulu juga sempat ngira kalau lu nonmuslim," ujar Ali.
"Apalagi gue," Wiwit menambahkan.
Santo menatap Fahri sambil mengernyitkan dahi. "Tapi, Ri, kenapa muka lu beda banget sama orangtua lu? Kayak nggak ada mirip-miripnya."
Putra menyahut, "Iya, ini orangtua sama Rivaldo kan Sunda banget mukanya."
Fahri tertawa kecil. "Gue pernah nyari tahu soal itu, dan akhirnya nemu fakta mengejutkan."
"Fakta apa?" tanya Ridho penasaran.
"Kakek buyut gue itu mantan tentara Belanda yang pensiun dan nikah sama nenek buyut gue yang asli Bandung. Hampir semua keturunan mereka mirip nenek buyut gue, cuma gue yang mirip kakek buyut," Fahri menjelaskan.
"Wah, keren sih. Tapi kok bisa ya begitu?" Ridho terlihat bingung.
"Tapi bener, Ri. Kakek lu kan masih ada sisa-sisa wajah bule-nya. Matanya biru, kan?" ujar Putra.
Fahri mengangguk. "Iya, kakek gue bilang cuma gue yang bener-bener mirip kakek buyut."
"Lu beruntung sih," kata Putra sambil tersenyum.
"Pas kecil gua dikira anak cewek mulu, sumpah menyebalkan," keluh Wiwit sambil menghela napas panjang.
Fahri tertawa kecil. "Wajah lu emang kayak cewek sih, sumpah."
"Pasti ada cerita lucu di balik ini," ujar Santo sambil menatap Wiwit dengan penasaran.
Wiwit mengangguk kecil. "Iya, jadi gini... Ayah sama ibu gua dulu tuh ngarep banget anak cewek yang putih mulus bersih gitu. Pas ibu gua hamil, tiap hari minum air kelapa muda."
Santo langsung ngakak. "Air kelapa muda buat bikin anak cewek? Ini baru teori baru!"
"Tapi pas gua lahir, nyatanya... ya gini," Wiwit menunjuk dirinya sendiri sambil menahan senyum. "Bukan cewek. Malah gua keluar kayak gini, sumpah nyesek banget mereka."
"Lu kayak cerita sinetron, Wit," ucap Fahri sambil geleng-geleng kepala.
Wiwit menghela napas, wajahnya sedikit berubah serius. "Kadang gua merasa kayak anak yang nggak diharapkan gitu. Tapi ya, gua tahu sih, ayah sama ibu tetap sayang sama gua, meski mereka dulu kecewa."
Fahri menepuk bahu Wiwit sambil tersenyum hangat. "Wit, mereka sayang sama lu, kok. Jangan lebay deh. Lagian, nggak ada yang lebih keren dari Wiwit yang kita kenal sekarang."
Wiwit tersenyum kecil, merasa lebih baik mendengar kata-kata itu. "Iya sih, gua cuma bercanda kok. Lu tahu sendiri, gua ini anak kebanggaan keluarga, ya kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Fiksi RemajaMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
