Fahri hanya diam, namun di dalam hatinya ia merasa gugup karena harus bertemu dengan keluarga kandungnya. Angelo, yang paham dengan perasaan Fahri, mengelus rambutnya dengan lembut.
"Lupakan dulu soal itu. Sebentar lagi kan ujian kelulusanmu," ucap Angelo dengan senyum menenangkan.
"Daddy, aku mau digendong saja," ucap Fahri tiba-tiba.
"Baiklah, sini naik," jawab Angelo sambil berjongkok. Fahri langsung memanjat ke punggung Angelo dengan semangat.
"Kalau begitu, mau minta apa lagi, hmm?" tanya Angelo sambil tersenyum kecil.
"Weekend nanti kita jalan-jalan ke mal, yuk!" seru Fahri penuh harap.
"Tidak ada permintaan lain?" goda Angelo.
"Ada, Daddy," jawab Fahri sambil mengangguk.
"Apa itu? Sebutkan saja. Daddy akan kabulkan, walaupun permintaanmu aneh," ucap Angelo sambil tertawa kecil.
"Aku mau naik kereta api ke Cimahi," jawab Fahri polos.
"Kan kamu punya helikopter sendiri," balas Angelo.
"Bosaaaan. Selalu pakai helikopter. Aku mau kereta api saja," ucap Fahri sambil cemberut.
"Setelah ke Cimahi, mau ke mana lagi?" tanya Angelo.
"Ke... itu lho, Daddy!" jawab Fahri dengan mata berbinar.
"Sebutkan dong," desak Angelo, ingin tahu.
"Daddy sayang aku, kan?" tanya Fahri sambil menatap Angelo serius.
"Sayang dong! Kamu kan anak bungsu Daddy," jawab Angelo tanpa ragu.
"Kalau begitu, aku mau mainan," pinta Fahri dengan suara pelan.
"Mainan apa?" tanya Angelo, semakin penasaran.
"Lego yang banyak... sama... apa ya..." Fahri berpikir keras, membuat Angelo terkekeh.
Sejak kecil, Fahri jarang memiliki mainan karena orang tuanya dulu selalu menuntutnya untuk belajar tanpa henti. Angelo mengerti perasaan Fahri. Baginya, ini adalah momen untuk memenuhi kebutuhan Fahri yang dulu terabaikan.
Saat itu, Fahri melihat penjual gulali kapas di kejauhan. Matanya berbinar. Angelo menurunkan Fahri dari gendongan dan memberinya uang.
"Jangan beli terlalu banyak, nanti sakit gigi," pesan Angelo.
"Hehehe, iya, Daddy," tawa Fahri.
Fahri membeli gulali dan memakannya dengan riang. Sesekali ia menawarkan gulali itu ke Angelo, tapi dengan iseng, Fahri malah menempelkan gulali itu ke hidung Angelo.
"Hahaha, Daddy lucu sekali!" tawa Fahri.
"Nakal kamu ya!" seru Angelo sambil pura-pura marah.
"Kabur!" seru Fahri, lalu ia lari menghindari Angelo.
Angelo mengejar Fahri dengan canda tawa. Suasana mereka begitu hangat, hingga terdengar oleh orang-orang di sekitar. Rahmat dan Linda, orang tua kandung Fahri, melihat kejadian itu dari kejauhan.
"Hendra tidak pernah tertawa seperti itu di rumah," batin Rahmat.
"Hendra terlihat sangat bahagia," pikir Linda dengan mata berkaca-kaca.
Sepertinya, penyesalan mulai menghantui Rahmat dan Linda, orang tua kandung Fahri. Mereka menyadari kesalahan besar mereka karena telah membuang anak kandungnya sendiri.
Di sisi lain, Fahri yang penuh keceriaan berhenti sejenak. Ia berbalik dan langsung memeluk Angelo dengan erat, tanpa sedikit pun ragu.
"Kalian lama sekali! Ternyata malah main kejar-kejaran, ya?" ucap Angelina sambil tersenyum kecil, memperhatikan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Dla nastolatkówMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
