Rumah Sakit, Beberapa Jam Sebelumnya
Di sebuah rumah sakit, Azkia tengah dirawat secara intensif oleh tim dokter. Di luar ruang perawatan, Fahri dan sahabat-sahabatnya menunggu dengan sabar, meskipun suasana menjadi sedikit ramai karena canda dan obrolan di antara mereka.
"Lu yakin bawa tuh anak kecil ke rumah, Ri?" tanya Putra, menyilangkan tangan dengan raut wajah penuh keraguan.
"Kembalikan ke rumah dia sama aja ngasih dia ke mulut singa," jawab Fahri dengan nada serius.
"Emaknya lu nggak bakal marah?" Ridho menambahkan, mengangkat alis.
Fahri mengangkat bahu santai. "Mom gue itu beda sama yang dulu. Dia sekarang baik banget. Lagi pula, nggak ada alasan dia marah."
"Tumben emak lu bisa baik gitu? Nggak jadi singa galak lagi, hah?" ledek Santo sambil tertawa kecil.
"Udahlah, nggak usah bahas yang nggak penting," sela Ali, mencoba mengembalikan suasana.
Danel, yang sedari tadi diam, tiba-tiba bertanya, "Udah minta maaf ke bokap-nyokap lu?"
Fahri tersenyum kecut. "Iya, kemarin sore gue ke sana sama abang. Gue minta maaf, dan mereka cuma bukain pintu. Setelah itu gue pulang."
Danel mengangguk. "Yang penting lu udah minta maaf. Soal dimaafkan atau nggak, itu urusan mereka. Tanggung jawab lu udah selesai."
Fahri mengangguk setuju, meski matanya menunjukkan sedikit kesedihan.
---
Tak lama kemudian, Azkia keluar dari ruang perawatan. Wajah mungilnya terlihat lebih baik meskipun masih tampak lelah.
"Kak Fahri!" panggilnya dengan suara kecil.
Fahri tersenyum, menghampiri adiknya. "Tunggu sebentar ya, aku selesaikan administrasinya dulu."
Setelah semua urusan administrasi selesai, Fahri kembali ke rombongan teman-temannya.
"Kalian mau pulang ke kandang masing-masing silahkan saja," ujar Fahri santai.
"Lu kandang kucing!" teriak Ridho sambil tertawa.
"Anak kucing malahan meong," lanjut Ridho dengan gaya konyol.
"Kok anak kucing sih?" Fahri bingung, nggak ngerti maksudnya.
"Lengket banget sama mami-nya, tuh!" ucap Ridho sambil menunjuk Fahri, mengolok-olok dengan ekspresi dramatis.
"Gemoy-nya mommy Angela!" tambah Ridho dengan mimik wajah yang dibuat sok imut.
"Biarin!" jawab Fahri sambil merajuk, meskipun jelas dia malu.
"Udahlah, kalian ini, wajar lah kalau Fahri sekarang manja sama orang tuanya. Sebelumnya kan nggak pernah ngerasain yang kayak gitu," ujar Danel, mencoba menenangkan keadaan.
"Bestfriend gua nih," Fahri tersenyum puas, bangga dengan teman yang mendukungnya.
"Ada maunya lu ya?" Danel langsung menduga, mendekat dengan tatapan curiga.
"Jangan suuzon, nggak baik," Fahri membela diri, sambil pura-pura serius.
"Wajahmu mencurigakan, Ri. Mirip pedofil aja," sindir Wiwit, sambil memandang Fahri dengan tatapan menggoda.
"Kagak, oi! Gue cuma nolong aja!" Fahri buru-buru membela diri, wajahnya merah padam.
"Kalau Ita nggak masuk, berarti dia masih dikurung abangnya," Putra berkata sambil serius, matanya tajam.
"Lu jangan bolos, Fahri," Danel mengingatkan dengan nada serius.
"Kagak, lah, walaupun mau sih," jawab Fahri dengan santai, senyum nakalnya semakin lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Teen FictionMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
