42 (jahilin ujang)

612 53 22
                                        

Fahri tersenyum tipis melihat ekspresi terkejut yang masih terpancar dari wajah semua orang di sekitarnya. Dia bisa merasakan ketegangan yang terhangat di udara, namun rasa lelah sudah lebih kuat menguasai dirinya.

"Begini, aku akan menyelesaikan semuanya," ucap Fahri dengan tenang, meski ada ketegasan di balik setiap kata yang diucapkannya.

"Apa maksudmu menyelesaikan semuanya?!" tanya Rahmat dengan nada kesal, jelas bingung dengan sikap Fahri yang tampaknya sudah tidak peduli lagi.

Fahri menghela napas pelan, kemudian tersenyum dengan lembut. "Sudah beberapa bulan aku tidak mendengar suara bernada tinggi itu," katanya, mencoba tetap tenang.

"Aku sudah mulai melupakan segalanya dan membangun kembali rasa kepercayaan diriku secara perlahan-lahan," tambahnya, matanya menatap kosong ke arah kedua orangtuanya.

"Apa maksud kalian datang ke hadapanku lagi?" Tanya Fahri dengan bingung, seolah mempertanyakan niat dari kedua orang yang berdiri di depannya.

"Panggil mama dan papa seperti biasa, Nak," kata Linda, mencoba mendekat ke arah Fahri dengan harapan bisa menyentuh hatinya.

Namun, Fahri mundur dengan tegas. Rasa sakit tiba-tiba menghantam hatinya. Melihat ibunya, sesuatu yang dulu begitu akrab, sekarang terasa asing. Fahri menggigit bibir bawahnya, menahan emosi yang datang begitu kuat.

"Aku memang memiliki hubungan darah dengan kalian semua, tapi secara hukum... tidak ada lagi," kata Fahri dengan suara yang semakin datar dan penuh keteguhan.

"Aku hanya ingin mengatakan bahwa beberapa bulan ke depan, setelah kelulusan sekolah, aku akan benar-benar pergi dari Indonesia," Fahri melanjutkan, matanya tidak lagi melihat kedua orangtuanya.

"Dan soal kemungkinan aku kembali ke Indonesia... sangatlah kecil," ucap Fahri dengan penuh keyakinan.

"Aku akan berbakti kepada kalian berdua dengan cara mengirimkan uang bulanan setelah aku bekerja nanti," lanjutnya.

Linda tampak terkejut dan terharu, namun segera menjawab, "Tapi kami tidak membutuhkan uangmu, Nak." Dia berusaha mendekat untuk memeluk Fahri, tetapi Fahri menghindar.

"Kan sejak awal, aku dan Rivaldo hanya mesin uang untuk kalian berdua," Fahri berkata dengan nada yang lebih keras.

"Kumohon, jangan libatkan aku dalam apapun lagi. Jika kalian membutuhkan sesuatu, katakan saja kepada ayahku, Angelo Yanuar. Dia orang yang sangat baik," tegas Fahri.

"Aku tidak pernah menyalahkan kalian soal cara mendidikku. Tapi bagiku, itu terlalu keras. Mungkin karena mentalku yang lemah," ucap Fahri dengan jujur, suaranya mulai sedikit bergetar.

"Maafkan aku telah durhaka pada kalian berdua. Izinkan aku bahagia saat ini. Karena nanti, saat kalian tua, aku akan tetap menjaga kalian dengan sepenuh hati," tambah Fahri, suaranya semakin lemah, namun masih tegas.

"Daddy dan mommy selalu bilang, seburuk apapun orang yang membesarkanku, tetap saja mereka adalah orangtuaku," Fahri berkata dengan penuh pengertian.

"Ucapanmu semakin lama semakin tidak sopan, Hendra!" bentak Rivaldo, kesal dengan kata-kata Fahri.

"Tutur kataku terbentuk dengan sendirinya. Setiap hari selalu dicaci maki dengan kata-kata kotor, jadi bukan salahku juga kalau aku bersikap seperti ini," jawab Fahri santai, meski dalam hati ada rasa sakit yang dalam.

Dengan cepat, Rivaldo melayangkan pukulan ke wajah Fahri, namun dengan gesit Fahri menahannya. Tanpa ragu, Fahri membalas pukulan tersebut hingga Rivaldo terjatuh ke tanah.

"Aku permisi kalau begitu," kata Fahri, dengan nada yang datar dan penuh kepahitan.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Fahri sebelum berbalik, meninggalkan mereka semua.

Fahri (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang