Setelah selesai shalat, Fahri membuka matanya dan melihat semua orang yang menyayanginya tersenyum kepadanya. Dengan penuh semangat, ia mengucapkan, "Assalamualaikum warahmatullahi semuanya!"
"Waalaikum salam, Fahri," jawab semua yang ada di ruangan dengan senang.
Mereka semua langsung memeluk Fahri dengan erat, membuatnya merasa hangat dan penuh kasih sayang. Fahri terkekeh geli karena pelukan yang begitu banyak dan erat. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya melepaskan pelukannya, dan Fahri tersenyum lebar, merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Abang sudah menghajar orang yang telah membuatmu seperti ini," ucap Roy, memecah kebisuan.
"Dapat bukti darimana, Roy?" tanya Angelo, penasaran.
"Aku punya buktinya," jawab Nadira, datang bersama Atika dan Ita. Semua orang terkejut dengan kedatangan mereka.
Angelo menerima kamera dari Nadira dengan tangan gemetar. Ia melihat rekaman yang dihadirkan, dimana Fahri nampak dihajar dengan brutal dan bahkan terlihat luka tusukan di dadanya. Anggota keluarga dan teman-temannya yang ada disitu terkejut, mata mereka terbuka lebar saat melihat bukti itu.
"Ck.... bocah itu ternyata!" kata Angelo, kesal melihat kejadian tersebut. Wajahnya menunjukan kekesalan yang mendalam.
"Om, ini sudah termasuk tindak kejahatan! Kita harus bawa ini ke jalur hukum," ujar Putra dengan nada serius, tidak menerima perlakuan yang diterima Fahri.
Santo yang biasanya ceria, kini tampak serius. "Benar, om, dia harus diberi pelajaran atas apa yang dia lakukan!"
Namun, Fahri memotong pembicaraan. "Daddy, tidak perlu melaporkan hal ini," ucapnya dengan suara tenang, mencoba menenangkan suasana yang mulai memanas.
"Apaan maksudnya gak perlu? Dia hampir membunuhmu, Fahri!" protes Angelo, masih kecil. "Kita harus melaporkan ini ke polisi. Itu bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja!"
Fahri menarik nafas panjang, mengatur kata-katanya dengan hati-hati. "Buktinya aku baik-baik saja, kan? Aku gak mau hubungan keluargaku dengan mereka semakin merenggang. Memang, aku sakit hati dengan perlakuan mereka, tapi aku lebih memilih biarkan Allah yang membalasnya."
Semua terdiam sejenak. Fahri terus melanjutkan. "Lebaran tahun ini, aku ingin semuanya baik-baik saja. Tidak ada konflik lagi."
Angelo meskipun tidak puas, akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, ini karena permintaanmu. Tapi kalau bukan karena kamu, aku sudah tarik anak itu ke penjara!" ucap Angelo tegas, namun penuh kasih sayang kepada anaknya.
Putra, yang tak bisa menahan keinginan untuk mengungkapkan pendapatnya, berkata. "Kalau kita punya bukti begini, dia gak akan berani macam-macam lagi sama kita."
"Benar, mau melaporkan kita berdua ke polisi? Cukup serahkan bukti ini saja," ujar Roy dengan nada setuju.
Fahri memegang tangannya, memberi tanda agar tidak melanjutkan pembicaraan tersebut. "Sudahlah, aku malas membahas hal itu. Mending kita bicara topik lain saja," ujar Fahri dengan ringan, berusaha mengalihkan perhatian mereka.
Suasana seketika mencair meskipun masih ada ketegangan. Semua kembali berusaha untuk melanjutkan obrolan dengan lebih santai, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka tetap menjaga keharmonisan keluarga dan persahabatan yang ada.
"Kondisi lu bagaimana, Al?" tanya Nadira.
"Sudah membaik kok," jawab Fahri.
"Nanti setelah buka puasa, teman-teman sekelas bakal kesini buat menjenguk," kata Atika.
"Tapi Fahri kelihatannya baik-baik aja ya?" tanya Ita dengan heran.
"Dia emang gitu, gak mau nunjukin rasa sakitnya di depan orang," jawab Danel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Fiksi RemajaMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
