Fahri sedang mencari baju koko miliknya, namun setelah sekian lama mencari, ia tak juga menemukannya. Rasa kesal mulai muncul, tapi ia tahan karena sedang menjalankan ibadah puasa.
"Gemoy!" panggil Angelina dari arah pintu kamar.
Fahri menoleh, dan senyumnya langsung merekah melihat Angelina datang membawa baju koko miliknya.
"Sini, Mom, baju kokonya. Aku yang ganteng ini sudah siap tampan maksimal," ucap Fahri penuh percaya diri.
Angelina hanya tersenyum kecil sebelum menyerahkan baju koko tersebut kepada Fahri. Ia melihat Fahri mengatur rambutnya dengan penuh semangat di depan cermin.
"Aku mau jumatan dulu ya, Mom. Jangan kangen, tenang aja. Nanti aku pulang bawa kotak amal yang banyak biar bisa beli baju baru," ucap Fahri dengan nada bercanda.
Angelina mendadak menjewer telinganya.
"Sakit, Mom! Aduh!" pekik Fahri sambil mengusap telinganya.
"Tidak boleh bercanda soal mencuri. Nanti di akhirat, tangannya bisa dipotong kalau benar-benar mencuri," nasihat Angelina tegas.
"Astaghfirullah, bercanda, Mom. Masa iya aku sampai begitu," balas Fahri sambil nyengir.
Angelina melepaskan jewerannya, tapi matanya memperhatikan telinga Fahri yang memerah.
"Kamu ini putih sekali sih, Gemoy. Baru dijewer sebentar sudah merah begitu," ucap Angelina sambil terkekeh.
"Yah, bawaan lahir, Mom. Ganteng dan sensitif," balas Fahri dengan bangga.
Angelina menghela napas sambil tersenyum. "Ya sudah, sana pergi jumatan. Jangan terlambat."
"Siap, Mom!" sahut Fahri sambil mengambil posisi hormat.
Ia kemudian mencium tangan kanan Angelina dengan penuh kasih sayang. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mommy. Anakmu yang paling ganteng ini mau pergi jumatan!" serunya sebelum berlari keluar rumah.
Angelina hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil. "Dasar narsis sekali anak ini," gumamnya sambil kembali ke dapur.
Fahri terus berjalan menuju masjid, tetapi di sepanjang jalan, ia tidak lupa menyapa setiap orang yang ia temui dengan senyuman ramah. Setiap sapaan dari Fahri membuat orang yang ditemuinya ikut tersenyum, menciptakan suasana hangat di sekitar mereka.
"Bagaimana kabarnya, Bu Rina?" tanya Fahri dengan penuh semangat.
"Owalah, Fahri! Ternyata kamu, toh! Kukira siapa tadi," jawab Rina dengan terkejut tapi senang.
"Hehehe," Fahri tertawa ringan, merasa senang bisa berjumpa.
"Eh, kemarin katanya mas Roy bilang kamu masuk rumah sakit karena dibegal pas beli es cendol, ya? Itu beneran?" tanya Rina dengan prihatin.
"Bisa dibilang begitu," jawab Fahri, sambil mengingat kejadian tersebut.
"Untung kamu selamat, lho! Kemarin saya nonton berita, yang kena begal malah ada yang sampai mati," kata Rina dengan nada khawatir.
"Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya," jawab Fahri dengan senyum syukur.
"Saya pamit dulu ya, Fahri. Mau jumatan, waktu dzuhur sebentar lagi," ucap Rina, sambil menyiapkan diri untuk berangkat.
Fahri dengan hormat mencium tangan kanan Bu Rina dan melanjutkan perjalanannya ke masjid. Saat Rina melihat Fahri berjalan pergi, ia tersenyum dan berbisik, "Mantu idaman ya Fahri."
Fahri berlari cepat melihat Rizky, teman sekelasnya, yang sedang berjalan di dekat masjid. Kebetulan, rumah Rizky juga tidak jauh dari sana.
"Oi!" Fahri memanggil, menyapa Rizky yang sedang melangkah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fahri (END)
Ficção AdolescenteMahendra Sabil Al Fahri, seorang cowok yang selalu terlihat ceria dan penuh canda tawa di depan semua orang. Namun, di balik senyumnya yang menawan, ia menyimpan luka mendalam akibat perlakuan tak adil dari kedua orangtuanya. Topeng keceriaan yang i...
